TINGGAL di kota metropolitan yang modern dan padat penduduknya seperti Jakarta tidak selalu aman, termasuk dari aksi-aksi pembobolan rumah atau maling jika ditinggal dalam keadaan kosong.
Sekitar sepertiga dari 409 responden berdomisili di DKI Jakarta berusia minimal 17 tahun dalam jajak pendapat yang digelar Litbang Kompas pada 10 dan 11 Maret lalu berpendapat, rumah yang dekat lokasinya dengan jalan raya paling rawan dibobol maling.
Alasannya cukup masuk akal, karena pencuri mudah menghilang di tengah padatnya perumahan atau raib setelah beraksi di perumahan yang lokasinya dekat dengan jalan raya.
Polda Metro Jaya merupakan wilayah dengan kejahatan tertinggi di seluruh Indonesia dengan 43.482 kasus pada 2016 atau rata-rata setiap 11 menit 59 detik terjadi satu kali kasus kejahatan.
Dari seluruh kasus kejahatan, pembobolan rumah kosong yang dikategorikan sebagai kasus pencurian dengan pemberatan (curat) atau perampokan termasuk tiga besar dari 22 kategori kriminalitas selain kasus penipuan dan penyalahgunaan narkoba.
Kasus curat terjadi merata di kelima wilayah ibukota, dan menurut catatan Badan Pusat Statistik, kasus pencurian termasuk curat pernah terjadi di 229 dari 267 kelurahan di DKI Jakarta.
Sepertiga responden juga mengaku,mereka juga telah melakukan tindakan antisipasi terhadap kejahatan dengan meninggalkan rumah setelah mengunci pintu, jendela atau pagar serta menyalakan lampu agar tidak terkesan kosong.
Lebih dari separuh responden (58 persen) mengunci rumah dan menitipkannya kelingkungan tempat tinggal baik melalui medsos, petugas satpam atau hansip.
Namun ternyata pencuri lebih lihai, dengan memanfaatkan situasi sepi saat mereka mudik lebaran, bepergian atau pada jam-jam sibuk kantor.
Solusinya, 40 persen responden berpendapat, antisiasi terpenting mencegah pembobolan rumah ialah dengan mengandalkan satpam atau hansip atau membangun portal penghalang.
Namun 43 responden menganggap lebih penting membangun sistem pengamanan swakarsa dengan mengaktifkan lagi pos keamanan lingkungan di sekitar tempat tinggal.
Tentu saja sistem tersebut hanya bisa berjalan jika warga berkontribusi bagi keamanan lingkungan tempat tinggal mereka dan memiliki rasa saling menjaga dan memiliki. (kompas/NS)





