JAKARTA (KBK) – Menggantungkan gelar sarjana dan melakoni hidup sebagai anak punk, itu lah jalan hidup yang kini Bemo (30) pilih. Bemo merupakan anggota Komunitas Punk Marjinal Taring Babi (Tarbi) yang mulai aktif kembali di komunitas tersebut tahun 2011 lalu.
“Saya suka terhadap punk sejak kelas tiga SMP, saya gabung di sini sebelum tahun 2000, lalu tahun 2004 keluar karena menerima pekerjaan di Semarang dan pada akhirnya karena merasa tidak betah saya kembali lagi ke Tarbi tahun 2011,” kata pria jebolan S1 Ekonomi Udinus Semarang itu.
Bagi ayah satu anak ini punk ialah menjadi diri sendiri tanpa dikekang dan diatur oleh pelbagai aturan baik yang tertulis maupun lisan. Kendati demikian Bemo tak semena-mena terhadap peraturan masyarakat yang telah membudaya.
Ketika ditemui KBK beberapa waktu lalu di markan Komunitas Tarbi di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Bemo sendiri mengaku mendapatkan dukungan orang tua menjalani hidup sebagai punk, dukungan dari Ayahnya juga datang ketika Bemo ingin merajah tubuh.
Di Komunitas Tarbi Bemo sendiri fokus memproduksi mercendise sesuai ordean seperti mug, pin, kaos, korek, emblem dan lain sebagiannya. Sebagai anak punk yang sarat tato dan berambut gimbal, konsumen yang datang justru dari kalangan papan atas hingga agamis.
“Orderan datang tidak tentu, biasnaya yang order itu lembaga pemerintah, pesantren, komunitas musik, komunitas sesama punk dan anak band,” ucap anak bungsu dari empat bersaudara itu.
Kini Bemo tengah disibukan untuk menyelesaikan 120 kaos cukil dalam waktu 2 hari dengan harga per pisc Rp 100 ribu. Jika kelebihan order Bemo sendiri memberdayakan ibu-ibu ruma tangga di sekitar rumahnya di Tambun, Bekasi, Jawa Barat.
“Biasakan ibu-ibu muda ngegosip, dari pada gosip kadang saya kasih kerjaan di konveksi deket ruma,” kata Bemo yang tangan kirinya melekat tato etnik dayak.





