Politisi Berlagak Petani

Mana ada petani tanam padi pakai sepatu boot? Dewi Sri dewa kepadian pun akan tertawa berguling-guling.

PETANI  tradisional adalah profesi yang kebanyakan ditekuni karena kepepet. Soalnya, ini pekerjaan yang bikin capek harus berkotor-kotor lumpur pula sementara nilai uangnya (penghasilan) juga kecil. Beda dengan politisi di Senayan, kerjanya ringan tapi duitnya banyak. Dan inilah keanehan di era milenial sekarang. Yang petani kepengin tinggalkan sawah untuk jadi politisi, sementara yang politisi elit malah kepengin jadi petani, meski itu hanya sekedar sandiwara untuk membujuk rakyat.

Jenis pekerjaan tani sebetulnya macam-macam, tapi yang mendominasi kalangan rakyat jelata adalah petani yang memproduksi beras, dari mencangkul,menanam, panen, sampai mencangkul kembali. Ini pekerjaan yang melelahkan. Saat mencangkul misalnya, tenaga harus kuat, maka tukang macul makannya juga banyak. Hanya petani kaya yang sawahnya berbahu-bahu mampu nggaru-mluku  (membajak) dengan kerbau atau sapi miliknya. Ketika kini ada traktor sawah, petani kaya menggunakannya. Ada merk Quick, ada Kubota, yang katanya akronim:  kula bocah tani.

Petani miskin adalah mereka yang sekedar jadi buruhnya petani kaya. Mereka  tak punya sawah sendiri, untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dia menjual tenaganya pada petani kaya. Ke sawah dua kali, pagi puku 06:00 sampai pukul 08.00 dan sore pukul 13:00 sampai 15:00. Tapi ketika tiba musim tandur (tanam), tak ada jam kerja yang baku. Mereka tetap kerja sampai benih-benih selesai ditanam oleh para embok-embok sebagai buruh tandur.

Petani kaya dalam arti punya sawah beberapa hektar, mampu menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi dan kemudian ada yang menjadi pejabat. Tapi yang petani buruh, kebanyakan tak mampu menyekolahkan anak tinggi-tinggi. Akhirnya keturunannya pun terpaksa kembali meneruskan profesi ayahnya, jadi petani. Ada yang meningkat jadi pemilik sawah, banyak pula yang tetap jadi buruh tani. Walhasil, yang mau jadi petani adalah generasi yang berpendidikan rendah. Sedangkan yang punya sedikit kemampuan, baru tamat SMA langsung kabur ke kota. Jadi buruh pabrik pun oke, ketimbang jadi petani miskin yang selalu berkutat dengan lumpur.

Demikianlah, petani kaya maupun yang miskin, tak menginginkan anak-anaknya jadi generasi penerus sebagai petani. Maunya jadi pejabat kantoran atau politisi di kedewanan baik di DPRD maupun DPR pusat. Para orangtua tak ingin anak-anaknya menderita seperti orangtuanya dulu. Mereka tahu pajabat dan politisi hidup glamour sebab ketika pulang kampung pada suka memamerkan keberhasilannya di kota. Di mata orang-orang tua di pedesaan, orang sukses itu selain jadi pengusaha ya jadilah pejabat dan politisi.

Tapi di era gombalisasi sekarang ini kondisinya terbalik-balik. Sementara petani kepengin anaknya jadi pejabat dan politisi, yang sudah mapan jadi politisi sekaligus pejabat justru kepengin jadi petani. Tetapi itu sekedar sandiwara entah berapa babak. Itu hanyalah cara mendekati rakyat agar kelak mau memilih dirinya dalam kontes demokrasi.

Taruhlah seorang Puan Maharani Ketua DPR, yang sedari kecil tak pernah nginjek lumpur di persawahan, mendadak sok akrab dengan petani. Rela berhujan-hujanan menanam padi bersama embok-embok petani buruh tandur di Sleman, DI Yogyakarta. Ini sama persis dengan gaya Mbak Tutut ketika bikin partai Karya Peduli Bangsa tahun 2004 lalu. Beliaunya ikut turun ke sawah, tapi dia jalan pada papan di atas lumpur.

Kenapa Puan Maharani melakukan hal itu baru sekarang ketika hendak menatap Pilpres 2024? Apa  karena tebaran baliho dengan kepak sayap kebinekaanya tak ngefek di hati rakyat? Kenapa bukan sejak menjadi anggota DPR, sehingga ketika dia berlumpur-lumpur bersama petani Dapilnya akan dianggap wajar saja.

Semua tahulah, itu sekedar cara berpura-pura mendekati rakyat dengan harapan nantinya para petani mau memilih dirinya.  Jumlah petani di Indonesia memang masih banyak, meski tinggal 33,4 juta orang menurut data Kementrian Pertanian tahun 2020 lalu. Tapi akting sinetronnya kentara sekali. Mana ada petani mau tanam padi  saat hujan lebat, bisa disambar petir karena bukan anak cucu Kiageng Selo. Mana ada petani ke sawah pakai sepatu boot. Petani beneran pastilah turun ke lumpur dengan kaki telanjang. Melihat gaya Puan Maharani menjadi petani cabe-cabean, Dewi Sri pun tertawa sampai berguling-guling karenanya. (Cantrik Metaram).

Advertisement