Menjadi Punk Hingga Jadi Mantu Kesayangan

Foto Aditya KBK

JAKARTA (KBK) – Tangan Kanan Bobby Adam Firman (38) terlihat asik memainkan tikus komputer, sorot matanya jeli memandangi layar monitor, sesekali ia pun menyeruput kopi hitam untuk merefres pikiran. Di dalam studio mini yang penuh gitar itu, Bobby mulai berkreasi.

Bobby merupakan anak punk sekaligus anggota dan pendiri Komunitas Punk Marjinal Taring Babi (Tarbi), saat ini anak kedua dari tiga bersaudara itu tengah disibukan dengan proses editing guna menyelesaikan album ke 6 Band Marjinal yang berintikan 45 lagu.

“Untuk nama albunya saya belum tahu, masih digodok,” ucap Bobby kepada KBK di markas Komunitas Tarbi di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Kreatifitas yang dimunculkan Bobby bersama komunitas Tarbi membuat dirinya diterima oleh keluarga dan lingkungan kendati fisik Bobby berbalut tato, berambut panjang gimbal gaya suka-suka dengan tindikan menghiasi telinga kanan dan kiri.

Sebagai punk Bobby sadar betul bahwa wujudnya terkadang masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tak jarang Bobby dipandang sebelah mata layaknya sampah masyarakat.

Pandangan keluarga terutama Ayah Bobby, Joko Tuladi (Alm) sempat banyak menimbulkan tanda tanya, berkat pembuktian nyata yang dilakukan Bobby membuat keluarganya lambat laun menerima.

“Saya jadi punk sejak tahun 1996 dan mulai mentato diri tahun 2000. Sudah sering saya diperlakukan seperti itu. Apalagi waktu saya mau melamar pacar, keluarganya terang-terangan menolak saya,” kenang pria lulusan SMK jurusan otomotif itu.

Bobby berkisah ketika dirinya ingin melamar wanita pujaannya ia sempat melewati masa interogasi yang panjang, pelbagai pertanyaan seputar dunia kriminal selalau dilontarkan pihak calon mertua. Tak patah arang, Bobby melakukan pembuktian bersama Komunitas Tarbi, salah satunya dengan fokus menyelami dunia musik, sablon dan seni merajah tubuh yang semuanya mampu mendatangkan lembaran rupiah halal.

“Waktu itu pernah ada acara keluarga istri, saya datang bawa map karena habis urus paspor di imigrasi. Saya disangka habis melamar kerja, tapi setelah saya jelaskan kalau saya mau pentas ke Jerman dan Belanda mereka kaget dan lambat laun makin interest sama saya,” ucap Bobby yang menikah tahun 2011.

“Saya juga sekarang sudah jadi mantu kesayangan, karena selalu bantu mertua. Kebetulan mertua kan anggota PNPM jadi kalau butuh spanduk, kaos seragam atau banner saya selalu buatkan desainnya hingga cetak,” tambah Bobby.

Menurut ayah satu anak ini, punk merupakan menjadi diri sendiri. Gaya rambut dan penampilan Bobby yang “menyeramkan” menurutnya bukan hasil buah ikut-ikutan perkembangan jaman, melainkan caranya menjadi diri sendiri.

“Yang dimaksud musik beraliran punk juga bukan hanya musik yang keras teriak-teriak, semua musik yang mengandung arti, yang membawa pesan dan memiliki makna merupakan musik punk. Karena punk merupakan menjadi diri sendiri,” pungkas Bobby

Advertisement