MESIR – Kebijakan lockdown atau karantina wilayah diberlakukan Mesir sejak 15 Maret dan membuat ratusan mahasiswa Indonesia disana mengeluhkan kekurangan bekal.
Hal tersebut diakibatkan pemerintah melarang orang keluar rumah dari pukul 8.00 sampai 20.00 waktu setempat, sehingga mahasiswa yang bekerja sambil kuliah tak bisa bekerja sehingga kekurangan bekal.
Ketua Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau (KKM) Mesir, Abdan Syukri (24), mengatakan bahwa terdapat 320 anggota KKM Mesir.
“Sejak lockdown diberlakukan, tempat umum ditutup. Orang yang melanggar jam keluar rumah didenda Rp4 juta. Mahasiswa tak bisa bekerja,” ujarnya, dkutip CNNIndonesia.com, melalui pesan singkat.
Dia menambahkan, mereka yang kekurangan bekal dan kiriman itu mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah ataupun lembaga di Indonesia selama masa pandemi Covid-19.
“Seandainya lockdown terus berlanjut, harga bahan pokok akan naik. Kini harga bahan pokok belum naik signifikan,” tutur mahasiswa asal Alahan Panjang, Kabupaten Solok itu.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo dan Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir, kata Syukri, sudah mendata mahasiswa yang membutuhkan bantuan. KBRI memberikan bantuan bahan pokok kepada mahasiswa, tetapi kuota penerimanya terbatas.
Syukri menginformasikan bahwa mahasiswa Minang di Mesir harus bertahan tak pulang karena beberapa alasan. Pertama, mereka masih kuliah (daring/online) dan akan ujian akhir semester (daring) pada 31 Mei.
Kedua, tak pulang karena trafik peningkatan kasus di Indonesia jauh lebih tinggi daripada Mesir. Dalam perjalanan pulang pun akan terjadi banyak kontak fisik dengan orang lain yang bisa menyebabkan tertular Covid-19.
Ketiga, bandara ditutup sejak 15 Maret. Kalaupun bisa pulang, ongkos Mesir-Indonesia mahal (Rp8 juta pergi dan pulang).




