Ranting Zaitun Turki Menggebuk Kurdi

Ilustrasi Dengan kekuatan udaranya, Turki yang anggota NATO melancarkan operasi "Ranting Zaitun" ke kantong-kantong milisi Suku Kurdi (YPG) di Afrin, Suriah sejak Jumat lalu (19/1)(foto:dailymail)

BERGEMING atas permintaan Amerika Serikat,  negara terdepan dan sesama anggota Pakta Pertahanan Alantik Utara (NATO), Turki melancarkan operasi militer “Ranting Zaitun” ke basis milisi Kurdi (YPG) di Afrin, Suriah Utara.

Ribuan satuan Turki didukung tank-tank, pemboman udara dan artileri berat, juga melibatkan milisi perlawanan Suriah pro-Ankara (FSA), sejak Jumat (19/1) merangsek ke markas Pasukan Pelindung Rakyat (YPG) di Afrin, Suriah Utara.

Dalam pidato untuk menyemangati pasukannya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertekad untuk tidak akan menghentikan kampanye militernya ke Afrin, bahkan akan meluaskan target sampai ke Distrik Manbij di Suriah Timur.

Pasukan darat Turki dan satuan FSA dilaporkan telah berhasil memasuki sampai lima Km di wilayah Suriah, sementara 33 pesawat tempurnya menggempur 45 sasaran YPG.

Operasi militer Turki ke Afrin agaknya juga direstui atau paling tidak mendapatkan lampu hijau dari Rusia yang selama ini merupakan sekutu utama rezim petahana Suriah pimpinan Bashar al-Assad.

Pasukan pemerintah Suriah juga belum bereaksi terhadap serbuan pasukan Turki ke wilayahnya, walau sebelumnya mengingatkan, pesawat-pesawat tempurnya bisa saja menembak pesawat-pesawat Turki yang masuk wilayahnya.

Tidak diketahui korban yang dialami YPG akibat pemboman dan serangan pasukan Turki bersama unit-unit FSA, namun menurut Organisasi Pemantau HAM di Suriah (SOHR), paling tidak belasan warga sipil tewas.

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu membantah adanya korban warga sipil dan balik menuding pihak Kurdi menyebarkan kabar bohong dan propaganda pada dunia dengan mengklaim jenasah teroris sebagai warga sipil.

AS sendiri yang selama ini berada di belakang YPG, khususnya dalam memerangi kelompok radikal Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), merasa keberatan atas ofensif militer Turki ke Afrin.

Etnis Kurdi yang wilayahnya berbatasan dan sebagian berada di wilayah Irak, Iran,  Suriah dan Turki dan juga jutaan warganya berada di empat negara tersebut  merupakan duri dalam daging, karena dikhawatirkan menuntut kemerdekaannya.

Persoalan Suriah sendiri sangat kompleks, bermula dari konflik internal untuk menumbangkan rezim penguasa sejak 2011 yang telah menewaskan sekitar 320.000 orang  dan menciptakan jutaan pengungsi.

Saat konflik bergeser untuk memerangi NIIS, seluruh kekuatan bergabung dalam koalisi internasional yakni AS, Rusia, pemerintah Suriah, Turki, YPG dan   FSA, dan kini saat NIIS sudah ditaklukkan, diantara sesama koalisi lagi-lagi pecah kongsi.

PM Turki Binali Yildirim menyebutkan, misi operasi “Ranting Zaitun” bertujuan menciptakan zona aman sejauh 30 Km di Distrik Afrin dan yang lebih penting, melemahkan YPG, sayap militer Partai Uni Demokratik (PYD) di Suriah yang dicap sebagai teroris, perpanjangan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

“Tidak ada teman sejati, yang ada kepentingan abadi”                                                             (AFP/AP/Reuters/ns)

 

 

 

Advertisement