Rusia Bakal Caplok Wilayah Ukraina Lagi?

Rusia menggelar referendum di wilayah Ukraina yang mayoritas penduduknya etnis Rusia (Luhansks, Donetsk,Zaporizhia dan Kherson) 23 - 27 Sept. lalu. Selanjutnya,Senat Rusia sedang menyiapkan pencaplokan keempat wilayah itu ke dalam negaranya.

SETELAH merasa berhasil  menggelar referendum di wilayah timur dan selatan Ukraina (Donetsk, Luhanks, Zaporizhia dan Kherson) 23 – 27 September lalu, senat Rusia akan membahas penggabungan ke empat wilayah Ukraina itu  ke dalam negaranya.

Dari 4,1 juta penduduk yang memiliki hak pilih di empat wilayah berpenduduk mayoritas etnis Rusia itu, menurut Kantor Berita TASS (28/9), 93 persen di Zaporizhia, 87 persen di Kherson, 98 persen di Luhanks dan 99 persen di Donetsk mendukung integrasi ke Rusia.

Selain Luhanks yang sudah diukasai sepenuhnya, di ketiga wilayah lainnya masih terjadi perlawanan sengit pasukan dan milisi pro Ukraina terhadap serbuan Tentara Merah Rusia sejak 24 Feb. lalu.

Sebelumnya skenario yang sama melalui referendum dilakukan oleh Rusia untuk mmecapalok wilayah Krimea di timur UKraina pada 2014

Jika rencana Rusia berhasil diwujudkan, penggabungan keempat wilayah itu akan menambah luas Rusia sekitar 90-ribu Km2, belum termasuk wilayah Krimea seluas 27-ribu Km2 yang diokupasinya pada 2014 namun sampai kini tidak diakui komunitas int’l.

Republik Rakyat Luhanks (RRL) dan Republik Rakyat Donetsk (RRD) yang melepaskan diri dari Ukraina sebenarnya sudah diakui oleh Rusia pada 20 Feb. Lalu, namun Rusia masih memerlukan referendum khusus sebagai justifikasi untuk mencaplok kedua wilayah itu dan dua wilayah lainnya.

Sebaliknya, Presiden Ukraina Voldymyr Zelensky menyebutkan, jajak pendapat yang digelar Rusia di keempat wilayah negerinya adalah “referendum palsu” . “Pintu perundingan sudah tertutup begitu mereka mencaplok keempat wilayah itu, “ serunya.

Untuk itu, Zelensky kembali menyerukan penguncilan total Rusia di panggung komunitas internasional, dengan mengeluarkan atau paling tidak menangguhkan keanggotaannya di semua organisasi int’l.

Desakan terhadap bantuan persenjataan bagi Ukraina untuk merebut kembali wilayahnya yang dicaplok Rusia disampaikan oleh Kemenlu Ukraina kepada pemerintah AS dan sekutu-sekutunya dan diamini oleh Sekjen NATO Jens Stoltenberg.

Kemenlu Ukraina juga menganggap referendum yang digelar Rusia tidak sah dan tidak berdampak apa pun terhadap wilayah Ukraina yang sudah diakui komunitas Internasional.

Sejumlah pengamat mencemaskan, pencaplokan yang dilakukan Rusia terhadap wilayah Ukraina akan meningkatkan eskalasi Perang Rusia vs Ukraina sejak invasi Rusia 24 Feb lalu, yang sejauh ini belum ada tanda-tanda mereda.

Sebaliknya, Menlu Rusia Sergei Lavrov menegaskan, negaranya akan melindungi setiap jengkal wilayahnya termasuk keempat wilayah di Ukraina jika sudah resmi ditetapkan menjadi wilayah Rusia nantinya.

Tidak main-main, Rusia saat ini juga sedang memobilisasi sekitar 300-ribu anggota pasukan cadangannya, walau akibatnya, terjadi eksodus sejumlah warganya yang melarikan diri ke negara tetangga karena menolak ikut bertempur melawan Ukraina.

Adu kuat, tak hanya militer, tetapi juga perekonomian antara Rusia dan Ukraina yang didukung AS dan Barat agaknya masih akan berlangsung lama.

Paling tidak, imbasnya di sektor ekonomi berupa kenaikan harga energi dan pangan, bakal dirasakan secara global, tidak luput pula  Indonesia. (AP/AFP/Reuters)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement