SETIAP bulan Ramadan Pemda-Pemda di mana saja getol merazia pedagang dan produsen mercon. Itu memang sangat membahayakan. Jari jemari bisa putus terkena ledakan, bahkan ledakan pabrik mercon bisa membakar rumah dan membinasakan pembuatnya. Maka paling aman adalah bermain petasan dengan petasan bambu, yang biasa disebut long bumbung. Sayangnya permainan ini kini mulai memunah, karena tergilas oleh majunya teknologi mainan anak-anak.
Long bumbung ternyata sudah menjadi mainan tradisional anak-anak senusantara. Hampir seluruh penjuru Indonesia mengenalnya, dengan istilah yang berbeda-beda, tapi sama itu barang. Di Pangkalpinang disebut bedil bambu, Minangkabau meriam betung atau badia batuang. Di Aceh penduduk menyebutnya sebagai te’et beude trieng. Di Jawa, khususnya Jateng, Jatim dan DIY anak kampung mengistilahkan: long bumbung.
Termanjakan oleh mainan elektronik, anak-anak sekarang sudah tak mengenal lagi mainan long bumbung, yang adanya di bulan Ramadan itu. Anak sekarang lebih akrab dengan long panci bikinan kawanan teroris. Istilahnya, bom bunuh diri. Jika bom itu meledak, bleng……sejumlah orang akan mati sia-sia. Pelakunya demikian juga. Cuma mereka yakin, setibanya di alam akhirat langsung dapat posisi di surga janatun naim.
Sedari jaman Belanda long bumbung sudah dimainkan anak-anak. Selain murah dan bikinnya mudah, juga keamanan lebih terjamin. Belum ada ceritanya anak mati terkena ledakan long bumbung. Paling-paling bulu mata dan alis hilang terkena percikan api, muka penuh jelaga. Sedangkan petasan, nyawa menjadi taruhannya jika bermain ceroboh. Karenanya, di mana-mana petasan menjadi larangan.
Bikin long bumbung sangatlah mudah, karena banyak bambu di sekitar kita. Yang di kota bisa beli, yang di kampung tinggal menebang. Paling ideal pakai bambu wulung, pilih yang berdiameter 10 cm. Panjang cukup 2 sampai 2,5 meter. Sekat di buku-buku maupun ruasnya dilobangi, kecuali di bagian pangkal. Karena di bagian ini nanti akan dilobangi selebar ibu jari orang dewasa, kira-kira 20 cm dari ruas paling ujung. Di sinilah bahan bakar dituang, dan di sini pula menjadi tempat penyulut api.
Bahan bakar bisa berupa minyak tanah, bensin atau cairan karbit. Paling cepat berproses (panas) menggunakan cairan karbit. Minyak tanah dulu paling banyak digunakan, sayangnya sekarang susah didapat, gara-gara kebijakan Wapres Jusuf Kalla tahun 2007 lalu. Tapi mentang-mentang gas elpiji paling gampang didapatkan, sebaiknya jangan pula main long bumbung dengan gas elpiji. Bahaya.
Posisi batangan bambu diletakkan miring dengan kemiringan 15 drajat. Siapkan pula lilin untuk penyulut apinya, atau oncor. Mulailah bermain. Lobang di batangan bambu itu disulut dengan api berulang-ulang. Barang 10 menit kemudian akan terdengan ledakan yang keras, memekakkan telinga. Dan ini bisa diulang-ulang tanpa harus mengeluarkan uang.
Sampai tahun 1980-an, anak-anak kampung masih memainkan long bumbung sore hari menjelang berbuka (ngabuburit). Tapi banyak pula habis tarawih dimainkan lagi sampai pukul 22.00. Untuk di pedesaan yang berlahan luas, rumah penduduk jarang-jarang, itu masih dimungkinkan. Tapi bagi masyarakat kota yang padat, bisa diomeli karena mengganggu orang tidur.
Ketika ekonomi rakyat makin membaik, long bumbung mulai ditinggalkan. Anak-anak lebih praktis membakar mercon dengan berbagai ukuran. Resikonya harus banyak mengeluarkan uang, di samping bahaya ledakan selalu mengintai. (Cantrik Metaram)





