DULU KPK memberikan rompi warna oranye pada tersangka kasus korupsi dengan maksud agar ada efek jera. Artinya, orang berpikir dua kali untuk berbuat korupsi. Tapi yang terjadi, para pemakai rompi oranye itu malah senyum-senyum ketika digelandang ke Rutan KPK. Agar ditakuti, agaknya KPK perlu mengubah warna baju rompi tersebut. Misalnya menjadi lorek-lorek hitam putih macam napi dalam kartun.
Tanggal 27 Januari lalu, ketika Patrialis Akbar keluar dari ruang pemeriksaan KPK dengan rompi oranye bertuliskan: tahanan KPK, dia santai-santai saja. Tak ada sebersit rasa malu di wayahnya. Bahkan kepada pers dia berteriak lantang, “Demi Allah, saya didzolimi. Karena saya dijadikan tersangka, MK jadi tercoreng karenanya.”
Itu masih mending. Para tersangka KPK lainnya ketika mengenakan rompi oranye KPK itu justru melambaikan tangan sambil tersenyum dan cengengesan. Sepertinya mereka sudah putus urat malunya, atau menganggap korupsi sudah jamaknya di negara berkembang, atau juga merasa bahwa dirinya tidak merasa korupsi. Padahal sesungguhnya, putusnya urat malu itu lebih berbahaya ketimbang putusnya tali celana kolor.
Putusnya celana kolor, paling-paling resikonya terlihat dia punya kemaluan. Tapi yang putus urat malunya, meskipun bertindak yang malu-maluin, tapi sama sekali tidak merasa malu. Baginya itu merupakan hal yang wajar saja. Alasannya, di sana-sini juga melakukan, jadi apa salahnya bila menjadi “Pak Turut” alias ikutan saja, misalnya menjadi koruptor itu tadi.
Sesuatu yang banyak persamaanya, memang tidak lagi menarik. Seragam koruptor versi KPK, kenapa berwarna oranye? Sebab di lembaga lain, seragam oranye juga sudah banyak dipakai. Tukang parkir di Jakarta misalnya, sejak tahun 1970-an, sudah pakai rompi berwarna oranye. Kemudian Basarnas (Badan SAR Nasional) yang tugasnya mengurusi soal bencana, juga mengenakan baju warna oranye.
Bahkan ISIS yang bersimaharajalela di Suriah sana, juga memilih warna oranye untuk seragam pasukannya. Gara-gara warna itulah, pemerintah Yordania berencana mengganti seragam pakain pekerjanya dengan warna lain. Mereka tidak mau para pekerja di negerinya dianggap identik ISIS yang demen menebar maut di Timur Tengah.
Paling populer di Jakarta dewasa ini adalah: Pasukan Oranye yang istilah resminya PPSU (Petugas Prasarana dan Sarana Umum). Mereka adalah satuan kerja yang dibentuk Gubernur Ahok. Tugasnya bersih-bersih lingkungan membantu warga, karena Ahok menyadari bahwa orang Jakarta terlalu sibuk mencari nafkah, sehingga tak sempat mengurusi kebersihan di lingkungannya. Dengan petugas 15.000 orang se DKI, sebulan Pemprov paling tidak mengeluarkan Rp 45 miliar untuk Pasukan Oranye tersebut.
Tapi ternjata dari para pengguna seragam oranya itu punya benang merah yang sama, yakni: tukang pungut! Bagaimana tidak? ISIS itu kan kerjanya pungut nyawa orang dengan cara yang keji. Siapa saja yang melawan gerakan daulat khilafah, dibinasakan dengan cara keji dan semena-mena.
Tukang parkir demikian juga. Dia pekerjaannya sebagai tukang pungut retribusi kendaraan, yang memparkir motor atau mobilnya di areal tanah wilayah hukum Jakarta. Sejak pungutan parkir dikelola Pemprov DKI sendiri, PAD (pendapatan asli daerah) dari parkir meningkat pesat. Biasanya dikeloa swasta DKI hanya dapat setoran Rp 40 juta setahun, kini hanya dalam waktu seminggu untuk sebuah areal parkir bisa menghasilkan Rp 40 juta. Pantas saja pengusaha banyak yang membenci Ahok.
PPSU dan koruptor sama saja, mereka juga tukang pungut. PPSU memunguti sampah, sedangkan koruptor memunguti uang negara secara tidak resmi dan jumlah besar. Maka agar para koruptor punya rasa malu, sebaiknya KPK mengganti seragam tahan itu dari oranye menjadi loreng-loreng hitam putih. Semoga mereka jadi malu karenanya jadi koruptor. (Cantrik Metaram)





