
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengirimkan dua kapal selam nuklir ke dekat wilayah Rusia setelah mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengancam akan membalas setiap serangan nuklir.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Jumat (1/8/) seperti dilansir NDTV dan News 18, Trump menyebut relokasi kapal selam itu sebagai tanggapan atas “pembangkangan Rusia” yang tak terpengaruh oleh ancaman tarif maupun sanksi AS.
Trump mengancam Rusia pengenaan tarif impor tinggi ke negaranya dan juga sanksi ekonomi lainnya jika dalam 50 hari tidak menghentikan serangan ke wilayah Ukraina.
Anggota parlemen Rusia, Viktor Vodolatsky, bahkan merespons hal tersebut dengan nada “meremehkan”.
“Rusia telah lebih dulu menyebarkan kapal selam nuklirnya di seluruh lautan dunia,” kata Vodolatsky.
Ia bahkan mengeklaim kapal selam AS yang dikirim Trump “sudah lama berada di bawah pengawasan” militer Rusia.
Menurut data Global FirePower 2025, AS mengoperasikan sekitar 70 kapal selam, sementara Rusia memiliki 60-an.
Sumber lain menyebut AS memiliki 64 kapal selam dan Rusia sekitar 58. Meski begitu, jumlah dianggap tidak terlalu penting. Jenis, teknologi, dan misi kapal selam itu yang menjadi kunci superioritas.
AS mengoperasikan 14 kapal selam kelas Ohio sebagai “boomers”—julukan untuk kapal selam peluncur rudal balistik, masing-masing membawa hingga 20 rudal Trident II D5, yang mampu menghantam target sejauh 12.000 km dengan akurasi tinggi.
Kapal ini dirancang untuk patroli jangka panjang dan hanya perlu overhaul besar setiap 15 tahun. Ohio juga dikenal akan kemampuan silumannya yang nyaris tak terdeteksi, bahkan oleh sistem sonar tercanggih.
Sebaliknya Rusia mengandalkan delapan kapal selam kelas Borei dan setidaknya enam jenis Delta IV.
Borei membawa 16 rudal Bulava SLBM dan dilengkapi enam peluncur torpedo 533 mm, serta bisa meluncurkan rudal anti-kapal selam dan ranjau dasar laut.
Sementara Delta IV, meskipun generasi lama, masih menjadi tulang punggung kekuatan nuklir Rusia di laut dengan membawa 16 rudal Sineva. Seluruh kapal selam Delta akan digantikan oleh Borei baru dalam waktu dekat.
AS memiliki tiga kelas utama kapal selam serbu bertenaga nuklir, antara lain 24 kapal Virginia-class (seperti USS Hawaii dan USS North Carolina), 24 kapal Los Angeles-class (688-class), dan tiga kapal Seawolf-class.
Virginia-class merupakan kapal selam type serang generasi terbaru, mampu meluncurkan rudal Tomahawk dan mendukung operasi khusus, serta dilengkapi lock-in/lock-out chamber untuk pasukan selam.
Sementara itu, type Los Angeles-class adalah tulang punggung armada AS sejak era 1970-an, dibangun untuk menghadapi ancaman Soviet.
Kapal Seawolf-class disebut sebagai kapal paling senyap, mahal, dan terbatas jumlahnya, namun sangat ditakuti. Ketiga kelas ini dilengkapi rudal Tomahawk, Harpoon, dan torpedo MK-48, dengan kemampuan intelijen, pengintaian, hingga peperangan ranjau.
Di sisi lain, Rusia memiliki empat kapal selam serbu kelas Yasen, yang lebih kecil dan berawak lebih sedikit dari pendahulunya. Kapal ini membawa hingga lima rudal jelajah Kalibr atau empat rudal anti-kapal Oniks (P-800) —keduanya berkemampuan serangan darat dan laut jarak jauh.
Selain itu, Rusia juga mengoperasikan sekitar lima kapal selam kelas Akula, yang dijuluki “Shark”, dilengkapi rudal Kalibr, Oniks, atau Granit, dan mampu beroperasi senyap seperti milik AS.
Siapa lebih unggul?
Dalam hal jumlah dan jangkauan global, AS lebih unggul daripada Rusia. Kapal selam AS tersebar di semua samudra besar dan terintegrasi dalam aliansi NATO serta koalisi Ausralia, Ingeris dan AS (AUKUS).
Teknologinya juga lebih maju dalam hal sonar, reaktor tahan lama, dan sistem tempur. Namun, Rusia unggul dalam fleksibilitas rudal, mulai dari Bulava, Kalibr, Oniks, hingga kemungkinan penggunaan rudal hipersonik Tsirkon di kapal Yasen-M.
Strategi Rusia juga lebih agresif, dengan penempatan kapal selam yang kerap dekat perairan negara anggota NATO dan AS.
Kemenlu dan Kemenhan Rusia belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai ancaman Presiden AS Donald Trump yang telah mengerahkan dua kapal selam nuklir itu.
Namun, salah satu anggota parlemen Rusia, Viktor Vodolatsky, menanggapi ancaman tersebut dengan memamerkan kekuatan militer negaranya.
“Rusia telah lebih dulu menyebarkan kapal selam nuklirnya di seluruh lautan dunia,” kata Vodolatsky, sebagaimana dikutip dari News18, Sabtu (2/8).
Senada dengan Vodolatsky, media dan analis Rusia pun tampak meremehkan langkah Trump.
Berbicara kepada harian Moskovsky Komsomolets, seorang komentator militer menyebut tindakan Trump sebagai “ledakan emosional anak kecil.”
Sementara itu, seorang purnawirawan letnan jenderal kepada Kommersant mengatakan, “Omongannya soal kapal selam itu ocehan kosong.
Itu cuma caranya bersenang-senang. Seorang pakar keamanan Rusia bahkan meragukan bahwa perintah semacam itu benar-benar dikeluarkan.
“Saya yakin Trump tak benar-benar memberi perintah apa pun soal kapal selam,” ujarnya kepada Kommersant.
Tindakan Trump ini bermula ketika Presiden ke-47 AS itu memberikan ultimatum kepada Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina dalam waktu kurang dari dua minggu—lebih cepat dari tenggat 50 hari yang sebelumnya ia sebut.
Namun, mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev merespons ancaman itu dengan pernyataan pedas.
“Trump sedang bermain-main dengan ultimatum terhadap Rusia… Setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang,” tulis Medvedev di media sosial.
Trump membalas, “Beritahu Medvedev, mantan presiden Rusia yang gagal dan masih merasa punya kuasa, untuk berhati-hati dengan ucapannya.
Dia sedang memasuki wilayah yang sangat berbahaya.” Medvedev lalu mengutip “Dead Hand”, sistem balas serangan nuklir otomatis peninggalan era Soviet, yang kemudian memicu Trump untuk mengerahkan kapal selam nuklir AS ke dekat wilayah Rusia.
Ancaman palig serius
Dalam wawancaranya dengan Newsmax, Trump menjelaskan, “Medvedev mengatakan hal-hal yang sangat buruk, berbicara soal nuklir. Kalau anda menyebut kata ‘nuklir’, mata saya langsung nyalang . Harus hati-hati, karena itu adalah ancaman paling serius.’”
Ancaman Trump bukan kali pertama ditulis media Rusia, mengingatkan publik pada insiden serupa di masa lalu.
Pada 2017, Trump juga pernah mengeklaim telah mengirim dua kapal selam nuklir ke Semenanjung Korea sebagai peringatan kepada Korea Utara.
Namun, tak lama kemudian, ia justru menggelar pertemuan damai dengan Kim Jong Un. “Bisa jadi ini cuma aksi teatrikal, atau bahkan bisa jadi awal menuju diplomasi,” tulis Kommersant.
Hingga kini, tidak ditemukan tanda-tanda bahwa Rusia memindahkan kapal selam nuklirnya lebih dekat ke Amerika.
Ini bisa berarti Moskwa masih menganalisis situasi, atau justru meremehkan ancaman Trump, sehingga tidak perlu merespons sama sekali.
“Reaksinya menunjukkan bahwa Rusia lebih memilih mengabaikan drama ini ketimbang ikut larut,” simpul Steve Rosenberg, koresponden BBC.
Semoga perang kata-kata antara pemimpin AS dan Rusia hanya untuk meramaikan dunia, tidk ampai bereskalai menuju perang nuklir yang menciptakan malapetaka bagi peradaban dan umat manusia. (NDTV, News 18, BBC, Kompas.com)




