Polisi : Pelaku Pembantaian Ratusan Buaya di Sorong Bisa Diancam Hukum Pidana

Warga Kel. Klamalu, Distrik Mariat, Kab. Sorong, Papua Barat, Sabtu (14/7) menyaksikan 292 ekor buaya yang mereka bantai di penangkaran buaya mili swasta, setelah seekor diantaranya menerkam hingga tewas seorang warga, Sugito (48)

SORONG – Jajaran Polda Papua Barat memburu pelaku pembantaian ratusan buaya  yang dilakukan oleh warga SP 1, Aimas, Kabupaten Sorong, Sabtu (14/7/2018).

Penyelidikan dilakukan terhadap kasus pembantaian ratusan buaya tersebut karena itu ada kaitanya dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Direktur Reserse Dan Kriminal Khusus Polda Papua Barat, Komisari Besar Polisi (Kombes Pol) Budi Santoso mengatakan  pelaku penganiayaan hewan bisa diancam hukuman pidana dengan Pasal 302 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Namun seiring dengan perkembangan globalisasi dan teknologi, pemerintah telah menerapkan berbagai regulasi untuk menjerat para pelaku yang melakukan pebantaian satwa yang dilindungi, seperti burung Cenderawasih dan hewan lainnya.

“Sekarang berdasarkan kebijakan pemerintah daerah dalam hal ini, Gubernur Papua Barat, telah meminta agar jangan lagi ada kegiatan-kegiatan sosial yang menggunakan burung Cenderawsaih yang asli,” ujarnya.

Jika dilihat dari kasus ini, kata Budi, sebagaimana dikutip Sindo, perusahaan PT Mitra Lestari Abadi yang melakukan penangkaran ratusan buaya tersebut telah mengantongi izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam, (BKSDA) dan pemerintah setempat.

“Tapi ada pertanyaan kenapa penangkaran buaya itu berada di tempat pemukiman warga? Kita tidak tahu zaman dulunya, apakah betul lokasi itu merupakan pemukiman warga atau khusus untuk penangkaran saja. Yang jelas keberadaan ratusan buaya ini ada izinnya,” terangnya.

Lanjut Budi, dalam kejadian ini ada dua kasus yang muncul, dimana dibalik kasus pembantaian ratusan buaya ini, dipicu ada seorang warga atas nama Sugito (48) masuk di lokasi penangkaran untuk memotong rumput. Pertanyaannya, apakah di lingkungan penangkaran tersebut dikelilingi pagar, pemasangan rambu-rambu peringatan, adan atau ada penjangganya atau tidak sehingga polisi masih mendalaminya.

“Kesalahan itu bisa saja ada pada pemilik penangkaran buaya karena kelalaian, atau karena penjaganya tidak ada sehingga ada warga masyarakat bisa masuk ke lokasi penangkaran dan diterkam buya. Itulah yang sedang kita dalami,” terangnya.