Rakyat Suriah: “Antri Menuju Kematian”

Milisi pro Turki mengelu-elukan kedatangan pasukan Turki ke Afrin, Suriah. Konflik Suriah diramaikan kehadiran AS, Rusia, Iran, Turki dan milisi berbagai fraksi.

PERANG saudara di Suriah antara Kelompok Perlawanan Suriah (FSA) melawan rezim petahana pimpinan Bashar al-Assad yang sudah berlangsung sekitar enam tahun,menelan ratusan ribu nyawa dan menciptakan jutaan pengungsi belum berhenti.

Bahkan situasi di lapangan semakin ruwet karena masuknya berbagai kepentingan regional maupun kekuatan global.

Hadirnya milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) sejak 2014 menciptakan musuh bersama di antara pihak-pihak yang bertikai, namun begitu kelompok yang memproklamasikan khilafah Islam itu takluk pertengahan 2017, konflik antara para pihak makin menjadi-jadi.

Turki melancarkan operasi militer “Ranting Zaitun” ke basis milisi Kurdi (YPG) di Afrin, Suriah sejak 20 Januari lalu karena cemas kelompok etnis minoritas itu akan membentuk negara Kurdi di sepanjang perbatasannya dengan Suriah.

Eskalasi konflik mengancam wilayah Afrin setelah milisi Suriah pro al-Assad masuk ke kancah konflik dalam upaya membantu milisi Kurdi (YPG) menghadapi gempuran pasukan Turki dengan alutsista yang jauh lebih kuat dan modern.

Perang terbuka antara Turki dan Suriah kemungkinan akan pecah dan Presiden Turki Tayyip Erdogan sudah mengingatkan pemerintah Suriah untuk tidak mencoba-coba mendukung milisi Kurdi di Afrin.

Di Ghouta Timur, provinsi yang bertetangga dengan ibukota Suriah, Damaskus, 310 orang tewas akibat gempuran pasukan loyalis al-Assad ke basis FSA (22/2).

Pasukan al-Assad April tahun lalu menyerang wilayah Khan Seikhoun, Propinsi Idlib dengan senjata kimia yang kemudian direspons serangan udara AS ke pangkalan AU Suriah Shayrat yang digunakan pesawat-pesawat tempurnya untuk menyerang wilayah itu.

Rusia yang berada di belakang rezim al-Assad beberapa minggu lalu membombardir Ghouta Timur setelah kehilangan sebuah pesawat Sukhoi SU-25 miliknya yang digunakan menyerang posisi pasukan FSA.

Pemimpin Iran dan Israel juga sudah terlibat perang mulut dan saling ancam bermula dari kecurigaan Israel mengenai pengoperasian pesawat nirawak (drone) milik Iran yang memata-matai Israel dari wilayah Suriah.

Pesawat-pesawat tempur Israel, berdalih melindungi teritorialnya, menyerang sarang-sarang rudal pertahanan udara Suriah dan lokasi yang diduga pangkalan pesawat nir-awak. Sebuah pesawat tempur F-16 Israel berhasil ditembak jatuh, sementara drone juga jatuh ditembak pesawat Israel.

Iran sejauh ini ikut pula bermain di Suriah dengan menempatkan milisi dukungannya, Hesbollah yang dalam perang saudara di negeri itu berada di belakang al-Assad.

Sikap AS mengecewakan milisi YPG Kurdi di Afrin yang semula dijadikan mitra utama dalam perang melawan NIIS, tidak turun tangan membantunya menghadapi serbuan pasukan Turki.

Konflik bisa meluas menjadi perang terbuka antara Iran dan Israel serta Suriah melawan Turki, dan jika itu terjadi, rakyat yang menjadi “pelanduk” di tengahnya.

Tidak salah jika ada yang mengibaratkan, rakyat Suriah “sedang antri menuju kematian”.
(AFP/Reuters/ns)

Advertisement