Rayakan Kemenangan Terindah Bersama Anak-Anak Mualaf Suku Akit

Redovan Jamil (tengah) ketika merayakan Idul Fitri 1438 H bersama anak-anak mualaf binaannya dari Suku Akit di pedalaman kepulauan Meranti. Foto: Ist

MERANTI – Redovan Jamil, kelahiran Padang Benai 10 Mei 1993, kini bertugas sebagai utusan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa mengajar di SDN 12 Sokop Lokal Jauh, Kecamatan Randang Pesisir, Kepulauan Meranti, Riau, sejak 2 Februari 2017 lalu.

Ia memilih tidak pulang kampung ke Padang Benai Sijunjung, Sumatera Barat karena ingin merayakan kemenangan dengan anak-anak binaannya yang baru saja menjadi mualaf. Anak-anak itu merupakan anak-anak Suku Akit (Akik), salah satu suku asli yang mendiami wilayah Provinsi Riau.

Suku Akit merupakan suku asli yang mendiami wilayah Pulau Rupat, Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Kepulauan Meranti seperti Pulau Padang ( Sungai Labu,Kudap, Dedap, Selat Akar, Bagan Melibur, Kunsit), Pulau Merbau (Cemaning, Ketapang, Renak Dungun).

Pulau Tebing tinggi (Tanjung Peranap, Aer mabuk,Kundur, Lalang, Sesap, Batin Suir).

Pulau Rangsang (Api-api, Linau Kuning, Bungur-Kuala parit, Sonde,Sungai Rangsang, Tanjung sari, Sokop, Mereng, Bandaraya, Banau, Sipije), juga di Kabupaten Pelelawan tepatnya di Kecamatan Kuala Kampar Pulau Mendol.

Suku ini memeluk agama Animisme (aliran kepercayaan). Mereka telah lama mendiami pulau ini sebelum suku-suku lainnya menjadikan pulau ini sebagai tempat tinggal.

Mata pencarian Suku Akit adalah berburu dan meramu, serta nelayan. Untuk mempererat solidaritas dalam Suku Akit maka sejak tahun 2000 telah terbentuk Lembaga Adat Suku Asli Akit (LASA) di tingkat Kabupaten, tingkat Kecamatan dan tingkat desa/pedusunan. Saat ini Suku Akit telah banyak berbaur dengan masyarakat lainnya.

Di Desa Sokop, di tahun 2013, Pemerintah membangun 65 unit rumah untuk warga Suku Akit agar mereka tidak berpindah-pindah lagi. Di Dusun Bandaraya, Desa Sokop inilah Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa menginisiasi membangun Sekolah Literasi berupa Lokal Jauh dari sekolah lain, kini baru ada kelas 1 s.d 4 SD. Di sini pula Jamil bertugas.

Anak-anak dari Suku Akit di Desa Sokop yang masuk Islam adalah Amzah 14 tahun, Abdul Qowi 13 tahun, I’som 15 tahun, Akhyar 14 tahun, Syabab 12 tahun, Azibah 14 tahun dan Zaitun 13 tahun. Karena anak-anak tercinta inilah Jamil tidak mau pulang kampung. Selama ramadhan Jamil mendidik anak-anak ini puasa dan mengajarkan tentang akhlak dan ibadah dalam Islam.

Jamil bersemangat dan senang bersama mereka. Walaupun jauh di lubuk hatinya; orang tua, adik, kakak dan handai tolan seakan-akan memanggilnya pulang, namun jalan dakwah yang dicintainya dapat mengalahkan semuanya.

“Adik-adik ini baru muallaf, jadi ia butuh bimbingan intensif, ” ungkap Jamil kepada KBK-Swara Cinta, di Kepulauan Meranti yang turut merasakan suka cita bersama Jamil.

Diceritakan Jamil, semua anak-anak Muallaf itu, alhamdulillah dengan rasa senang menjalankan ibadah puasa. Mereka sukses menjalankannya selama sebulan penuh. Jamil membimbing mereka tiada henti.

Anak-anak itu seperti buntut bagi Jamil. Kemana pun Jamil bergerak di desa itu, anak-anak itu selalu mengikuti, bahkan Jamil pun terkadang demikian kalau anak-anak itu pulang ke rumah untuk mandi. Jamil pun sering menghampirinya sampai ke rumah, seakan-akan mereka tidak mau terpisah satu dan lainnya.

Apakah ada masalah dengan orang tua mereka ketika anak-anak mereka menjadi mualaf dan dididik secara Islam oleh Jamil? Ternyata tidak. Kepada KBK dan Swara Cinta, Aheng, 63 Tahun, Kepala Suku Akit di Dusun Bandaraya, Desa Sokop yang anak bungsunya juga masuk Islam, mengaku senang anaknya mendapat bimbingan dari Jamil dan mendapat pendidikan di Sekolah Literasi yang diinisiasi Dompet Dhuafa di Bandaraya itu.

“Saya senang anak saya mendapat pendidikan, bimbingan dan beragama Islam. Semoga nasib anak saya lebih baik dari saya,” kata Aheng di sela-sela ia merayakan hari kebesaran agama Suku Akit kepada KBK-Swara Cinta.

Tidak hayal, karena sudah baik terhadap anaknya. Aheng dan keluarga beserta komunitas Suku Akit juga senang dengan kehadiran Jamil dan guru-guru dari Dompet Dhuafa di desa itu. Jamil bebas naik ke rumah manapun dan Ia dianggap anak angkat oleh seluruh komunitas Suku Akit itu.

Mungkin ini pula yang membuat Jamil betah tinggal di pedalaman ini, karena ia tinggalkan keluarga di Sumatera Barat, ia dapati pula keluarga baru di pedalaman itu yang tak kalah pula kehangatan, kasih dan sayangnya kepada Jamil.

Dan ketika puasa usai, malam takbiran pun mengharu birukan hati-hati mereka. Khususnya anak-anak mualaf, terlihat mereka senangnya bukan main, karena baru saja masuk Islam sudah berhasil puasa sebulan penuh, sehingga malam takbiran yang dilaksanakan keliling kampung dengan pawai obor menjadi sebuah kenangan hidup dan lambang kemenangan hakiki bagi mereka.

Mereka pantas merayakannya karena kemenangan itu benar-benar milik mereka karena sejak kecil sudah berada dalam kegelapan dan kini ia memeluk Islam yang penuh kedamaian. Dan Jamil juga tak kalah senangnya karena melihat anak didiknya penuh suka cita.

Trimakasih donatur Dompet Dhuafa, karena dari ZISWAF merekalah yang mengantarkan Jamil sampai ke Pedalaman Pulau Meranti itu. “Para donaturlah pemilik kemenangan sejati,” pungkas Jamil.

Advertisement