Potensi Kekeringan di NTT Meluas jadi 32 Wilayah

KUPANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kupang mengatakan potensi kekeringan yang melanda wilayah-wilayah di provinsi berbasis kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai meluas.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru mengatakan wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan di NTT saat ini meluas dari sebelumnya 13 wilayah menjadi 32 wilayah, yang tersebar di sembilan kabupaten.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, ada 13 wilayah yang tersebar di enam kabupaten yang berpotensi mengalami kekeringan.

Berdasarkan monitoring hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) dasarian I Juli 2019, Provinsi NTT, pada umumnya mengalami hari tanpa hujan dengan kategori panjang (21-30 hari) hingga kategori kekeringan ekstrem (>60 hari).

Wilayah-wilayah yang masuk kategori kekeringan ekstrem itu adalah sekitar Danga di Kabupaten Nagekeo, sekitar Nanganio di Kabupaten Ende.

Wilayah sekitar Magepanda dan Waigate di Kabupaten Sikka, sekitar Konga di Kabupaten Flores Timur, sekitar Lewoleba, Wairiang, Waipukang dan Wulandoni di Kabupaten Lembata.

Wilayah lain adalah sekitar Melolo, Temu/Kanatang, Lambanapu, Rambangaru, dan Kamanggih di Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sabu Raijua di wilayah sekitar Daieko, Kabupaten Rote Ndao di sekitar wilayah Papela dan Busalangga.

Wilayah sekitar Stamet El Tari, Sikumana, Bakunase, Oepoi dan Mapoli) di Kota Kupang, wilayah sektar Oekabiti, Lelogama, Oenesu, Oelnasi dan Sulamu di Kabupaten Kupang, serta sekitar Atambua, Fatubenao, Fatukmetan, Wedomu dan Haekesak di Kabupaten Belu.

 

Advertisement