Rendang RM Padang

Menu di RM Padang. Jika perut mampu, silakan "pukul dulu urusan belakang".

DALANG kondang almarhum Ki Timbul Hadiprayitno, dalam adegan Gara-Gara sering menghadirkan humor tentang punakawan Bagong yang mendadak menangis meraung-raung di depan bendara Harjuna. Gareng pun bertanya, kenapa menangis histeris begitu rupa? Jawab Bagong, “Aku dipukul Petruk!” Gareng pun mengejar, kapan itu? “Seminggu yang lalu,” jawab Bagong. Tentu saja Gareng marah, wong dipukulnya seminggu lalu kok baru nangis sekarang? Jawabnya sungguh bikin ketawa, “Karang aku kelingane lagi saiki (karena aku ingatnya baru sekarang)!”

Humornya Ki Timbul Hadiprayitno ini mungkin bisa dianalogikan dengan viralnya “Babi-ambo”, yakni bisnis online rendang babi non halal ala Minang dari Kelapa Gading, Jakarta. Betapa tidak? Soalnya usaha milik Sergio ini sebenarnya sudah tutup 2 tahun lalu (2020), lantaran tidak laku. Tapi gara-gara diangkat orang iseng, jadilah viral sehingga membangkitkan emosi urang awak (Minang), termasuk Gubernur Sumbar dan anggota DPR dari PAN.

Walhasil Sergio repot jadinya, lantaran dipanggil polisi untuk menjelaskan duduk dan berdirinya masalah. Diapun akhirnya minta maaf, lantaran ketidaksensitipannya menjadikan banyak kalangan tersinggung. Padahal sejak awal “Babi-ambo”-nya sudah ditulisi non halal, sehingga dengan sendirinya pemeluk Islam takkan membelinya. Tapi kata para sejumlah pemrotes, bisnis rendang daging babi ini merusak citra rendang Padang.

Sebenarnya rendang daging sapi bukan monopoli orang Minang. Rendang Jawa dan rendang Manado juga ada, tapi karena paling enak dan terkenal rendang Padang, maka seakan masakan rendang itu monopolinya orang Minang. Dan karena orang Minang mayoritas pemeluk Islam, maka bikin rendang dengan daging babi dinilai menciderai perasaan umat Islam. Dan pemikiran Sergio tidak sampai ke sana.

Kisah semacam ini tak hanya sekali ini. Pernah terjadi orang Minang protes, gara-gara ada terbitan kitab Injil berbahasa Minang. Pernah juga klepon jadi masalah, lantaran viral narasi yang menyebut “klepon yang Islami”. Tapi untungnya orang tidak protes ketika ada sebutan “burung gereja” dan burung “emprit kaji”. Padahal mestinya semua sadar bahwa bahasa, klepon, rendang dan burung itu tak punya agama.

Terlepas dari polemik rendang daging babi, penulis memang menggemari menu masakan Padang. Pertama kali mengenalnya lewat RM Gumarang di Jl. Yos Sudarso Tanjung Priok (1977), tak jauh dari kantor Walikota Jakarta Utara. Masuk RM Padang kita betul-betul “dimuliakan”, karena begitu duduk langsung disiapkan handuk kecil hangat dan minum teh anget pula. Setelah itu baru menyusul berbagai menu disajikan, dari rendang sapi, ayam pop, ayam goreng, gulai otak, gulai iso, nasi putih sampai lalapan daun singkong. Jika perut mampu, silakan pukul dulu urusan belakang. Maksudnya, makan apa saja, baru mikir bayarnya nanti.

Makan di RM Gumarang, rasanya menjadi lebih lezat, karena hampir semuanya bebas dari bea. Lho kok? Soalnya sebagai wartawan Ibukota yang liputannya seputar Pemkot Jakarta Utara era Dwinanto, penulis sering sekali ditraktir para pejabat, dari Lurah, Camat, Kepala Urusan, Kepala Sudin (Suku Dinas).

Setiap kita masuk RM Padang, pasti ketemu motto: bila enak beri tahu teman-teman, bila tidak enak beri tahu kami. Terbius semboyan tersebut, maka sekali waktu penulis (2010) berhasil mengajak sastrawan Jawa-Indonesia terkenal Suparto Brata makan siang di RM Padang di bilangan Cipayung dekat TMII. Apa komentar sastrawan yang tinggal di Surabaya ini, “Baru sekali ini saya makan di RM Padang!” Nah, tambah satu lagi penyuka RM Padang!

Ternyata penulis bukan saja senang dengan masakan Padang, anak daro (gadis) dari Minang juga pernah mencintai. Namanya orang cinta, si dia semuanya rancak bana (baik benar). Sayangnya, penulis gagal jadi marabulai (pengantin) bersama dia, karena cinta ambo bertepuk sebelah tangan. Sialnya, puluhan tahun kemudian ketika penulis sudah berkeluarga, rekan sesama wartawan itu mencariku. Dia menunjukkan surat cerai dan siap menjadi bini kedua. Waduh, terpaksa tawaran jadi “sumando ninik mamak” itu penulis tolak. Bini satu saja tak pernah habis, kok banyak lagak mau poligami. Apa kata dunia? (Cantrik Metaram).

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement