DALAM debat kedua Capres semalam, antara Jokowi – Prabowo, moderator Anisha Dasuki dapat pujian netizen di medsos, begitu mencuri perhatian hingga netizen salah fokus. Apa iya, salah fokus? Jika benar terjadi salah fokus, paling-paling di mata kaum lelaki. Anisha Dasuki memang anggun nan cantik, dan nada suaranya pun mendekati Anita Rachman penyiar TVRI Jakarta tahun 1980-an. Dan dia tetap tampil khas sebagai wanita Indonesia, tidak sampai ikut-ikutan model rambut LKMD!
Rambut panjang seperti milik Anisha Dasuki, memang banyak menjadi selera dan idola kaum lelaki. Dan wanita presenter TV di Indonesia memang suka “mengeksploitir” rambut mereka, agar penampilannya menjadi demikian memukau. Ada yang dipotong pendek macam lelaki, ada pula yang menyembunyikan rambutnya lewat jilbab, tapi ada pula presenter yang rambutnya dibuat pirang sebagian, sehingga muncul istilah rambut LKMD, artinya: Landa Kok Ming nDase (bergaya Belanda tapi hanya kepala doang).
Lelaki sedikit berambut LKMD adalah almarhum pelawak Mamik Podang. Dia disebut Mamik Podang karena rambut di atas telinganya dicat pirang barang sedikit sehingga seperti burung kepodang. Tapi kaum lelaki lelaki rambut LKMD secara full juga banyak. Bahkan ada pernah ada juga pengamen di atas bis Solo – Yogyakarta model demikian, sehingga penumpang nyeletuk, “Kok ada orang Barat jadi pengamen?” Jawab sang pengamen sambil nyengir kuda, “Alah, niki rambut nampung dicet kok Pak.”
Seyogyanya, jika mau jadi orang Barat, yang total sekalian. Jangan hanya rambut di kepalanya, tapi harus juga sampai warna kulit, bentuk hidung yang mancung, mata yang berwarna biru. Jika duplikatisasi hanya sepotong-sepotong, justru njuwarehi (tidak elok). Maka pernah ada seorang suami yang bertestimoni di depan teman-temannya, “Oo, istriku sampai berambut model LKMD macam presenter TV, tak ajar temenan (saya hajar sekalian).”
Gaya potongan rambut anak muda memang selalu berubah-ubah, mengikuti model yang sedang ngetrend. Ada yang dicukur rapi, tapi kemudian diberi jalur khusus macam jalan tikus. Ada pula dibikin njegrak macam kartun Mas Klombrot di majalah Panjebar Semangat tahun 1960-an. Ada pula yang sengaja dicukur plontos macam Pak Ogah dalam film boneka Si Unyil.
Musisi Ahmad Dhani asalah salah satu musisi-artis yang doyan berganti-ganti model rambut. Pernah potong cepak dengan “jalur khusus”, dan kini sedang betah dengan rambut gundulnya. Tapi belakangan dia selalu menutup kepalanya yang plontos itu dengan blakon gaya Yogyakarta. Lengkap dengan jenggot pendeknya, mengingatkan pada tokoh Mahesa Jenar dalam cerita silat “Keris Nagasasra-Sabuk Inten” karya SH Mintardjo dari Yogyakarta.
Ada yang bilang, rambut itu mahkota wanita. Maka dirawat dengan baik, dibiarkan hitam memanjang menggapai pantat. Tapi itu dulu. Wanita sekarang, macam Nurul Arifin, Indi Barends, justru gemar berpotong rambut model lelaki. Sebagai wanita karier memang itu cara lebih praktis, ketimbang sebentar-sebentar ke salon ngurus rambut. Anggaran rumah pun bisa dihemat.
Sebaliknya, kaum lelaki justru banyak yang suka rambut gondrong. Biar dikira seniman ngkali, ya? Sebab seniman rata-rata berambut gondrong. Tapi seberapa sih ukuran seseorang jadi seniman? Sebab kini banyak anak muda baru 2-3 kali puisinya masuk lembaran sastra, sudah menggondrongkan rambutnya. Apa tidak takut jadi sarang tuma (kutu) ya? Lagi pula, orang berambut gondrong kesannya jadi rungkut macam hutan perawan. (Cantrik Metaram)





