
PELAYARAN kapal perusak Amerika Serikat USS Stethem di perairan yang dipersengketakan antara China, Taiwan dan Vietnam di Laut China Selatan (LCS) (3/5) membuat China meradang.
Presiden China Xi Jinping mengingatkan Presiden AS Donald Trump, perilaku negatif yang dilakukan AS akan menganggu hubungan baik yang sedang dijalin antara kedua negara.
Selain pelayaran USS Stethem di kawasan LCS, pekan lalu China juga bereaksi keras atas persetujuan Trump untuk menjual alutsista senilai 1,3 milyar dolar AS (sekitar Rp17,4 triliun) kepada Taiwan, musuh bebuyutan negeri tirai bambu itu.
Di sektor ekonomi, AS mengenakan sanksi terhadap bank-bank China yang melakukan transaksi dengan Korea Utara dalam upaya menekan Korea Utara agar menghentikan ujicoba rudal dan senjata nuklir.
Bagi AS sendiri, pelayaran di perairan LCS dilakukan untuk menguji kebebasan bernavigasi di kawasan yang dipersengketakan, sekaligus juga menunjukkan bahwa AS tidak mengakui klaim-klaim sepihak negara tertentu atas wilayah perairan itu.
Operasi serupa pernah dilakukan sebelumnya oleh kapal perang USS Dewei (25/5) yang berlayar mendekati jarak kurang 12mil laut dari Mischief Reef, bagian Kepulauan Spartly di perairan LCS.
USS Stethem adalah jenis kapal perusak kelas Arleigh Burke yang dilengkapi dengan peralatan perang elektronika, dipersenjatai dengan rudal jelajah harpoon dan tomahawk serta berbagai konfigurasi sistem rudal dan kanon pertahanan udara.
Sebaliknya bagi China, aksi kapal AS yang memasuki perairan wilayah (yang diklaimnya-red) tanpa izin merupakan bentuk provokasi militer dan politik yang serius.
China menganggap operasi AL AS mengganggu perdamaian dan stablitas di kawasan LCS, merusak kepercayaan antara kedua belah pihak dan mengganggu atmosfir hubungan antara kedua negara yang mulai membaik akhir-akhir ini.
Guna memenuhi ketentuan PBB mengenai batas perairan negara hingga 12 mil laut, China saat ini memang gencar membangun dermaga kapal perang, landasan helikopter dan sistem pertahanan rudal di pulau-pulau buatan di atas gugusan karang di LCS.
Ambisi China untuk menandingi kekuatan militer AS memang tidak terbantahkan, antara lain tercermin dengan diluncurkannya kapal induk pertama buatan dalam negerinya baru-baru, menyusul kapal induk sebelumnya, Liaoning buatan setengah jadi Ukraina.
Kapal induk berbahan bakar konvensional berbobot 50.000 ton dengan kapasitas 25 pesawat tempur Shenyang – juga produksi lokal – diperkirakan sudah bisa memperkuat armada China pada 2020.
China juga bertekad menguasai dirgantara, terbukti dari kemampuannya memproduksi pesawat tempur berkualifikasi siluman (stealth) J-20 Chengdu (Black Eagle) dan rudal balistik anti kapal induk Dongfeng DF21 berdaya jelajah 3.000 Km yang berpotensi menjadi ancaman bagi armada kapal AS yang lalu-lalang di LCS.
Anggaran pertahanan China pada 2016 tercatat 151,4 milyar dolar AS (sekitar Rp2.000 triliun). Bandingkan dengan anggaran pertahanan RI yang cuma sebesar Rp103 triliun.
Adu gertak, kadang-kadang diperlukan sekedar untuk menimbulkan dampak penggentar (deterrent) terhadap musuh dan meyakinkan negara-negara sahabat.




