SITUBONDO – Ratusan relawan mengikuti Kemah Relawan Dompet Dhuafa 2019 dan saling berbagi pengalaman di hutan Taman Nasional Baluran.
“Pertama menjadi relawan ketika erupsi merapi 2010, halaman rumah saya saat itu menjadi salah satu posko Disaster Management Center (DMC). Lucunya, saat itu saya jadi relawan yang mengurus pengungsi, namun saya sendiri juga menjadi pengungsi,” terang Sanati Santoso, relawan asal Magelang, Jawa Tengah ketika menceritakan pertemuanya dengan dunia relawan, pada malam kedua di acara api unggun.
Bukan hanya mengenai pengalaman dunia relawan, sharing session juga mewadahi peserta untuk mencurahkan keluh kesahnya dalam forum tersebut. Salah satu peserta mengeluhkan mengenai sulitnya ia mendapatkan izin istri ketika ada panggilan kerelawanan.
“Saya itu kalau ada panggilan kemanusiaan, kudu debat lama dulu dengan istri. Ada yang gol ada yang tidak, hehe,” terang salah satu peserta menyampaikan keluhanya.
Relawan lain ikut memberikan tanggapanya. Ada yang serius, namun juga banyak yang menanggapinya dengan santai.
“Alhamdulillah istri sudah paham mengenai hobi saya, yaitu relawan. Jadi saya termasuk beruntung, kalau yang tidak beruntung, kompromi lagi lah dengan istri haha,” terang Salim, asal Makassar sambil bercanda.
Beberapa ada yang bahagia, sebagian ikut terharu tanda sulit untuk berpisah dari kegiatan Kemah ini. Namun para relawan setuju atas satu konsensus tak tertulis, bahwa relawan siap untuk membantu yang membutuhkan, di manapun dan kapanpun bencana terjadi.
“Yang kita rasakan sama, panggilan kemanusiaan di manapun berada, dan saat itu bisa, pasti akan turun ikut menolong,” ujar salah satu peserta, sebagaimana dilansir di laman dompetdhuafa.org.





