
PRESIDEN Prabowo Subianto akan mempertimbangkan dan siap mengevaluasi keanggotaan RI di Dewan Perdamaian (Board of Peace – BoP) pasca serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran sejak Sabtu lalu(28/2).
Prabowo mengemukakan hal itu saat bertemu dengan para mantan presiden dan wakil presiden, mantan menlu, ketua umum parpol, hingga menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3).
“Iya (Presiden menyatakan siap mengevaluasi-red), melihat perkembangan-perkembangan terakhir ini, memang harus dievaluasi,” kata mantan Menlu Hassan Wirajuda usai pertemuan selama 3,5 jam itu, Selasa malam.
Hassan menuturkan, serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran yang merupakan anggota BoP berpotensi melemahkan mandat BoP yang telah disusun.
“Kami bahas (BoP), tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir apakah perang yang berkecamuk di Iran ini akan melemahkan, posisi dan mandat BoP? Kita akan berhitung lagi dari sisi itu,” ucap dia.
Padahal, BoP dibentuk untuk menciptakan dan membangun perdamaian di kawasan. Misinya ditujukan untuk melancarkan gencatan senjata (ceasefire), memudahkan akses bantuan kemanusiaan, serta melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Perlu dipertimbangkan lagi
Ia tidak memungkiri, Indonesia memang perlu berhitung kembali atas keanggotaan BoP, termasuk rencana mengirim 8.000 tentara yang tergabung dalam ISF ke Palestina.
“Bisa potensi keberhasilannya berkurang. Kita harus mengevaluasi, apakah dengan begitu kita akan terus patuh membayar, “ tutur Hasan.
Yang kedua, Hassan menyebutkan, rencana penggelaran pasukan Indonesia dengan jumlah kontingen terbesar yang akan dikirim ke Gaza harus diperhitugkan lagi.
Lebih lanjut Hassan menyebutkan bahwa serangan Israel terhadap Iran memberikan kesan turunnya tingkat keberhasilan BoP.
Presiden Prabowo, kata Hassan, bahkan sempat membahas hal itu saat berkomunikasi dengan menelepon pemimpin-pemimpin lain, termasuk negara di Teluk Persia.
“Dari komunikasi beliau dengan para kepala negara lain, terus juga negara-negara OKI, kesan bahwa potensi keberhasilan BOP menurun. Nah menurunnya berapa, kita lihat saja dengan perkembangannya,” jelas Hassan.
Hassan juga mengungkapkan, Presiden Prabowo tidak menutup mata atas desakan masyarakat yang meminta Indonesia keluar dari BoP.
Menurut mantan Menlu itu, opsi keluar dari keanggotaan BoP, jika Dewan Perdamaian itu tidak menjalankan misinya, masuk dalam pembahasan pada pertemuan itu.
Kalau perlu keluar
Presiden Prabowo, menurut Hassan mengatakan, ia akan menilai sejauh mana BOP akan tetap menjalankan misinya, jika tidak, Indonesia akan keluar.
“Itu sangat jelas (disampaikan presiden-red), tidak ada yang ditutup-tutupi,” kata Hassan termasuk rencana pengiriman 8.000 personil TNI untuk memperkuat ISF turut dibahas dalam pertemuan itu.
Mantan menlu era Presiden Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono ini menyebutkan, pengiriman pasukan akan dilakukan Indonesia setelah melihat efektivitas BoP.
Kepesertaan RI dalam BoP dinilai sejumlah pengamat dan tokoh dinilai terburu-buru mengingat sensitivitas dan komplektivitas isu konflik AS dan Israel melawan Iran tersebut.
Alinea pertama pembukaan UUD 1945 menyebutkan, Indonesia menolak segala bentuk penjajahan serta mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa yang dijajah, sedag alie ke-5 menyebutkan, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Masalahnya, Israel yang telah membantai puluhan ribu warga Palestina di Gaza juga jadi anggota BoP yang pembentukannya diprakarsai Presiden AS Donald Trump, bahkan Palestina yang menjadi korban tidak masuk.
Itu yang memicu pertanyaan sejumlah kalangan, apakah keikutsertaan RI dalam BoP sudah sejalan dengan amanat konstitusi? Juga dengan kebijakan pemerintah selama ini yang mendukung kemerdekaan Palestia dan resolusi PBB tentang “two states solution”.
Sedangkan jika Indonesia mengirimkan pasukan stabilitas internasional (ISF) bentukan BoP, padahal salah satu tugasnya adalah melucuti Hamas, tentu lebih ruwet lagi, karena Hamas sejak awal menolak kehadiran pasukan asig.
Apa yang bakal terjadi jika pasukan Indonesia harus berhadap-hadapan dengan Hamas? (kompas.com/ns)




