OPSI militer mulai dipertimbangkan oleh Amerika Serikat guna memaksa Korea Utara menghentikan ujicoba rudal balistik dan program pembuatan bom nuklir yang dianggap mengancam sejumlah negara tetangganya.
Korut sepanjang tahun ini kian sering melakukan ujicoba rudal, terakhir Selasa lalu (4/7) meluncurkan rudal balistik antar benua (ICBM) Hwasong-14 yang diklaim mampu menjangkau wilayah Alaska di AS.
Menurut pihak Korut, rudal yang diluncurkan dari barat laut negara itu berhasil melesat selama 39 menit sejauh 933 Km pada ketinggian 2.802 Km. Jika melayang pada ketinggian standar (di bawah 1.000 Km), jangkauan rudal bisa sejauh 8.000 Km atau mencapai daratan AS.
Tentu saja perkiraan kemampuan rudal didasarkan asumsi, jika diarahkan ke wilayah AS tidak dihadang oleh rudal anti rudal Patriot atau sistem pertahanan area di ketinggian cakrawala (Terminal High Altitude Area Defence – THAAD) yang radarnya mampu mengendus pergerakan rudal sejak disiapkan di titik luncurnya.
Pengamatan pihak AS juga tidak berbeda jauh, dengan menyebutkan Hwasong-14 Â Â Â adalah rudal jarak menengah (IRBM) yang diluncurkan dari pangkalan Panghyon, melayang selama 37 menit sebelum jatuh di Laut Jepang, sementara Rusia menyebutkan, rudal melesat di ketinggian 536 Km sejauh 510 Km.
Pada ujicoba sebelumnya (14/5) , rudal Hwasong-12 meluncur pada ketinggian 2.111 Km sebelum tercebur di laut sejauh 787 Km dari pusat peluncurannya, sementara pada uji coba berikutnya (21/5) rudal Pukguksong-2 menjangkau 500 Km.
Peluncuran rudal balistik Korut yang dikhawatirkan mampu membawa hulu ledak nuklir (nuclear warhead) Â dilarang berdasarkan Resolusi PBB Nomor 1718 yang dikeluarkan setelah negara itu melakukan ujicoba bom nuklir pada 2006.
China – negara satu blok dengan Korut di era Perang Dingin lalu dan juga satu front melawan pasukan AS dalam Perang Korea (1950 – 1953) – kali ini bersama AS dan Jepang sepakat untuk melucuti program rudal balistik dan nuklir Korut walau pun dengan penekanan berbeda.
Sanksi keras (blokade ekonomi-red)  terhadap Korut sangat dihindari oleh China yang saat ini menjadi pemasok utama energi dan bahan pangan bagi negara itu. Lagipula, jika rezim pemerintah Korut runtuh akibat terkena sanksi, China lah yang akan ketiban pulung,  kebanjiran pengungsi dari tetangganya.
China selama ini mendorong perundingan enam pihak (China, AS, Korsel, Korut, Rusia dan Jepang) yang mandek sejak 2009.
Sebaliknya, opsi militer agaknya menjadi pilihan terakhir bagi AS, dan jika dilakukan, kemungkinan secara terbatas dengan rudal-rudal jelajah ke titik-titik peluncuran rudal Korut untuk menekan jumlah korban manusia.
Bisa jadi opsi militer malah akan menaikkan popularitas Presiden Donald Trump yang sedang diterpa berbagai isu miring, baik atas kebijakannya di dalam negeri mau pun berkaitan dengan sejumlah negara mitranya.
Namun saat ini terlalu dini untuk memprediksi kemungkinan yang bakal terjadi, karena juga tergantung hasil pendekatan Rusia dan China membujuk Presiden Korut Kim Jong Un menuju meja perundingan. (Reuters/AP/AFP/NS)





