Prabowo Bicara Singkong?

Singkong makanan rakyat kecil. Prabowo pernahkah menikmatinya?

SUNGGUH janggal rasanya, seorang Menteri Pertahanan, tiba-tiba Prabowo Subianto bicara masalah persingkongan. Katanya, singkong atau kue sumbu bisa menjawab tantangan pangan dunia setelah krisis gandum. Katanya singkong bisa menjadi makanan olahan macam-macam. Masalahnya, Prabowo sendiri yang sedari kecil tak pernah hidup susah, apa masih kenal dan doyan singkong?

Singkong memang makanan identik dengan wong cilik, yang tak mampu beli beras untuk makan sehari-hari. Sebelum tahun 1960, ada sejumlah cerita memilukan tentang orang miskin sekeluarga tewas gara-gara keliru makan singkong beracun atau tela racun. Di daerah Purworejo pasca jaman Jepang, tahun 1948 sekeluarga dari Desa Susuk Kecamatan Ngombol, terdiri dari suami, anak-anaknya mati keracunan singkong. Istri yang dalam kondisi hamil selamat karena tidak ikut makan. Tapi ketika bayi lahir perempuan diberi nama Yatin, dan karena kecantikannya di masa gadis, disebutnya Yatin Susuk.

Berbicara dalam Global Food Security Forum atau Forum Keamanan Pangan Dunia di Nusa Dua Bali, Menhan Prabowo mengatakan bahwa singkong bisa menjadi solusi kelangkaan pangan karena terjadi krisis gandum di dunia. Bekas mantu Cendana dan Danjen Kopasus itu bilang, anak bangsa di Tanah Air sudah mampu memproduksi singkong menjadi berbagai produk makanan siap saji, dari pasta sampai menjadi mie instan.

Itu sih cerita lama. Singkong memang bisa diolah menjadi makanan aneka warna, sepanjang ditangani oleh ahlinya ahli persingkongan. Paling gampang, asal rambak atau kulitnya warna merah, direbus pasti mempur. Digoreng juga enak, dibakar dalam perapian ketika di luar hujan sepanjang hari, lezatnya juga luar biasa. Ibarat kata mertua lewat pun takkan ditawarinya.

Di Solo singkong gorang disebut blanggreng, di Yogya istilahnya balok, ini juga disukai para seniman musik yang paham atau tidak not balok. Bila dipotong kecil-kecil dan digoreng dengan bumbu khusus namanya menjadi balung kuwuk. Ketika singkong diparut dan direbus dalam bungkusan daun pisang namanya jadi lemet.

Dibuat tape atau peuyem kata orang Bandung, juga lezat. Ketika dalam kondisi mentah lalu diawetkan dengan cara dijemur, namanya menjadi gaplek. Tahun 1970-an ke belakang masih menjadi makanan pokok di daerah Gunung Kidul. Ketika diglepung (dibuat tepung) dan dimasak menjadi thiwul. Tapi usia 60 tahun kaum lelaki masih main perempuan, menjadi pantun jenaka yang narasinya: gaplek nang krikilan, wis tuwek kok pethakilan (baca: genit).

Gaplek yang direndam dan kemudian dimasak, namanya menjadi gatot, wujudnya menjadi hitam-putih butek, baunya agak apek. Tapi ketika direbus dan diurap dengan kelapa, rasanya lezat juga. Oleh banyak orang Jawa, gatot menjadi sebuah nama. Dan banyak orang terkenal pakai nama gatot, misalnya: Gatot Subroto jendral TNI, Gatot Nurmantyo Panglima TNI, Gatot Amrih SH orang Magelang yang jadi Gubernur Kalteng (1984-1989) dan Gatot Sunyoto artis dengan boneka Tongkinya.

Tapi seiring dengan  kemajuan ekonomi anak bangsa, gaplek dengan thiwul sebagai turunannya, hanyalah menjadi makanan slundhingan atau selingan saja, tamba kangen di masa kecil yang masih serba sulit. Dewasa ini anak-anak sekarang tidak lagi mengenalnya, karena mereka lebih akrab dengan hamburger dan pizza.

Prabowo sendiri diragukan kenal singkong, apa lagi menjadi anak singkong. Sebab sejak kecil tak pernah susah, karena hidupnya di luar negeri. Ayahnya begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusuma, beberapa kali jadi menteri  sejak era Bung Karno hingga Pak Harto. Di awal-awal kemerdekaan beliaunya menjadi delegasi Indonesia dalam sidang PBB.

Semoga dugaan ini salah, artinya Prabowo benar-benar juga pernah makan kue sumbu dengan segala menu turunannya. Yang jelas, ketika Menhan Prabowo mempromosikan singkong di forum luar negeri, kenapa Indonesia masih impor singkong? Padahal produksi singkong dalam negeri melimpah ruah, bahkan di setiap wong ndesa pasti menanamnya di pekarangan miliknya. Ini sebetulnya yang butuh importirnya, atau memang kekurangan bahan baku?

Tapi menurut data di Kementrian Pertanian, sampai tahun 2020 RI memang rajin jadi pengimpor singkong. Sampai September tahun tersebut, Indonesia telah mengimpor singkong sebanyak 136 ribu ton dengan nilai setara 58 juta dolar AS. Singkong tersebut akan diubah menjadi produk olahan berupa tepung tapioca, bukar sekedar untuk bikin lemet atau blanggreng. (Cantrik Metaram)

 

Advertisement