BARU saja diberitakan dari Sumbar, pascaran Lebaran 1444 H kemarin angka perceraian di Pengadilan Agama Padang meningkat pesat. Biasanya sehari rata-rata hanya 60 pasangan, kini meningkat jadi 100 pasangan. Kata Ketua PA setempat Nursal, pemicunya adalah kegiatan reuni yang dikemas dalam acara halal-bihalal. Gara-gara ketemu teman sekolah dulu, CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) pun terjadi dan ketika imannya masih rapuh, terjadilah perceraian itu dengan mengorbankan keluarga yang sudah dibina sekian lama.
Reuni yang berpotensi semacam itu biasanya reuni pelajar tingkat SMA dan mahasiswa. Sebab sejak sekolah mereka sudah mengenal cinta antara teman sekolah atau teman sekampus. Mereka berpacaran bak Rama dan Sinta. Tetapi karena akibat satu dan lain hal, koalisi cinta tak bisa dideklarasikan sampai di depan KUA. Justru mereka menikah dengan cewek atau cowok lain yang datang belakangan.
Untuk reuni tingkat pelajar lulusan SMP sangatlah jarang. Sebab cinta mereka dengan lain jenisnya baru sebatas cinta monyet belaka, belum sampai tingkat cinta simpanse atau gorila. Sebagaimana kata Tety Kadi dalam lagu lamanya: cinta monyet cinta anak ingusan, bila tak jumpa sehari ingin mati bunuh diri. Ekspresi cinta mereka baru sekedar surat-suratan –jaman itu belum ada internet– saja. Bila sudah pindah sekolah, sudah terlupakanlah kisah cinta lamanya.
Beda dengan cinta gaya gorila. Bila gorila biasa hanya tepuk-tepuk dada, gorila cinta sudah berani raba-raba dada sidia segala. Inilah yang membuat kesan-kesannya terpatri dalam dada. Bila sampai putus tak sampai pelaminan, bahkan banyak juga sampai hubungan kelamin, ingin mengulang kembali keindahan masa lalu itu di lain kesempatan. Sayangnya sidoi sudah milik orang lain, dirinya sendiri juga sudah punya yang lain pula.
Sejak jaman internet, disusul HP canggih bisa menghadirkan segalanya, komunikasi semakin lancar. Nah, kegiatan reuni jadi semakin marak. Dulu harus telpon atau kirim surat sebagai alat komunikasi, kini dengan WA begitu mudah mengundang teman-teman lama untuk reunian. Bila dulu hanya antar kota se-Jawa, kini bisa antar pulau, bahkan antar negara. Bagi mereka yang berduit karena jadi pejabat atau pengusaha, naik pesawat hanya untuk reuni, merupakan hal kecil dan upil. Bahkan jadi sponsornya pun siap.
Nah, di sinilah mulai muncul sisi negatifnya. Jika reuni bekas pelajar SMA dan mahasiswa, pasti di antara mereka ada juga yang memiliki kisah-kisah masa lalu bersama doinya saat studi dulu. Ketika reuni tukar-tukaran nomer HP, dan kemudian kontak-kontakan secara konsisten, pintu-pintu CLBK terbuka lebar. Bila iman kalah kuat sama “si imin”, cinta lama yang terputus itu berusaha disambungkan kembali. Dari temu kawan banyak yang dilanjutkan dengan temu ranjang. Padahal mereka sudah memiliki pasangan masing-masing.
Lebih-lebih bila mereka tak bahagia dengan pasangannya masing-masing. Koalisi cinta itu ingin dirajut kembali, sebab dengan kekasih lamanya siapa tahu rumahtangganya nanti bisa bahagia lahir batin. Karenanya tak peduli sudah ada anak, dengan teganya mereka mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama. Nah, gara-gara ini Pengadilan Agama Padang jadi produktif sekali melahirkan janda dan duda baru. Dalam sehari bisa sampai 100 orang. Bila mereka menikah dengan kekasih lama, CLBK bisa berarti: Cari Lagi Bini Kedua.
Kasus di Padang bukanlah sendirian, di daerah lain juga banyak terjadi. Banyak CLBK terjadi pasca reuni. Karenanya banyak suami yang melarang istrinya menghadiri reuni SMA atau Perguruan Tinggi. Sebab jika sampai kesambet gara-gara setan lewat, rumahtangga yang dibinanya bisa hancur berantakan. Sebab bila cinta lama sudah tumbuh subur lagi, urusan benggol bisa kalah sama bonggol.
Tahun 2007-an penulis pernah menghadiri reuni alumnus PGAA Negri Yogyakarta lulusan taun 1969. Saat pamitan pada istri, dia menanggapi dengan sinis. “Alah reunian segala, nanti ketemu pacar lama, kan?” Saya tertawa dalam hati. Kemudian lalu saya jelaskan, PGAA Negeri itu isinya lelaki semua. Ada memang PGAA Negeri yang muridnya wanita semua, tapi beda tempat. Di Yogyakarta sampai tahun 1970, PGAA Putra di Jl. Tamansari 68 (Patangpuluhan), sedangkan PGAA Putri di Jl. KH Ahmad Dalan, daerah Brantan Ngampilan. Jarak antara sekolah itu sekitar 2 Km. Barulah istriku paham dan tersenyum malu. (Cantrik Metaram).





