Saat Hati Relawan Diuji Tagihan Sekolah Anak

Dedeh Jubaidah, 37 th, Relawan Kesehatan, Kronjo. Foto: LKC

KRONJO – Meski dadanya masih dibalut gift, karena retak habis ditabrak anak-anak yang ugal-ugalan membawa motor, Dedeh Jubaidah, 37 tahun, tidak mau berdiam diri.

Ia harusnya istirahat total, karena patah tulang dada sebab hantaman motor yang ia alami. Namun karena memikirkan tanggungjawab sebagai salah seorang panitia penyelenggara maulid nabi, Ahad, 8 Januari 2017, ia tetap aktif wara-wiri melayani kiyai dan tamu yang hadir untuk acara maulid nabi itu.

Itulah Dedeh Jubaidah, guru di salahsatu sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini. Ia tidak mengenal kata lelah dalam melayani warga masyarakat, terutama warga kurang mampu di Kampung Pekapuran, Desa Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten.

Sehari-hari ia dikenal sebagai relawan kesehatan, karena ialah satu-satunya di kampung ini yang ikhlas disusahi oleh masyarakat setempat bila ada yang sakit. Setiap ada yang sakit dan melapor ke Dedeh, olehnya, si sakit didampingi berobat mulai dari Fasilitas kesehatan (Faskes) tingkat 1 di Puskesmas, sampai rujukan ke Faskes tingkat II dan III.

Ia sudah fasih cara mengurus surat menyurat untuk melancarkan sisakit agar bisa diobati. Ia pun sangat paham bagaimana mengurus BPJS untuk si sakit. Bahkan ia juga menjadi perpanjang tangan Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa, untuk membantu rakyat miskin di Kornjo, yang ingin mendapatkan layanan kesehatan gratis melalui Respon Darurat Kesehatan (RDK) dan pelayanan kesehatan reguler.

“Orang di sini pendidikannya masih rendah, sehingga kalau ada urusan yang menyangkut administrasi dan prosedur rumah sakit banyak yang tidak memahami, mereka lebih memilih membiarkan pasien tergeletak di rumah ketimbang harus repot mengurus administrasi rumah sakit,” ungkap istri dari Willy Utama (40) ini.

Ironinya, Dedeh yang membantu kaum dhuafa untuk berobat itu, kehidupannya pun tak jauh beda dari orang yang dibantunya. Ia tinggal di sebuah rumah kecil ukuran 3×4 M2 dengan dinding batako tanpa plesteran. Jangankan ruang tamu, kursi dudukpun busanya sudah berantakan dan banyak yang bolong di sana-sini.

Di dalam rumah hanya TV 14 inchi yang satu-satunya menjadi fokus tatapan saat mereka bersantai di rumah bersama suami dan 2 anaknya.

“Saya selalu bilang singgahlah ke istana putih saya, saya selalu bilang rumah gubug saya sebagai istana, karena walaupun rumah kecil, sumpek dan nyaris tidak layak huni namun kalau hati kita merasakan kedamaian maka bagi saya akan merasa teramat kaya yang patut disyukuri,” ucapnya kepada tim Dompet Dhuafa, Mamat Ismanto dan Yazid Ma’ruf serta KBK saat mampir ke rumahnya.

Namun selapang-lapangnya hati berbuat baik, akan tetapi kalau berurusan dengan tagihan, berkerut juga jidatnya. Itu yang dirasakan Dedeh ketika anaknya yang pertama, Alaika Alimulhakim, 9 tahun, belajar di pesantren.

“Anak saya masuk pesantren, pak, saya ingin dia memiliki ilmu pengetahuan agama yang baik, sehingga saya usahakan untuk tinggal di sana biar dapat belajar dengan baik, ” ujar Dedeh.

Selama dua tahun Dedeh masih belum melunasi biaya sekolah anaknya, akhirnya tertumpuk tagihan sekitar Rp3 jutaan. Biaya itu sudah termasuk infaq bangunan, buku paket, seragam, lemari, kasur serta peralatan lainnya.

Di tengah kegundahannya, memikirkan uang sekolah anaknya, alhamdulillah ada calon gubernur yang berbaik hati ingin membantu sekitar Rp3 juta. Namun baru saja dana itu di tangan, belum sempat disetor ke pesantren anaknya, ada orang yang mengeluh sakit dan harus diantar ke rumah sakit. Karena kebutuhan darurat, akhirnya dana yang sedianya hendak dipakai untuk sekolah anak, Dedeh pakai untuk membantu orang sakit tersebut.

Ia rela melakukan itu, karena yakin kepada Kuasa Allah Swt. “Kalau kita melapangkan hidup saudara kita, maka Allah SWT pasti akan melapangkan hidup kita,” demikian Dedeh punya prinsip.

Dan kini, Dedeh dan keluarga dengan sabar pula menunggu pertolongan itu. Semoga pertolongan itu segera datang.

Advertisement