MALANG – Setahun terakhir, sedikitnya 900 orang tua yang tidak memiliki sanak saudara atau kerabat, telantar dan tinggal di sembilan kelurahan di wilayah kota Malang.
“Fakta itu kami peroleh dari hasil survei yang kami lakukan selama satu tahun terakhir ini,” ujar Kepala Badan Amil Zakat Nasional Kota Malang, Fauzan Zenrif, di Malang, Jawa Timur, Minggu (10/7/2016).
Ia menambahkan berdasarkan hasil temuan di lapangan, ada beberapa orang tua yang harus hidup dengan kondisi memprihatinkan.
Sembilan kelurahan yang disurvei dan menjadi tempat para orang tua telantar itu merupakan wilayah yang memiliki baitul maal, yakni Kelurahan Arjowinangun, Kedungkandang, Cemorokandang di Kecamatan Kedungkandang.
Selanjutnya adalah Kelurahan Jodipan dan Pandanwangi di Kecamatan Blimbing, Kelurahan Merjosari di Kecamatan Lowokwaru, Kelurahan Kasin di Kecamatan Klojen, dan Kebonsari di Kecamatan Sukun.
Di Kelurahan Arjowinangun, Zenrif mengatakan ada lansia perempuan yang setiap hari hanya diberi makan oleh tetangganya. “Setiap pagi pintu tempat tinggal orang tua itu dibuka, kemudian lansia itu diberi makan, terus dikunci lagi. Pada hari-hari berikutnya juga demikian,” katanya.
Tidak kalah tragis, di Kelurahan Kedungkandang ada seorang lansia yang justru sengsara setelah mempunyai anak angkat. Dulu, karena ingin masa depannya terjamin, orang tua itu dulu mencari anak angkat. Tapi di luar dugaan, justru anak angkatnya yang menjual hartanya.
Zenrif mengaku dalam upaya mengatasi hal ini, Baznas terkendala beberapa hal. “Kami sebenarnya sudah membentuk Pendamping Kemandirian Kesehatan Masyarakat (PKKM) di baitul maal di Kedungkandang, Kebonsari, dan Merjosari. Sayangnya, progres dari program ini kurang pesat karena keterbatasan personel,” ucapnya.
Ia mengatakan di Kedungkandang, jumlah anggota PKKM hanya lima orang. Sementara di Kebonsari, jumlahnya hanya tiga dari sebelumnya lima orang dan di Merjosari yang awalnya ada sembilan anggota kini hanya menyisakan tiga orang. Penyusutan jumlah personel itu karena ada anggota yang tidak memiliki visi sesuai dengan tujuan dibentuknya tim PKKM.
Tugas dari PPKM, katanya, mendatangi para lansia untuk mengecek tensi darahnya, menanyakan kelurahannya, kemudian mencatat hasilnya untuk disampaikan ke konsultan. Konsultan nanti yang akan mengambil langkah apa yang harus dilakukan. Kegiatan itu dilakukan sebulan sekali.
Selain berkaitan dengan kesehatan lansia, Badan Amil Zakat Nasional juga menyediakan anggaran sebesar Rp500 juta per baitul maal untuk program peningkatan kesehatan, salah satunya juga pelayanan kesehatan para lansia.
Dengan begitu, Baznas berharap program tersebut dapat mengatasi ketidakadilan dan keterpurukan yang terjadi bagi para lansia, “Harapan kami, program ini mampu mengangkat derajat kesehatan dan kesejahteraan lansia, khususnya lansia yang ditelantarkan keluarganya,” katanya seperti dilansir Antara.





