Sekitar 71 Balita Asmat tewas karena Gizi Buruk dan Campak. Dompet Dhuafa sebagai lembaga kemanusiaan tak tinggal diam, respon cepat kesehatan menjambangi anak-anak Suku Asmat.
Berbulan penderitaan warga Suku Asmat, Papua, yang didera gizi buruk dan campak menghiasi layar kaca dan halaman depan surat kabar nasional. Semua masih berwacana mencari solusi. Akhirnya, inisiatif respon cepat pun hadir dari tim medis Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua.
Dokter Fitri dan relawan dari LKC Dompet Dhuafa Papua langsung bergerak menembus sulitnya akses menuju Distrik Agats, di Kabupaten Asmat, Papua, pada Selasa (16/1/2018) lalu. Terbatasnya transportasi tidak memutus semangat tim respon untuk merawat harapan sehat bagi saudara di sana.
Untuk melanjutkan aksi dr. Fitri dan tim respon LKC Papua, Dompet Dhuafa terus membuka jaringan untuk berkolaborasi mengurai kasus Gizi Buruk dan Campak di Asmat. Koneksi demi koneksi dibuka, salah satunya dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Dr. Abdul Halik Malik, MKM., pun dikirim IDI, Senin (22/1/2018), untuk terjun ke Asmat bersama Tim Relawan Dompet Dhuafa Pusat.
Ternyata, untuk mejambangi Suku Asmat di Tanah Papua, bukan sebuah perjalanan singkat dari Jakarta. Ribuan kilometer harus jelajahi. Setelah menempuh perjalanan udara lebih dari 3.700 Kilometer, dari Jakarta, Relawan Dompet Dhuafa dan dr. Abdul Halik Malik, MKM, memutuskan untuk mendarat di Timika. Harapannya adalah mendapatkan akses pesawat perintis untuk menuju Agats, Kabupaten Asmat, Papua. Namun harapan itu sirna, karena pesawat yang biasa beroperasi di sana tengah dalam perbaikan.
Tim pun berusaha mencari alternatif dengan kapal laut , namun nasib juga belum berpihak. Kapal yang berlayar dari Timika ke Agats telah berangkat dua jam sebelumnya. Tak mau menunggu lama, palnning mencari peruntungan pesawat perintis ke Merauke pun dijalankan. Tiket dadakan menuju ujung timur Indonesia itupun didapatkan. Menjelang dzuhur, relawan dan dr. Malik, mendarat di Merauke.
Sesampai di sana, tim langsung menuju kantor-kantor pesawat perintis yang biasa beroperasi terbang ke Bandara Ewer, Agats. Tapi dari catatan petugas konter pesawat-pesawat tersebut, seluruh kursi telah habis terjual hingga 31 Januari.
Strategi demi strategi pun akhirnya disusun, jaringan demi jaringan dihubungi satu per satu. Hingga akhirnya peruntungan pun datang. Tim mendapat tiket Susi Air tertanggal 25 Januari 2018, pukul 11.35 WIT. Di hari H, dalam dua jam penerbangan, akhirnya tiba juga di Asmat namun belum sampai ke lokasi Distrik Agats. Untuk menjangkau Distrik Agats, tim harus kembali menyambung perjalanan dengan speedboat sekitar 15 menit.
Posko induk kasus luar biasa menjadi tujuan utama untuk memperoleh izin dan berkoordinasi. Seusai itu barulah tim menuju lokasi-lokasi dimana anak-anak mendapatkan penanganan kasus Gizi Buruk dan Campak. Tak lupa Tim juga berkolaborasi dengan relawan lainnya untuk menyusun pergerakan respon selanjutnya.
Pagi Jumat (26/1/2018), menjadi permulaan tim kedua dari Dompet Dhuafa ini untu memberikan respon kejadian luar biasa di Asmat. Tim respon menyusuri jalanan dari papan yang ditaruh di atas rawa, beberapa papan tersambung dengan beton yang menggantung di atas rawa. Dokter Abdul Halik Malik, MKM, dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Tumijan, dari Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa Papua, bergabung dengan relawan lainnya menyisir sekolah-sekolah. Tujuan utama dari aksi ini adalah pemberian vitamin A, edukasi, dan penyuntikan vaksin campak.
“Alhamdulillah pagi ini tim Dompet Dhuafa dapat terus berkolaborasi dengan relawan lainnya dari Baznas, Da’arul Qur’an, Lazis Wahda, Sekretariat MUI Asmat, untuk memberikan pelayanan kesehatan di Asmat ini. Jangkauan pagi ini adalah memberikan vaksin bagi ratusan siswa dari TK, SD, dan SMP Yapis Agats,” ungkap dr. Malik, di sela kegiatan imunisasi campak tersebut.
Pemberian vaksin atau imunisasi menjadi penting pada kejadian luar biasa kali ini. Dengan pemberian imunisasi tersebut, harapannya adalah dapat membangun sistem kekebalan tubuh yang baik bagi anak-anak Asmat. Sehingga ke depannya, tubuh anak-anak mampu menangkal penyakit yang berpotensi membawa kecacatan maupun kematian.
“Semoga ikhtiar ini menjadi penguat sehat bagi anak-anak Asmat. Sehingga, ke depannya tidak ada lagi gizi buruk, campak dan virus lainnya di Papua, khususnya Asmat,” pungkas dr. Malik.
Teriakan Rendi (6), memecah keriuhan salah satu ruang kelas di Taman Kanak-Kanak YAPIS di Agats, Asmat, Papua. Kejadian tersebut membuat tim medis dari relawan gabungan (Dompet Dhuafa, Baznas, Daarul Quran, Lazis Wahdah), kebingungan menenangkannya. Rendi dan beberapa anak TK YAPIS lainnya, merasa takut saat melihat alat suntik imunisasi yang dibawa dokter dari relawan medis untuk kejadian luar biasa Gizi Buruk dan Campak di Asmat.
“Awalnya takut karena disuntik itu sakit rasanya. Tetapi setelah dokter suntik lengan, tidak ada itu sakit,” ucap Ewil, salah satu siswa kelas 5 SD YAPIS yang mendapatkan imunisasi.
Lebih dari 150 anak, baik siswa yang masuk di kelas pagi maupun siang di TK, SD, SMP YAPIS Agats, mendapatkan imunisasi Campak, vitamin, dan tentunya juga edukasi terkait pemenuhan gizi.
“Senang bisa ikut imunisasi dari bapak dokter. Saya tidak takut disuntik, biar nantinya terus sehat. Terima kasih bapak-bapak dokter semua,” tutur Hafifah dan Fatia, dua siswi kelas 1 SD YAPIS seusai mendapatkan imunisasi dari tim medis Dompet Dhuafa dan relawan gabungan lainnya.
Selain memberikan imunisasi dan edukasi terkait campak dan pemenuhan gizi, Dompet Dhuafa dan relawan lainnya juga bergabung dengan posko pusat untuk menyisir, serta inspeksi terkait kejadian luar biasa tersebut ke distrik-distrik yang tersebar di Kabupaten Agats.
Minggu pagi (28/1/2018) dari jam 07.00 WIT, RSUD di Agats, lebih ramai dari biasanya. Tersiar kabar bahwa ada lagi balita yang meregang nyawa lantaran kasus luar biasa Gizi Buruk dan Campak, yang tengah melanda Kabupaten di atas air tersebut.
Sebelumnya dengan mengandalkan upaya tradisional, masyarakat mengharap sehat. Namun, ketidaktahuan akan sakit yang diderita anaknya, tak jarang berujung maut ataupun menyebabkan kondisi kritis.
Salah satunya adalah Leoberti (23), kedua anaknya, Bernabas (3) dan Mario (2), harus mendapatkan penanganan serius, setelah positif Gizi Buruk. Bahkan, kondisi Mario hanya dapat beraktivitas dengan digendong saja. Berbicara pun sudah tak sanggup, merengek dan menunjuk menjadi satu-satunya komunikasi Mario. Selang nutrisi juga terpasang di salah satu lubang hidungnya. Sungguh mengiris hati.
Padahal, jarak rumah minimalis keluarga Leoberti, hanya sekitar 500 meter dari RSUD. Namun, kesadaran yang berbarengan dengan respon cepat untuk membawa anaknya berobat, belum sepenuh hati. Hingga anaknya tergolek tak berdaya, barulah Leoberti membawa kedua buah hatinya ke RSUD.
“Saya dan istri tidak tahu, anak-anak ini sakit apa. Hanya orang tua bilang kalau suruh kasih minum dan mandi air kelapa merah. Tapi, juga tetap tak sembuh-sembuh. Akhirnya saya bawa mereka ke rumah sakit. Ini sebulan sudah anak-anak di rawat di sini,” ungkap Leoberti, sembari menenangkan Mario, yang terus merengek dalam gendongan.
Panjang memang proses untuk turut merawat sehat anak-anak Asmat. Selain akses kesehatan, edukasi bagi masyarakat tentang kesehatan dan lingkungan juga menjadi penting. Karena itu pula, Dompet Dhuafa sebagai lembaga kemanusiaan tidak akan tinggal diam, ketika anak-anak Asmat berada dalam cengkeraman bayangan maut Gizi Buruk dan Campak itu.
– [Taufan dan Maifil Eka Putra]




