
TANGGAL 11 September 2022 sudah lewat beberapa hari lalu. Hari itu Radio Republik Indoesia memperingati hari lahirnya yang ke-77. Sekali di udara tetap di udara, begitu semboyannya. Tapi faktanya justru RRI yang masuk udara (angin), karena pemerintah kurang memperhatikannya. Sejak tahu 2011 ada wacana RRI-TVRI akan digabungkan menjadi RTRI (Radio-Televisi Republik Indonesia), tapi sampai sekarang RUU-nya tak kunjung selesai dibahas di DPR.
RRI dan TVRI berjaya ketika masih ada Departemen Penerangan. Tapi ketika kementrian itu dibubarkan Presiden Gus Dur dan pada masa Presiden Megawati diganti menjadi Kementrian Informasi dan Komunikasi (Kominfo), peran RRI dan TVRI meredup, apa lagi setelah internet dan medsos sebagai turunannya jadi panglima. RRI misalnya, kini menjadi LPP (Lembaga Penyiaran Publik) RRI. Pegawainya bukan lagi ASN, jadi mirip BUMN tapi lembaga ini tidak mencari untung.
RRI di masa Orde Baru baru memiliki sekitar 40 studio RRI di seluruh Nusantara, kini sudah berkembang menjadi 90-an. Dulu RRI dibagi menjadi 3 wilayah operasional, sehingga ada istilah RRI Nusantara I Medan melayani siaran Indonesia bagian barat, RRI Nusantara II Yogyakarta untuk wilayah Indonesia tengah dan RRI Nusantara III Ujungpandang untuk wilayah Indonesia Timur.
Ironisnya sekarang, meski LPP RRI sudah memiliki studio penyiaran di 90 kota, tapi gaungnya tak begitu terasa. Dulu setiap pukul 06:00, 07:00, 08:00 dan siang hari pukul 12:00, 01:00, 02:00 lalu pada malam hari pukul 19:00, pukul 20:00 dan pukul 22:00, RRI menyiarkan warta berita secara sentral dari RRI pusat Jakarta yang direlay oleh semua RRI. Perhatikan, beberapa menit sebelum penyiar RRI mambacakan beritanya, pasti diawali music instrumental lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki.
Di masa Menpen Harmoko yang praktisi pers (wartawan), siaran berita RRI digeber habis. RRI harus siaran 24 jam, dan warta berita setiap jam. Kebijakan ini sangat merugikan orang Jawa penggemar wayang kulit setiap malam Minggu. Bayangkan, siaran wayang kulit dimulai pukul 21:00, nanti pukul 22 sampai pukul 05:00 tiap jamnya selalu diputus 10 menit untuk warta berita. Itu kan mengakibatkan cerita kidalang tak bisa didengarkan secara utuh.
Di masa Orde Baru RRI memang punya kebiasaan tentang siaran wayang kulit di wilayah RRI Nusantara II, minggu pertama RRI Semarang, minggu kedua RRI Yogyakarta, minggu ke-3 RRI Surakarta, dan minggu ke-4 bisa RRI Jakarta atau Surabaya. Jika ada minggu ke-5, minggu ke-4 tak ada siaran wayang kulit.Entah kenapa RRI Purwokerto, RRI Madiun dan RRI Jember tak kebagian slot, padahal kota-kota itu juga gudangnya orang Jawa penggemar wayang.
Di masa Orde Baru RRI nyaris tanpa saingan. Ada memang radio swasta, tapi setiap jam warta berita RRI harus juga ikut merelaynya. Padahal berita RRI itu isinya yang baik-baik melulu, berupa pembangunan, ekonomi, politik, bencana alam dan kecelakaan lalulintas. Berita kejahatan (kriminal) tidak ada. Sumber beritanya pun kebanyakan mengutip LKBN Antara yang yang isinya dijamin halal meski tanpa label dari MUI.
Tahun 1967-1970 adalah masa ABG-nya penulis, di mana kala itu radio swasta sedang bertumbuhan dan radio transistor murah meriah sedang digemari masyarakat kelas bawah. Orangtua penulis baru memiliki tahun 1968, ketika penulis dapat rapelan Ikatan Dinas dari sekolah PGAN Yogyakarta. Rapelan sebanyak Rp 8000,- itu yang Rp 4.000,- saya belikan radio Telesonic satu band, sisanya kuberikan pada simbok. Tetangga penulis yang orang kaya tahun 1962 sudah memilikinya meski harus jual sawah sepetak untuk membeli radio Ralin.
Di masa itu radio merupakan hiburan satu-satunya. Maka penyiar RRI menjadi idola remaja. Penulis ngefans pada penyiar RRI Yogyakarta yang bernama Bagus Giarto, Sri Lestari Kartaningrat dan Mimi Notokesuma. Sri Lestari cantik, Mimi Notokesuma ketawanya sensual. Maka ketika penulis bikin buku Nostalgia Anak Kampung setebal 600 halaman, Bagus Giarto penulis kejar ketemu di Kaliurang, Sri Lestari Kartaningrat di Bratang IV Surabaya.
Penulis dan kebanyakan pendengar RRI punya acara favorit, misalkan Ketoprak RRI Yogyakarta malam Kamis, Ludruk RRI Surabaya malam Selasa, Wayang Orang RRI Surakarta malam Rabu, Uyon-Uyon RRI Jakarta hari Minggu siang dan RRI Yogyakarta malam Selasa dengan maskotnya Pangkur Jenggleng Basiyo.
Sandiwara radio RRI Yogyakarta ngetop dengan siaran di Minggu malam. Grup sandiwara “Keluarga Yogya” pimpinan Sumardjono ini mengambil pemain kebanyakan penyiarnya sendiri, misalnya Hastin Atas Asih, Sri Lstari Kartaningrat, Bagus Giarto, dan Mimi Notokesuma. Ketika dia berperan jadi Mulyaningsih dalam lakon “Raden Mas Basuki” dia main begitu menawan. Makanya ketika Mimi Notokesuma ditugaskan ke Radio Jerman, penulis jadi “patah hati” karenanya.
Penulis hafal gelombang banyak RRI. Misalya RRI Jakarta di gelombang 42M, RRI Yogyakarta 127,6 M dan 59, 43 M. RRI Semarang 76 M dan RRI Surabaya 75 M. RRI Solo mengudara di gelombang 63 M berdekatan dengan RRI Ujung Pandang dan RRI Palembang. Bila RRI Yogya penyiar favoritnya Bagus Giarto dan Hastin Atas Asih, RRI Surabaya punya Edy Mulyono, RRI Surakarta Triwik Maladi, RRI Palembang Herman Sawiran dan RRI Ujungpandang Komarudin.
Untuk RRI Jakarta dikenal lewat penyiar warta beritanya, misalnya: Sazli Rais, Dachri Oskandar, Zulchaidir, Maryono, Hasan Ashari Oramahe, Olan Sitompul, Edy Sihombing, Edwin Rondonuwu, Popy Tindas. Hastin Atas Asih dari RRI Yogyakarta pernah ditarik ke Jakarta, tapi tak lama kemudian meninggal atau wafat kata anak muda sekarang.
Acara anak muda di RRI sebelum tahun 1970-an adalah Pilihan Pendengar. Meski bayar, dibela-belain juga. Di RRI Yogyakarta pemesan lagu terbanyak hanyalah Hartuti dan Harjito. Usut punya usut mereka adalah anak tukang sate langganan RRI yang studionya di Jl. Ahmad Jazuli No. 4 samping mesjid Syuhada. Sedang warung sate itu sendiri di depan stasiun Tugu.
Bagaimana anak muda sekarang, maukah kirim lagu lewat radio dengan membayar? Boro-boro! Mendengarkan RRI saja tak pernah, karena meski RRI masih tetap mengudara, tapi sudah kalah pamor dengan internet dengan berbagai turunannya. Tapi bagi penulis RRI tetap berada di lubuk hati. Setiap nonton di Youtube bagaimana musik RRI buka siaran yang penuh semangat dan lagu mendayu-dayu saat tutup siaran tengah malam, merinding rasanya. Dan kebahagiaan tak terkira adalah ketika penulis mantu beberapa tahun lalu, saksi dari pengantin wanita adalah Parni Hadi mantan Dirut RRI, sementara saksi dari pihak pengantin pria adalah Sarwono mantan Kepala RRI Jakarta.
Semoga saja RUU penggabungan RRI-TVRI itu segera masuk prolegnas DPR sehingga RTRI segera terwujud. Sebab “penyakit” DPR kita adalah, untuk RUU yang menyangkut kepentingannya para anggota dewan, cepat selesai sebulan dua bulan. Giliran wacana RTRI ini, dari jaman dinasti Ming sampai sekarang tak ada kelanjutannya. Meski telat, penulis ucapkan selamat HUT ke 77 dan semoga RRI tetap sekali di udara tetap di udara, tapi jangan masuk udara! (Cantrik Metaram).




