RS di Sejumlah Daerah Penuh

Ilustrasi Tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy) di sejumlah RS di seluruh Indonesia sudah rata-rata 60 persen, bahkan wilayah DKI Jakarta dan Bandung mencapai 80 persen, sementara lonjakan kasus Covid-19 terus terjadi dan nakes termasuk dokter kelelahan dan sudah 503 orang gugur.

JUBIR Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito  mengungkapkan, tingkat keterisian tempat tidur pasien (bed occupancy) di RS rujukan Covid-19 di sejumlah provinsi sudah mencapai rata-rata 60 persen akibat lonjakan penambahan kasus postif harian akhir-akhir ini.

“Di sejumlah provinsi sudah di atas 60 persen, bahkan di DKI Jakarta, sudah melebihi angka 80 persen, dan sebentar lagi bakal penuh, “ tutur Wiku dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (12/1).

Untuk itu Menkes telah meminta agar pengelola RS meningkatkan alokasi tempat tidur pasien Covid-19 menjadi 30 sampai 40 persen, mengingat semakin tingginya lonjakan kasus,  semakin tinggi pula tingkat keterisian tempat tidur pasien Covid-19 di RS.

Setidaknya, 30 persen dari total kasus aktif Covid-19 membutuhkan perawatan di rumah sakit, sehingga jika tempat tidur di fasilitas kesehatan penuh, pasien Covid-19 baru tidak akan bisa tertangani RS.

“Jika tingkat keterisian tempat tidur pasien Covid-19 mencapai 60-70 persen, petugas kesehatan bakal sangat kewalahan dan apabila terus meningkat, beban mereka akan semakin besar dan petugas juga semaki rentan terhadap potensi penularan Covid-19, “ tutur Wiku.

Wiku mengingatkan, pada bulan Desember 2020 saja tercatat 49 orang dokter yang gugur akibat tertular Covid-19 dan sejauh ini sudah lebih lima ratus dokter, perawat dan nakes lainnya yang gugur.

Ia tak menghendaki, angka kematian nakes terus bertambah setiap har sehingg a, baik pemerintah maupun masyarakat umum berkewajiban melindungi para tenaga kesehatan melalui disiplin penerapan protokol kesehatan pencegahan virus corona. “Tidak selayaknya kita kehilangan tenaga kesehatan akibat dari kelalaian kita,” ujar Wiku.

Sementara terbatasnya jumlah ruang isolasi membuat pasien yang terindikasi Covid-19 di wilayah Bandung dan sekitarnya harus mengantri sehingga akibatnya, mereka dirawat di lorong-lorong ruang UGD hingga tempat kounter pendaftaran UGD.

Berdasarkan pantauan di RS Al-Islam Bandung, pasien yang ingin mendapatkan perawatan dan sekadar menjalankan tes swab sudah antri sejak pukul 09.00 WIB dan beberapa pasien dengan kursi roda tampak di luar dan menanti giliran dipanggil.

Di lorong UGD menuju tempat pendaftaran, pasien lengkap dengan alat bantu pernafasan terlihat di sejumlah titik. Ada yang di dekat pintu gerbang, bawah tangga, dan depan tempat pendaftaran. Mereka terlihat ditemani keluarga pasien.

“Kata perawatnya ruang isolasi penuh. Itu juga yang di lorong menunggu masuk ke ruang isolasi,” ujar salah satu penunggu pasien.

Novia yang mengaku mengantarkan ibunya dengan gejala Covid-19 semula akan diisolasi di RS Al-Islam, tetapi ibunya masuk kategori sedang, sementara ruang isolasi diprioritaskan bagi pasien kategori berat. Jadi hari ini, ibunya hanya tes swab dan isolasi mandiri di rumah.

“Tadi ada pasien Covid-19 yang dirawat di lorong meninggal. Almarhum lagi menunggu masuk ke ruang isolasi,” katanya. RS yang penuh bukan cuma RS Al Islam, karena sebelumnya Novia juga sempat mengontak RS AMC dan kondisinya penuh juga. Ada 19 orang yang antri di ruang isolasi, sebagian mengenakan alat bantu pernafasan.

Pada Rabu (13/1) tercatat penambahan kasus baru sebanyak 10.047 menjadi  846.765 kasus, 302 orang meninggal menjadi 24.645 orang dan 7.068 pasien dinyatakan sembuh menjadi 995.807 orang.i

Kasus harian Covid-19 terus meningkat, dari 8.000-an kasus pada dua pekan lalu, menjadi 9.000-an dan beberapa hari ini sudah tembus 10.000, sementara positivity rate juga mencapai 29 persen lebih. Artinya dari seratus orang yang diambil specimennya, 29 positif, jauh diatas lima persen pada level bisa dikendalikan yang  ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).   (kompas/ns)

 

 

 

 

Advertisement