SAMPAI hari ini jumlah korban tewas gempa Cianjur tercatat 321 orang, dan bantuan pun mengalir dari berbagai penjuru, tak pandang agama, partai dan suku. Aneka macamlah orang menyikapi musibah ini, ada yang coba-coba jadi preman, malah musibah dianggap wisata halal. Dan ketika sekarang semua orang bisa jadi wartawan lewat medsos, banyak orang komentar aneh-aneh, tak peduli itu SARA atau bukan.
Sudah menjadi naluri setiap orang, selalu ingin tahu atau lebih tahu dari peristiwa yang baru saja terjadi. Maka ketika terjadi gempa Cianjur pada Senin siang 21 Nopember lalu, publik tak puas hanya mendengar lewat radio, melihat lewat koran dan TV. Banyak yang dengan kendaraan pribadi langsung menuju ke daerah Cianjur, ke lokasi gempa. Bukan untuk nyumbang, tapi sekedar nonton meski itu tak pernah disuruh oleh Menyeri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno.
Jika hanya satu dua orang saja tidak masalah, tapi bermobil-mobil, sehingga kedatangan mereka bikin macet jalan. Hal ini tentu sangat mengganggu petugas evakuasi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Oleh karenanya Kepala BNPB Letjen Suharyanto mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan lokasi gempa menjadi tontonan seakan daerah wisata.
Kalaupun mau menyumbang silakan, tapi hendaknya melalui Posko yang sudah disiapkan, jangan langsung ke rumah-rumah penduduk. Karena itu polisi diminta bertindak tegas untuk menghalau mereka. “Jadi ini juga diimbau mohon rekan-rekan media sampaikan, jangan sampai kegiatan-kegiatan itu mengganggu proses penanganan masyarakat terdampak,” ujarnya.
Wartawan berdatangan ke lokasi bencana memang sudah menjadi tugasnya. Tapi kini, gara-gara HP canggih semua orang berlagak jadi wartawan. Tanpa memikirkan dampaknya, rekaman video lama yang sama sekali tak ada  kaitannya dengan gempa Cianjur, diunggahnya ke medsos. Akibatnya masyarakat terkecoh, kejadian lama dianggapnya sebagai peristiwa yang sedang terjadi di Cianjur.
Jika wartawan menurunkan berita ada rasa tanggungjawabnya, ada seleksinya, karena memikirkan dampaknya bagi publik. Tapi para pemilik HP ini ketika menurunkan tulisan atau komentar lewat twitter, banyak yanga asal njeplak. Misalnya ada yang ngetwet, “Terlalu lebay sihh, tiap jalan banyak orang minta donasi buat Cianjur. Terlalu manja masyarakat Cianjur mah yang dipikirin sumbangan terus. Tidak Mandiri,” tulis akun @Incess Amoy.
Dari nama pemilik akun saja aneh, apa tak ada nama lain? Incess kan artinya hubungan seks dengan saudara kandung. Lalu Amoy, …..ah sudahlah, nanti malah terjebak urusan SARA. Yang jelas, pemilik akun ini habis dibully para warganet karena menandakan bahwa dia sama sekali tak punya rasa empaty pada mereka yang sedang berduka ditimpa bencana.
Bagaimana mungkin korban gempa dianggap lebay karena mengharapan sumbangan dan tak bisa mandiri. Dalam kondisi darurat semacam itu, di mana sarana dan prasarana hancur, kegiatan ekonomi juga terhenti, bagaimana mau mengandalkan kemampuan diri sendiri? Mikir, atau……pemilik akun memang tak punya pikiran?
Komen Incess Amoy memang berkaitan dengan adanya orang-orang yang mencegat mobil bantuan, memaksa sumbangan itu diturunkan di sini saja. Jika tidak, silakan balik kembali. Tentu saja para penyumbang memilih memundurkan mobilnya, balik arah mencari jalan lain. Tak diketahui pasti, mereka ini korban gempa atau sekedar preman kampung yang cari kesempatan dalam kesempitan.
Menurut pihak BNPB, korban tewas perhari ini sudah mencapai 321 orang, sementara yang masih hilang atau belum ditemukan sebanyak 11 orang. Dan bantuan berujud uang juga mengalir dari berbagai sumber, baik perusahaan, perorangan maupun lembaga. Menurut Pemkab Cianjur sampai Sabtu 26 November kemarin mencapai Rp 2,5 miliar dari 383 transaksi. Sebetulnya itu masih terlalu kecil. Tapi jika penyumbang bilang, “jangan dilihat nominalnya tapi inilah wujud empati kami” pihak yang disumbang mau bilang apa?
Yang patut disayangkan, ada pihak yang mengail di air keruh. Ketika ada tenda pos bantuan dari kelompok gereja, tiba-tiba ada yang menyobek logo dari gereja tersebut. Picik amat ini orang. Urusan bantu membatu korban bencana, tak boleh memandang siapa yang membantu dan siapa pula yang dibantu. Toh gempa itu juga tak pernah pilih-pilih, mana nih bangunan yang orang Islam, mana pula yang milik orang Kristen. Semua kena. Maka mantan Ketum PBNU KH. Said Aqil Siraj bilang, “Mereka belum dewasa.”
Presiden Jokowi saat meninjau korban gempa di tenda pengungsian Taman Prawatasari mengatakan, Pemerintah sudah menyiapkan bantuan renovasi rumah penduduk. Yang rusak parah menerima Rp 50 juta, yang sedang Rp 25 juta, dan yang rusak ringan Rp 10 juta. “Nanti membangunnya setelah gempa tenang, ya….” Kata Presiden.
Ini mengingatkan pada korban gempa Yogyakarta Mei 2006. Ada sorang warga dari Kec. Ngombol Kabupaten Purworejo, sedang membangun rumah tak kunjung jadi karena keterbatasan dana. Ketika rumahya juga retak-retak terkena getaran gempa Yogyakarta, oleh pemerintah dapat bantuan Rp 20 juta. Alhamdulillah, gara-gara terdampak gempa, rumah yang tadinya tak kunjung jadi, kini rumah itu bisa diselesaikan dan tampak mentereng. Mungkin pemiliknya dalam hati bertanya, “Kapan ada gempa lagi ya, itu teras depan belum dibikin.” (Cantrik Metaram)





