Rusia akan Gunakan Nuklir jika Kaliningrad Diblokade

Rudal-rudal balistik Rusia. Rusia memperintahkan NATO untuk tidak mamblokade Kaliningriad, karena Rusia siap untuk meluncurkan nuklirnya. (kompas int'l)

JAKARTA – (KBKNEWS) – RUSIA mengaku siap menggunakan senjata nuklir jika NATO berusaha memblokade Kaliningrad, wilayah eksklave Rusia yang berbatasan dengan Laut Baltik.

Ancaman tersebut dsampaikan melalui sebuah nota diplomatik yang dikirimkan Rusia kepada NATO sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (2/10).

Moskwa menuduh aliansi tersebut telah mengambil langkah yang berbahaya dan sembrono yang membawa risiko tinggi pecahnya konflik bersenjata langsung.

“Rusia siap menggunakan seluruh persenjataan dan kemampuan yang dimilikinya, termasuk senjata nuklir, untuk mempertahankan wilayahnya jika negara-negara NATO melakukan upaya apa pun yang bertujuan mengisolasi Wilayah Kaliningrad dari bagian negara lainnya,” bunyi nota diplomatik tersebut.

Lebih jauh, dokumen itu menyebut adanya kemungkinan serangan Rusia terhadap pusat-pusat pengambilan keputusan di negara-negara anggota aliansi sejak awal.

Kaliningrad sendiri merupakan wilayah Rusia yangdi jaga militer secara ketat. Posisinya strategis karena terjepit di antara Polandia dan Lituania. Sikap tegas dari dokumen tersebut juga digaungkan oleh para pejabat tinggi Rusia.

Menlu Rusia, Maria Zakharova, menyoroti pernyataan para pejabat negara-negara NATO yang dinilainya menunjukkan “Rusofobia” dan kesiapan untuk berperang dengan Moskwa.

“Jika Eropa menyerang Rusia, ini akan menjadi jenis perang yang sama sekali berbeda, perang yang sangat singkat,” ujar Zakharova.

Selain peringatan tertulis tersebut, kedutaan besar Rusia di setidaknya tiga negara Eropa juga mengeluarkan pernyataan dalam tiga hari terakhir.

Ketiga kedutaan menuduh NATO meningkatkan ketegangan melalui latihan militer dan skenario yang melibatkan Kaliningrad.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut rentetan pernyataan itu sebagai pengingat diplomatik bagi Eropa.

NATO atau Aliansi Pertahanan Atlatik Utara yang beranggotakan 33 negara dipimpin Amerika Serikat, beranggoakan sejumlah negara satelit dan sempalan Uni Soviet serta Yugoslavia.

Ancaman serius

Situasi yang kian meruncing ini memicu kekhawatiran serius di kalangan analis dan pejabat pertahanan.

Seorang pejabat senior pertahanan Eropa mengungkapkan skala ancaman ini. “(Ini) pertama kalinya sejak Perang Dingin bahwa Rusia mengancam kita seperti ini. Jadi ini serius,” tegasnya.

Nikolai Sokov, analis nuklir sekaligus mantan diplomat Rusia yang berbasis di Wina, memperingatkan bahwa Rusia dan Eropa kini berada pada jalur konflik.

Dia menilai, semakin sulit bagi negara-negara Barat untuk terus meningkatkan dukungan bagi Ukraina tanpa terjerumus ke dalam konfrontasi langsung dengan Moskwa.

Menurut Sokov, peringatan ini mengindikasikan bahwa kelompok garis keras di Rusia mulai mendapatkan pengaruh terkait cara merespons tindakan Barat.

“Mereka (Rusia) memperkirakan akan ada lebih banyak tindakan, termasuk blokade Laut Baltik, tepat di bawah tingkat perang dalam perhitungan Eropa, tetapi bagi mereka, ini akan menjadi perang terbuka. Saya melihat adanya risiko salah perhitungan dari kedua belah pihak,” ujar Sokov.

Sokov menyebut negara-negara Eropa saat ini menerapkan tekanan penuh, sementara Rusia merespons dengan peringatan serius bahwa tindakan tersebut sangat berisiko.

Hubungan buruk NATO dan Rusia

Hubungan Eropa dan Rusia telah memburuk tajam sejak invasi ke Ukraina pada 2022. Di tengah ancaman nuklir yang dilontarkan Moskwa, NATO merespons dengan sikap dingin dan menolak untuk terintimidasi.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyatakan bahwa aliansi tersebut telah menjawab pesan Rusia.

“Kami adalah aliansi pertahanan. Dan hentikan ancaman nuklir tersebut. Ini sama sekali tidak pantas dan tidak membantu,” papar Rutte.

Rutte menjawab tegas saat ditanya dalam konferensi pertahanan di Brussels yang diselenggarakan oleh Euronews, terkait risiko penggunaan senjata nuklir terhadap negara-negara Baltik .

“Tidak. Putin tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa menang (melawan) NATO, jadi saya tidak menganggap ini terlalu serius,” kata Rutte.

Dalam respons resminya terhadap dokumen Rusia, NATO juga menegaskan bahwa tidak ada satupun latihan atau kegiatan mereka yang menimbulkan ancaman bagi wilayah Rusia.

Perang urat-syaraf, saling serang dengan kata-kata  dan unjuk gigi  antara Eropa diwakili NATO dan Rusia terus berlanjut.

Signal baiknya, di balik perang kata-kata dan saling memperingatkan, negara-negara NATO dan Rusia agaknya tidak ada yang berani memulai langkah perang karena jika itu terjadi berarti, “yang menang jadi abu”,” yang kalah jadi arang”.

Dengan kepemilikan senjata pemusnah massal yang sudah melampaui daya rusak yang dikehendaki, tidak ada yanga diuntungkan jika terjadi perang nuklir selain hancurnya peradaban manusia. (Reuters/CNNI/kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here