Atraksi aerobatik yang semula akan menghibur masyarakat, berujung musibah dengan jatuhnya pesawat “Golden Eagle” atau “Elang Emas” T50i milik TNI-AU di Yogyakarta, Minggu pagi yang menyebabkan tewas kedua awaknya, Letkol Penerbang Marda Sarjono dan Kapten Penerbang Dwi Cahyadi.
Pesawat naas yang dioperasikan oleh Skadron 15 TNI-AU itu sempat mengudara sekitar 15 menit dan dari tayangan TV tampak melakukan manuver “loop” yakni terbang vertikal kemudian berbalik arah dengan posisi kokpit di bawah sebelum akhirnya menghujam lahan perkebunan di dekat kampus Akademi Angkatan Udara, Sleman, Yogyakarta.
Yang mejadi pertanyaan, kenapa kedua awak tidak menggunakan kursi lontar yang tersedia? Mungkinkah sistem pelontar macet? Apakah tidak sempat melakukannya?, atau bisa juga korban kehilangan kesadaran atau dikenal dalam dunia penerbangan “G-lost of consciousness” akibat gravitasi bumi saat pesawat menghunjam tanah dalam kecepatan tinggi? (bisa sampai sembilan kali gravitasi atau dikenal sebagai G-9).
Tentu saja, seperti yang disampaikan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Muda Dwi Badarmanto, tidak dapat langsung diketahui penyebab pasti musibah tersebut karena harus dilakukan inestigasi oleh tim Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang (PPKPT) yang dipimpin oleh Wakil Kepala Staf TNI AU.
Tim investigasi akan berkerja tanpa batasan waktu guna mendalami lima aspek “M”penyebab kecelakaan, yakni Manusia (awak pesawat), Mesin pesawat, Media pesawat, Misi dan Manajemen.Selain berdiri sendiri, bisa saja kecelakaan terjadi akibat kombinasi ke lima faktor tersebut.
Di antara kelima faktor tersebut, manusia sangat menentukan, tercermin dari catatan mengenai tingginya angka kecelakaan pesawat udara yang terjadi akibat “human error”, sehingga jika diumpamakan nilai pelajaran, setiap awak pesawat harus memperoleh nilai 100. Maksudnya, kesalahan sekecil apapun tidak bisa ditoleransi, karena bisa berakibat fatal.
Dari sisi kemampuan, kedua awak tidak diragukan lagi, juga jam terbang mereka cukup tinggi, bahkan pilot, Letkol Marda adalah lulusan terbaik AAU 1997. Sedangkan pesawat T50i buatan patungan antara Korean Aerospace Industri dan Lockheed Martin, AS, juga baru dioperasikan oleh TNI AU pada 2013.
T50i yang mampu terbang sampai 1,4 Mach (kecepatan suara) adalah jenis pesawat latih lanjutan yang juga dapat difungsikan sebagai pesawat tempur ringan. TNI AU memiliki 16 unit T50i yang dibeli dengan harga 20 juta dolar AS atau sekitar Rp308 milyar per unit, masing-masing delapan unit dicat warna biru bergaris kuning untuk aerobatik dan delapan lainnya dicat warna abu-abu hijau berfungsi sebagai pesawat tempur ringan.
Bagi TNI AU, pesawat T50i juga digunakan untuk melatih penerbangnya yang nantinya akan mengawaki pesawat tempur utama seperti F-16 “Fighting Falcon” buatan Amerika Serikat atau Sukhoi SU-27 dan SU-30 buatan Rusia. Sebelumnya TNI AU menggunakan pesawat latih lanjut Mk53 buatan Inggeris yang kini udah habis usia pakainya.
Sebagai pesawat tempur ringan, T50i dapat dilengkapi dengan kanon Vulkan kaliber 20MM, rudal pencari panas AIM-9 Sidewinder atau rudal untuk sasaran di darat Maverick AGM-65 pada kedua ujung sayap, peluncur roket, bom tandan (cluster) CBU-65 dan bom multi target MK82,MK83 dan MK-84 di bawah sayap.
Sejauh ini belum diketahui adanya kecelakaan yang menimpa pesawat T50i yang diproduksi sejak 2001 dan dioperasikan selain oleh Korea Selatan, juga Bostwana, Cili, Filipina dan Irak.
Sementara itu, anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin mempertanyakan sering terjadinya musibah terhadap pesawat TNI AU, baik pesawat baru maupun lama dan berharap agar dilakukan investigasi menyeluruh terhadap pesawat-pesawat T50i lainnya yang dioperasikan TNI AU.
Sejak Agustus, 2014 tercatat terjadi lima kali kecelakaan pesawat udara TNI AU, namun yang terakhir ini yang merenggut nyawa dua awaknya. Keempat musibah lainnya yakni pesawat latih Bravo AS-202 jatuh di Dukuh Jogodayoh, Sukoharjo (12/8/14), pesawat tempur Tiger F-5 mengalami pecah ban di landasan Halim PK, Jakarta (18/11/14), dua pesawat aerobatik Wong Bee bersenggolan di Langkawi, Malaysia (15/3/15) dan pesawat F-16 terbakar di landasan Halim PK (16/4/15).
Musibah pesawat terbang mengakibatkan kerugian besar, tidak saja kehilangan bagi keluarga awak pesawat, juga bagi bangsa, mengingat besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk mendidik putra-putranya dan juga ratusan milyar rupiah yang dialokasikan untuk membeli sebuah pesawat.
Untuk itu, investigasi yang sedapat mungkin transparan, hendaknya dilakukan, agar tidak saja untuk membuat lega dan pasrah para keluarga awak pesawat yang ditinggalkan, juga pembelajaran bagi pihak-pihak terkait keselamatan penerbangan di lingkup TNI AU guna mencegah musibah berikutnya.





