Revolusi Susu Putih

Anak SD minum susu tiap pagi pernah jadi program pemerintah dari jaman Orla hingga Orba.

PADA era pemerintahan Presiden Sukarno ada istilah terkenal sekali: Revolusi Belum Selesai. Kini di era Jokowi muncul istilah baru: Revolusi Mental. Tiba-tiba sekarang Prabowo Ketum Gerindra memunculkan istilah baru: Revolusi Putih. Apa pula ini? Istilah ini demikian bombastis. Sebab dengan istilah “revolusi” saja, orang akan terbayang pada soal ketata-negaraan. Tapi ketika kata “revolusi” dipadukan dengan kata “putih”, yang dimaksudkan Prabowo ternyata:  anak SD DKI Jakarta setiap pagi minum susu putih tanpa kopi! Oo….., itu to?

Ya, di Jakarta, seiring dengan pergantian pemimpin baru, Ketum Gerindra minta pada Gubernur DKI Anies Baswedan untuk melaksakanakan “Revolusi Putih” dalam arti: semua murid SD hingga SMA di Ibukota tiap pagi minum susu. Agar mereka menjadi anak yang cerdas dan tumbuh sehat. Bukankah lagu “Anak sehat” karya AT Mahmud selalalu mengingatkan: Aku anak sehat tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat, semasa aku bayi selalu diberi ASI, makanan bergizi dan imunisasi….. dan seterusnya.

Pesan lagu itu sangat bagus. Tapi sebagaimana kata Prabowo, pemberian susu itu harus berkelanjutan. Bukan dari ASI saja, tapi juga harus dari susu sapi. Sebab susu itu kaya akan kalsium yang berfungsi untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi. Bila susu itu selalu diberikan dalam masa pertumbuhan, niscaya anak-anak SD hingga SMA akan menjadi sehat dan cerdas. Di tangan generasi muda yang sehat dan cerdas inilah, Indonesia ke depan akan menjadi negara yang berjaya, bisa kuasai Freeport seutuhnya.

Mendengar kata “Revolusi Putih” awalanya orang akan berpikir tentang pergantian sistim kekuasaan secara cepat tapi damai. Jika praduga sederhana, misalnya seluruh penduduk DKI Jakarta diwajibkan mengecat tembok rumahnya dengan cat putih. Jaman Golkar masih jaya, di Jateng Gubernur Suwardi pernah mewajibkan tembok-tembok dan pepohonan dicat kuning. Tapi jaman itu juga tak sampai ada istilah “Revolusi Kuning”.

Soal minum susu putih tanpa kopi, yang kemudian diwajibkan kepada murid SD, sebetulnya bukan sekarang saja. Jaman “Revolusi Belum Selesai”-nya Bung Karno, tahun 1960-an murid SR juga diwajibkan minum susu putih bantuan Unicef. Jaman Pak Harto tahun 1980-an, SD-SD juga dapat pembagian susu kotak yang berlabel “Susu Sekolah”. Jaman “Revolusi Mental”-nya Jokowi sekarang, Prabowo juga menginginkan pembagian susu itu.

Menkes Nila F. Muluk langsung tidak setuju dengan gagasan itu, karena di sini sedikit  terjadi salah paham. Maksud Prabowo hanya untuk DKI, tapi Bu Mentri menganggapnya secara nasional, sehingga dikatakannya, “Untuk 250 juta penduduk, mana cukup sapi-sapi kita?” Kekhawatiran Bu Menteri tidak salah, sebab jika dipaksakan paling-paling solusinya: impor sapi. Dan ini yang untung lagi-lagi importir.

Kata Menkes, kecukupan gizi anak tak harus pakai susu sapi. Ada makanan lain yang memiliki gizi sama dengan susu, tetapi pasokannya jauh lebih berlimpah untuk mencukupi kebutuhan seluruh anak di Indonesia. Makanan tersebut tidak lain adalah ikan. Nah, Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti pasti siap memasoknya, sepanjang tak dicolongi nelayan asing.

Susu segar di Jakarta perliter sekitar Rp 10.000,- itu sangat murah dibandingkan dengan susu kuda liar yang diiklankan di radio swasta. Tapi tak semua anak Ibukota bisa menikmati. Maka jika program “Revolusi Putih”-nya Prabowo ini berjalan di DKI, diharapkan generasi muda Jakarta ke depan menjadi cerdas, sehat, dan kuat; rosa-rosa macam Mbah Marijan. (Cantrik Metaram)

           

 

 

 

Advertisement