Profil Hermanto Tanoko, dari Gang Sempit di Malang Jadi Manusia 100 Triilun

Hermanto Tanoko, pengusaa Indonesia yang masuk dalam daftar 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes. (Foto: Instagram)

Jakarta, KBKNews.id – Profil Hermanto Tanoko menarik untuk diulas mengingat keberhasilannya dari seorang bayi yang lahir di gang sempit sudut Kota Malang jadi triliuner Indonesia. Dia kini masuk daftar 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes dengan kekayaan tembus US$6,2 miliar atau setara Rp103,1 triliun.

Dengan kekayaan fantastis tersebut, menjadikan Hermanto sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh di negeri ini. Dia merupakan figur yang selama puluhan tahun konsisten membangun kerajaan bisnisnya melalui Tancorp dan berbagai perusahaan lintas sektor.

Kenaikan kekayaan Hermanto tidak terlepas dari performa impresif emiten utamanya, PT Avia Avian Tbk. (AVIA). Hingga akhir September 2025, perusahaan cat tersebut berhasil mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp1,18 triliun. Angka itu tumbuh 9,68% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba bersih ini sejalan dengan meningkatnya penjualan neto AVIA yang mencapai Rp5,92 triliun dalam sembilan bulan, juga naik 9,68% secara tahunan. Kenaikan penjualan dan efisiensi operasional menjadikan AVIA sebagai fondasi utama kekayaan Hermanto.

Namun, kerajaan bisnis Hermanto jauh lebih luas daripada sekadar satu perusahaan cat. Ia memiliki kepemilikan di berbagai sektor strategis. Mulai dari saham Bank Danamon (BDMN), industri air minum melalui PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO), bisnis properti di bawah PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk. (RISE), hingga industri bahan bangunan melalui PT Cahaya Asa Keramik Tbk. (CAKK).

Selain itu, ia juga bergerak di sektor ritel melalui PT Caturkarda Depo Bangunan Tbk. (DEPO) dan PT Mega Perintis Tbk. (ZONE). Jaringan bisnis yang luas dan terdiversifikasi membuat posisinya semakin kokoh dalam peta ekonomi nasional.

Jejak Panjang dari Masa Sulit menuju Kemapanan

Di balik pencapaian besar itu, tersimpan perjalanan hidup Hermanto Tanoko yang jauh dari kata mudah. Ia lahir di Malang pada 17 September 1962, pada masa ketika keluarganya hidup dalam tekanan kebijakan diskriminatif terhadap pedagang keturunan Tionghoa. Ketika Hermanto masih kecil, keluarganya bahkan harus mengalami masa-masa suram setelah ayahnya, Soetikno Tanoko, yang berstatus WNA keturunan Tionghoa, hampir dipulangkan paksa ke China.

Kebijakan pada dekade 1950-an membuat banyak pedagang Tionghoa kehilangan usaha dan rumah, begitu pula keluarga Tanoko. Sebelum badai itu datang, keluarga Hermanto sebenarnya memiliki rumah, toko, dan motor di Surabaya. Namun semuanya hilang dalam sekejap.

Mirisnya, Soetikno bahkan sempat tinggal di emperan wihara di Gunung Kawi selama enam bulan. Kondisi itu membuat keluarga Hermanto kemudian menempati sebuah gang sempit berukuran 1,25 x 9 meter yang merupakan bekas kandang ayam yang disulap menjadi rumah keluarga dengan empat anak.

Sejak kecil, Hermanto tumbuh dengan cerita perjuangan orang tuanya yang diulang setiap malam. Walau kala itu hanya bisa berkumpul pada malam hari, kedekatan keluarga justru sangat kuat.

Dari tekanan hidup yang keras itulah bibit mental seorang pengusaha terbentuk. Hermanto belajar disiplin, kerja keras, keberanian mengambil risiko, kreativitas, kecermatan, serta kesabaran menjadi fondasi utama dalam berbisnis.

Langkah Pertama: dari Penjual Sayur hingga Dunia Farmasi

Sebelum mencapai kesuksesan, Hermanto lebih dulu menjalani berbagai pekerjaan kecil. Ia pernah menjual sayuran dan pakaian, menjalani hidup nomaden demi menyelamatkan keluarga. Hingga akhirnya ikut terjun dalam bisnis apotek pada dekade 1960-an. Di sinilah kreativitasnya mulai terlihat.

Hermanto memperkenalkan sistem antar obat gratis, sebuah inovasi yang belum terpikirkan oleh kompetitor saat itu. Langkah sederhana namun visioner tersebut menjadikan apoteknya lebih dipercaya pelanggan, sekaligus menegaskan insting bisnis yang kelak menjadi ciri khasnya.

Avian: dari Toko Cat Jadi Korporasi Raksasa

Kehidupan Hermanto berubah ketika ia kembali bergabung dengan usaha sang ayah, yang sejak 1 November 1978 berkembang menjadi pabrik cat di Sidoarjo. Ketika itu, pabrik tersebut baru memproduksi cat kayu dan besi. Hermanto kemudian turut mendorong perluasan usaha ke industri cat tembok dengan merek Avitex.

Sebagai Managing Director of Operation, ia ikut mengarahkan produksi, pemasaran, hingga pengembangan inovasi. Setahun kemudian, kakaknya Wijono Tanoko ikut bergabung dan bersama-sama mereka membangun perusahaan tersebut menjadi PT Avia Avian. Perusahaan ini berkembang pesat, melahirkan berbagai jenis cat termasuk cat otomotif, top coat, primer, dan cat semprot.

Di bawah kendali keluarga Tanoko, Avia Avian tidak hanya tumbuh sebagai industri cat nasional, tetapi juga masuk industri semen instan serta berbagai lini bahan bangunan lainnya. Jaringan distribusinya berkembang hingga lebih dari 90 titik di seluruh Indonesia.

Tonggak penting lainnya terjadi pada 8 Desember 2021, ketika AVIA resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Langkah ini memperkuat struktur perusahaan dan membuka jalan bagi ekspansi lebih besar. Kini, Avia Avian dikelola oleh generasi kedua dan ketiga keluarga Tanoko, menandai keberlanjutan visi lintas generasi.

Tancorp: Pilar Diversifikasi Kekayaan

Di luar bisnis yang diwarisi dari ayahnya, Hermanto mendirikan Tancorp sebagai holding yang menaungi berbagai bisnis di sektor manufaktur, ritel, logistik, hingga properti. Dari Tancorp pula berbagai portofolio yang memperkuat posisi finansialnya dibangun.

Melalui grup inilah Hermanto mampu masuk dalam berbagai sektor strategis, dan memperluas pengaruhnya. Dia juga memastikan bisnisnya tetap relevan di tengah persaingan modern.

Nasihat Orang Tua sebagai Landasan Kesuksesan

Meski dikenal sebagai pengusaha besar, Hermanto selalu menegaskan, rahasia kekayaannya bukan semata-mata kepiawaian berbisnis, tetapi juga hasil dari doa dan bimbingan orang tua. Ia percaya, rezeki datang dari ketekunan bekerja sekaligus keberkahan berbakti kepada orang tua.

Saat ibunya wafat pada Juni 2024, Hermanto menuliskan pesan menyentuh di akun Instagram resminya. Ia menyebut, siapapun dirinya hari ini adalah buah doa dan perjuangan orang tua.

Kalimat itu mencerminkan nilai-nilai yang selalu ia pegang: keluarga adalah prioritas. Selain itu, keberhasilan sejati adalah ketika seseorang bisa menjadi anak yang membanggakan orang tuanya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here