WABAH Corona sudah mereda, kegiatan arisan dan reuni kini marak kembali. Berbagai komunitas dan kelompok kini setiap hari Minggu tak lepas dari kegiatan arisan dan reunian. Ketimbang arisan, reuni memang lebih istimewa. Di samping waktunya temporer tak setiap bulan atau minggu, pesertanya adalah teman-teman lama yang sudah puluhan tahun tidak ketemu. Reuni memang bagian dari silaturahmi, sedangkan hadits Nabi mengatakan, silaturahmi itu memperpanjang usia dan rejeki.
Bila dianggap sebagai gaya hidup, kegiatan reuni sudah ada sejak lama, yang baru hanyalah Reuni 212 di Monas! Banyak kelompok dan komunitas menyelenggarakannya. Cuma sejak terjadi kemajuan teknologi onlin-onlinan –sebagaimana kata Prabowo– reuni sering menimbulkan ekses negative. Simak Mbah Google, kini banyak perselingkuhan pasca reunian akibat CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Soalnya atas nama cinta seseorang bisa jadi kehilangan logika, iman kalah dengan “si imin”.
Sekedar contoh, simak kejadian di Klaten (Jateng) tahun 2019 lalu; gara-gara dewi amour bisa jadi horror! Kisahnya dimulai saat Bambang Muldoko (41), menghadiri reuni sekolahnya di SMA dulu. Eh, di sana ketemu Rubiyem (40) mantan doinya dulu. Jangan salah, meski namanya hanya Rubiyem tapi orangnya tidak nyepaplem. Mantan doi cukup cantik, setidaknya menurut Bambang. Seketika itu juga kisah-kisah cinta lama mereka kembali bersliweran di benak mereka.
Acara reuni selesai, ternyata urusan masa lalu Rubiyem-Bambang Muldoko tidak selesai juga. Soalnya keduanya terus main chating berkelanjutan, sehingga terjadilah yang namanya CLBK. Kisah cinta mereka yang mangkrak seperti Candi Hambalang, mau dilanjutkan kembali. Soal di belakang sudah ada keluarga dan anak-anak, itu urusan kedualah. Gara-gara cinta yang tertunda, cara berfikir Bambang Muldoko jadi seperti Bambang Gentolet Srimulat.
“Saya akan ceraikan istriku, dan kamu juga ceraikan suamimu, lalu kita menikah menjalin keluarga sakinah.” Kata Bambang dalam teleponnnya lewat HP. Ternyata Rubiyem juga mengiyakan rencana gila mantan doi tersebut. Mereka pun berkhayal, setelah mengurus perceraian masing-masing lewat Pengadilan Agama, mereka akan segera menikah dan hidup berdua-dua bak Rama dan Sinta.
Tapi rupanya Bambang terlalu cepat ambil keputusan, macam Surya Paloh saat mencapreskan Anies Baswedan. Dia sudah menggugat cerai istrinya, dan dikabulkan Pengadilan Agama Klaten. Sedangkan Rubiyem, tidak kunjung menggugat suaminya. Bahkan terakhir dia mengambil sikap, menghentikan aksi selingkuh yang sudah digelar selama beberapa bulan ini. “Maaf, saya akan kembali fokus pada keluarga,” kata Rubiyem.
Gombil, kata Bambang Muldoko. Lalu apa artinya surat cerai yang sudah dikantonginya? Jengkel WIL-nya ingkar janji, Bambang Muldoko ajak beberapa temannya untuk menteror rumah Rubiyem di Kalikotes. Puluhan mercon dibakar tengah malam dan dilemparkan ke rumah Rubiyem. Suasananya benar-benar horror, melebihi keluarga Betawi menyambut orang pulang haji. Suami Rubiyem tentu saja tidak terima, apa lagi latar belakangnya akan mengambil alih kepemilikan istrinya. Bambang Muldoko dilaporkan ke Polres Klaten dan ditangkap.
Ini sekedar contoh, di tempat lain masih banyak kasus serupa berlatar-belakang reunian.Karenanya banyak suami istri yang ogah-ogahan mengikuti reuni, takut terjadi CLBK pada pasangannya. Maka paling aman adalah reuni tingkat SD dan SMP. Untuk SMA dan perguruan tinggi sangat berpotensi terjadinya CLBK, apa lagi bila iman kalah dengan “si imin”.
Pernah ada kejadian lucu yang dialami penulis. Ketika pamitan mau menghadiri reuni PGAN Yogyakarta angkatan 1969, istri berkomentar miring, “Ah paling-paling nanti di sana ketemu kawan lama dan CLBK.” Saya tertawa dalam hati, istri penulis tidak tahu bahwa PGAN-69 di Patangpuluhan itu muridnya lelaki semua. Memangnya mau main anggar?
Maka jika mengikuti reuni, sebaiknya istri diajak, sehingga tahu lapangan. Bagi pasangannya juga harus siap mental ketika di arena reuni suami atau istrinya dijangkar saja, hanya menyebut nama saja tanpa Pak dan Bu, meski suami/istrinya seorang pejabat. Pernah kejadian di Solo tahun 2003, seorang pejabat di Kementan hadir dalam reuni wartawan/karyawan mingguan Parikesit. Ketika istirahat di hotel oleh panitia beliaunya dijadikan satu kamar dengan bekas temannya yang dulu menjadi pesuruh. Dia tersinggung berat dan langsung balik ke Jakarta tanpa pamit.
Jika menghadiri rauni, lepaskan semua atribut sekarang, baru terasa indah dan bahagia, tak perlu minder karena kurang sukses dalam kehidupannya. Jika bersikap macam pejabat Kementan itu, bukan melestarikan silaturahmi, tapi malah memutusnya. Padahal hadits Nabi mengatakan, “Perbanyaklah silaturahmi, karena silaturahmi akan memudahkan rejeki dan menunda ajal.”
Berkat reuni dan saling berhubungan, peluang memperoleh pekerjaan bagi penganggur, jadi terbuka. Tanggal tua keuangan sudah limit, berkat banyak teman silaturahmi ada yang meminjami atau malah memberi. Tapi sekedar humor, teman penulis yang bergelar Prof. Dr. dari Yogyakarta bilang, silaturahmi memperpanjang umur karena, ketika nyawa mau dicabut malaikat Izroil, orangnya sedang pergi silaturahmi. Memangnya sang malaikat tak kuasa untuk mencegatnya? (Cantrik Metaram)





