TEPI BARAT – Ketua Pembangunan Rumah Sakit Indonesia Hebron (RSIH) Muhyidin Junaidi mengatakan Rumah Sakit Indonesia Hebron ditargetkan berdiri tahun 2021 untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi warga Tepi Barat, Palestina.
Dia mengatakan pembangunan ditargetkan dalam dua tahun ini, meski agak mahal. “Per meter persegi itu 1.000 dolar AS. Mahal karena bahan-bahan bangunan itu diimpor, kecuali batu bata,” katanya, Senin (25/3/2019).
Sementara itu, dalam pembangunan ini, lembaga amal Tanah Air seperti Dompet Dhuafa, Baznas, Lazis NU, Lazis Muhammadiyah, dan Yayasan Al Azhar akan berkontribusi dalam pembangunan RSIH.
Rencana pembangunan rumah sakit penyembuhan trauma itu bermula saat Wali Kota Hebron Abu Sunaina mengunjungi Indonesia.
Saat berkunjung ke Palestina, Muhyidin juga bertemu dengan Abu Sunaina.
“Dari situlah mereka tawarkan ada proyek rumah sakit yang mungkin bisa dibangun oleh Indonesia. Kita bangun mulai dari satu tahun yang lalu dan terus berkomunikasi, korespondensi berjalan dan kami diskusikan kami mendapatkan respons yang baik dari filantropi Indonesia,” ujar Muhyidin.
Panitia pembangunan RSIH akan memberikan dana yang diperlukan untuk pembangunan rumah sakit dan pemerintah setempat membuka lelang proyek untuk pembangunannya.
Menurut Muhyidin, fasilitas kesehatan itu akan dibangun di tanah wakaf seluas 4.000 meter persegi yang diberikan oleh 16 keluarga. Legalitas dokumen kepemilikan tanah tersebut pun sudah dicek dan tidak bermasalah.
“Peletakan batu pertama sebelum bulan Ramadan, mungkin 24 atau 25 April 2019,” ujar Muhyidin, dilansir Antara.





