
KRISIS diplomatik berupa pengucilan terhadap Qatar oleh sejumlah negara Arab dan Maladewa sejak 5 Juni 2017 sampai kini belum ada solusinya walau sudah mulai dilakukan upaya dialog sejak November lalu.
Aksi bersama Arab Saudi, Bahrain, Libya, Mesir, Yaman, Uni Emirat Arab dan Maladewa diambil untuk menghukum Qatar yang dituding mendanai kelompok teroris Ikhwanul Muslimin, Al-Qaeda, Al-Nusra, NIIS, Hamas dan pembangkang Syiah di Qatif, Saudi.
Namun ada pula tudingan, keenam negara Arab iri atas kemunculan Qatar sebagai kekuatan ekonomi dan politik baru kawasan dan keberhasilannya mereformasi dicemaskan akan mengilhami gerakan rakyat di negara mereka.
“Jika dibiarkan, apa yang terjadi di Qatar bisa memicu Arab Spring (gerakan reformasi di jazirah Arab) jilid II, “ kata pengamat Timur Tengah IAIN Syarif Hidayatullah Ali Munhanif.
Ada percikan-percikan lain pemicu ketidak harmonisan hubungan antarsesama negara Arab, misalnya perebutan hegemoni kawasan, gap ekonomi, posisi masing-masing menghadapi musuh bersama (Israel) dan isu Palestina serta politisasi aliran (seperti antara Syiah dan Sunni).
Qatar dikucilkan dari akses hubungan laut, darat dan udara serta hubungan dagang, sementara para diplomatnya dipersona nongratakan dari ketujuh negara itu.
Pada awal-awal blokade, ekonomi Qatar sempat terguncang dan harga minyak mentah dunia melonjak, namun setelah Turki turun tangan menjadi “Godfather” dengan menyiapkan bantuan militer serta memasok kebutuhan impor negara itu, lambat laun dampaknya tertangani.
Menlu Qatar Sheikh Muhammad bin Abdulrahman al-Thani di sela-sela Konferensi Keamanan di Munchen, Sabtu lalu (15/2) mengaku, pihaknya selalu membuka diri untuk berdialog di forum Dewan Kerjasama Teluk (GCC).
Namun ia menyayangkan, peluang dialog antara Arab Saudi dan pihaknya yang muncul November lalu menemui jalan buntu, belum ada tanda-tanda akan dilanjutkan.
Sebaliknya, harian Arab Asharq al-Awsat yang terbit di London mengutip sumber diplomat negara itu mengatakan, penarikan diri Arab Saudi dalam dialog terjadi karena menilai negosiator Qatar tampak tidak serius mencapai kompromi.
Raja Salman dari Arab Saudi juga mengundang Penguasa Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani untuk menghadiri KTT Teluk (GCC) Desember lalu namun ia tidak hadir, hanya diwakili oleh PM Abdullah bin Nasser bin Khalifa al-Thani.
Kekompakan antarnegara Arab yang juga bisa dianggap mewakili wajah Islam merupakan keniscayaan karena jika terwujud, akan berkontribusi besar bagi kesejahteraan seluruh umat manusia dan dunia. (AP/Reuters/ns)




