Revitalisasi TIM

Wujud TIM setelah direvitalisasi nanti, planetariumnya tinggal nyenil, tenggelam oleh banyaknya bangunan megah.

YANG namanya seniman cenderung ingin tampil sederhana dan seadanya. Tapi Gubernur DKI Anies Baswedan ingin memuliakan mereka. Karenanya ketika pusat kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) hendak direvitalisasi, sekalian dibangun pula hotel berbintang 5. Agar ketika para aktivis seni itu tampil di TIM, bisa tidur nyaman di kamar ber-AC, mandi pakai air hangat. Sayangnya mereka tidak diajak musyawaroh dan mufakot, sehingga mereka malah mempertanyakan: ini revitalisasi ataukah komersialisasi TIM?

Siapapun mengakui, Arswendo Atmowiloto (alm) dan Sudjiwo Tedjo adalah seniman sekaligus budayawan. Pernahkan melihat mereka berpenampilan rapi, pakai jas dan berdasi, rambut tersisir rapi? Tidak pernah! Bagi seniman, penampilan luar itu tak penting, yang penting isi otaknya dan hasil kerja tangannya bisa mengguncang dunia.

Tidur di ruang ber-AC itu nyaman, tapi tak semua seniman tahan dengan dinginnya AC. Gelar karpet atau bahkan sekedar beralaskan spanduk bekas kampanye, mereka sudah mampu merenda mimpi. Maka gagasan menyediakan hotel berbintang 5 bagi seniman, adalah percuma saja, karena mereka tidak butuh itu. Mereka hanya butuh fasilitas yang menunjang aktivitas karya seninya.

Beberapa hari lalu ada pertemuan antara Pemprov DKI dengan para seniman TIM, untuk membicarakan tentang revitalisasi pusat kesenian Jakarta. Tapi terjadi kebuntuan, sehingga Deputy Gubernur bidang budaya Dadang Solihin membentak-bentak para seniman. “Mau diskusi, tidak?” kata sang deputy dengan nada tinggi. Mereka adalah orang-orang berjiwa lembut, dikasari seperti itu tentu saja berontak.

Sepertinya para seniman TIM itu sengaja ngambek, karena mereka tidak diajak bicara sebelumnya. Tahu-tahu bulan Juli 2019 ada peletakan batu pertama oleh Gubernur Anies Baswedan. Revitalisasi itu dianggarkan Rp 1,8 triliun, di antaranya revitalisasi mesjid Amir Hamzah, pembangunan gedung parkir, areal kuliner, termasuk juga pembongkaran Galeri Cipta yang meliputi bioskop XXI, dan Pos Pemadam Kebakaran. Sementara cakupan yang akan di-upgrade, antara lain: Planetarium dan Galeri Graha Bhakti.

Kata Gubernur Anies, revitalisasi TIM perlu agar nantinya bisa menjadi pusat kebudayaan Asia bahkan dunia. Agar para seniman yang menghadiri event-event di TIM tak perlu menginap di hotel-hotel  di luar, maka dibangun hotel berbintang 5 di situ. Di sinilah jiwa seni para seniman mulai berontak, membangun hotel berbintang 5 di TIM berarati telah terjadi komersialisasi gedung peninggalan Bang Ali tersebut. Padahal sedari awal TIM sifatnya non profit, dibangun untuk kiprahnya para seniman, bukan untuk mencari untung.

Jika di TIM dibangun gedung teater megah sebagaimana gedung opera di Sydney Australia, okelah. Tapi ini hotel bintang 5 dibangun di pusat seni dan budaya. Alasan Gubernur agar seniman tak usah cari penginapan di tempat lain, bagi mereka sangatlah aneh. Dulu Bang Ali siap nombok demi menghidupi TIM. Tapi Gubernur sekarang, merasa rugi karena TIM tiap tahun didanai Rp 22 miliar, sedangkan pendapatannya hanya sekitar Rp 8-10 miliar. Maka PT Jakpro beralasan, nantinya keuntungan hotel digunakan juga untuk segala kegiatan seni budaya di TIM.

Revitalisasi TIM sampai menghabiskan anggaran Rp 1,8 triliun menjadi sangat fantastis. Pembangunan ulang mesjid Amir Hamzah dan fasilitas seni lainnya taruhlah menghabiskan Rp 200 miliar, berarti untuk hotelnya sendiri Rp 1,6 triliun. Maka Rajabonar – RBTV di chanel Youtube menilai, inilah pinternya PT Jakpro. Bangun hotel bintang 5 tak perlu beli tanah, cukup numpang dengan mengatasnamakan revitalisasi.

Ketika para seniman TIM mengajukan keberatan, sayangnya pembangunan sudah berjalan. Mana mungkin disetop. Meski dana pembangunan dipangkas DPRD sampai Rp 400 miliar, itu mah kecil. Direncanakan revitalisasi sekaligus komersialisasi TIM ini akan selesai Juni 2021. Pepatah kotemporer mengatakan: biarlah seniman TIM “menggonggong”, PT Jakpro tetap berlalu. (Cantrik Metaram)

Advertisement