
KONFLIK berdarah di Suriah yang berkecamuk sejak 2011, diramaikan lagi dengan rontoknya dua pesawat tempur Suriah, Sukhoi SU-24 Fencer oleh lawannya, pesawat-tempur F-16 “Fighting Falcon” Turki.
Dua pesawat itu jatuh (29/2) di tengah memanasnya situasi di Provinsi Idlib, barat laut Suriah yang berbatasan dengan Turki, juga menjadi benteng terakhir pasukan pemberontak melawan rezim Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad.
Tentu saja Rusia sebagai pendukung rezim al-Assad yang memiliki pangkalan udara di Khmeimim, Provinsi Latakia dan pangkalan AL di Tartus berang atas jatuhnya pesawat tempur milik koalisinya yang juga buatannya itu.
“Komando Gugus Tugas Rusia di Suriah tidak bisa menjamin keamanan pesawat-pesawat Turki yang beroperasi di langit Suriah, “ demikian pernyataan yang dikutip kantor berita TASS.
Penampilan pesawat-pesawat tempur buatan Rusia atau eks-Uni Soviet dalam duel udara (dog fight) di berbagai palagan Timur Tengah agaknya memang mengecewakan.
Dua SU-24 nahas itu diduga ikut dalam pengeboman ke wilayah Idlib dua hari sebelumnya (Jumat 27/2), menewaskan 33 anggota pasukan Turki yang mempertahankan wilayah itu bersama milisi pemberontak Suriah.
SU-24 dibuat Uni Soviet dan terbang perdana pada 1971 untuk menggantikan pesawat Ilsyuhin Il-28 dan Yakovlev Yak-28, berdaya jelajah sampai 560 Km dan mampu melaju sampai kecepatan Mach 1.4 (kecepatan suara).
Dengan sayap ayun (swing-wing), SU-24 yang didisain sebagai pesawat serang darat mampu menggembol enam ton persenjataan, baik di badan maupun pilon di bawah sayap a.l. rudal udara ke udara R-60, rudal udara ke darat Kh 31P dan Kh23 serta konfigurasi bom dan roket.
Selain Rusia, pesawat dengan beberapa varian yang yang sudah diproduksi 1.200 buah itu, sampai kini juga masih dioperasikan oleh Suriah, sejumlah negara sempalan eks-Soviet, juga negara-negara Arab seperti Irak, Irak dan Libya.
F-16 Fighting Falcon
Sebaliknya, F-16 yang mulai diterbangkan 1978, sudah diproduksi sebanyak 4.000 unit dan digunakan oleh 24 negara termasuk TNI-AU (sejak 1980-an menggunakan F-16 seri A/B dan C/D, serta baru saja (2019) memesan dua skadron (24 unit) seri terakhir F-16 Viper, pesawat generasi kelima yang berkemampuan siluman (stealth).
Keandalan F-16 sebagai pesawat tempur multi guna terus ditingkatkan, mulai dari seri A sampai F yang masing-masing terdiri dari beberapa blok (misalnya Seri A/B terdiri dari blok 1,5, 15,20 dan OKU).
F-16 mampu melaju pada kecepatan Mach-2 atau 2.450 Km/jam dan menggembol 7, 7 ton persenjataan a.l. rudal udara ke udara AIM-7 Sparrow dan AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM serta rudal udara ke darat AGM-65 Maverick.
Dalam duel udara di atas perbatasan Turki dan Suriah (25 Nov. 2015), sebuah pesawat F-16 Turki juga berhasil menembak jatuh SU-24 milik Rusia yang akan kembali ke pangkalan udara Khmeimim di Suriah karena dianggap menereobos wilayahnya.
Pesawat lainnya yakni jenis intai milik Rusia Ilyushin IL-22 jatuh dirudal kawan sendiri (friendly fire) oleh satuan pertahanan udara rezim Suriah saat berpatroli di atas pesisir Laut Mediterania Sept. 2018,
Agaknya IL-22 nahas itu “dikerjain” oleh pesawat-pesawat F-16 AU Israel yang bermanuver di dekat jalur terbang sama sehingga begitu tampak di layar radar, operator rudal di darat langsung meluncurkan rudalnya hingga salah sasaran.
Dalam insiden di Teluk Sidra, di langit pesisir Libya pada 19 Agustus 1981, dua pesawat sekeluarga dengan SU-24 yakni SU-22 Fitter milik AU Libya yang coba-coba mendekati kapal induk AS, dicegat, lalu dijatuhkan oleh pesawat Tomcat F-14 AL AS.
Duel Udara di Lembah Bekaa
Reputasi terburuk pesawat-pesawat eks Soviet tercatat dalam duel udara terbesar sejak PD II dimana 95 unit pesawat F-14 Tomcat, F-14 Eagle dan F-16 Israel (buatan AS) merontokkan 80-an pesawat MiG 21 Fishbed Suriah di atas Lembah Bekaa, Lebanon, Juni 1982.
Waktu itu, pesawat-pesawat Israel yang usai mengemban misinya melumpuhkan belasan situs rudal pertahanan udara Suriah, dihadang oleh lebih seratus MiG-21, namun akibat tidak adanya dukungan dari darat dan gangguan elektronika oleh drone-drone Israel, pesawat-pesawat Suriah itu menjadi bulan-bulanan lawannya.
Suriah dalam duel udara itu kehilangan hampir separuh kekuatan udara dan juga pilot-pilot terbaiknya serta jutaan dollar dari harga pesawat-pesawat yang dijatuhkan lawan.
Sementara dalam Perang Enam Hari, Juni 1967, ratusan pesawat tempur Mesir yang menjadi kekuatan koalisi Arab, tak sempat mengudara karena keburu dihancurkan di landasan oleh pesawat-pesawat Israel yang mengambil inisiatif penyerangan.
Di palagan tercepat di dunia itu, Israel menggunakan pesawat-pesawat buatan Dassault, Perancis yakni Mirage dan Super Mystere serta Phantom F-4 eks-AS, sementara Mesir menggunakan MiG-15, MiG-17, MiG-19 dan MiG-21 serta pembom TU-16 (semua eks- Soviet).
Perang udara selain adu kecanggihan teknologi pesawatnya sendiri, sistem penjajak, radar dan persenjataan yang digembolnya , juga sistem elektronika yang bisa mengacaukan orientasi lawan, ditentukan pula oleh mumpuni tidaknya para pilot yang menjadi petarungnya.
Dari sudut kemanusiaan, bisa dibayangkan duka sanak keluarga pilot yang pesawatnya dijatuhkan lawan, juga para petinggi militer pihak yang menang atau kalah, namun dari sisi bisnis, tentu pesawat-pesawat yang keluar sebagai pemenang menjadi promosi menguntungkan bagi pembuatnya.
Perang, yang jelas menguntungkan produsen senjata, karena harga sebuah pesawat tempur bisa ratusan milyar, bahkan sampai di atas satu triliun rupiah, belum pesenjataan dan biaya litbangnya. (dari berbagai sumber/NS)
.




