
PERSETERUAN antara dua raksasa, Amerika Serikat dan China tak hanya yang tampak di permukaan, perang retorika antara kedua pemimpin dan unjuk kekuatan di wilayah konflik Taiwan atau di Laut China Selatan tetapi juga dalam kegiatan mata-mata.
Kali ini China menangkap warga negaranya yang dituduh bekerja sebagai spion untuk AS, sebagai balasan atas penangkapan oleh pihak terhadap dua tentaranya yang membocorkan sejumlah informasi rahasia pada China.
Laman Kemendagri China dalam pernyataannya (11/8) menyebutkan aparat keamanannya telah menangkap laki-laki bernama Zeng Moumou (52), karyawan perusahaan kontraktor militer di negara itu.
Zeng disebutkan didekati oleh anggota Biro Pusat Intelijen AS (CIA) saat melakukan perjalanan dinas ke Itali, namun tidak disebutkan kapan, hanya dikatakan Zing terbuai oleh bujukan para agen tersebut.
Zeng diiming-imingi uang dan juga kemungkinan untuk menetap di AS sebagai imbalannya memberikan informasi rahasia terkait Tentara Pembebasan China yangingin diketahui AS.
Sebaliknya, Departemen Kehakiman AS pekan lalu mengumumkan telah menangkap dua warga negaranya yang berprofesi sebagai anggota AL keturunan China yakni Patrick Wei (22) dan Thomas Zao yang dicurigai bekerja sebagai mata-mata untuk China.
Menurut laporan majalah Forbes, Jaksa Agung AS Grossman menuturkan, Wei dan Zao tidak saling kenal dan direkrut secara terpisah di China, sedangkan yag mereka bocorkan adalah terkait latihan militer AS di Indo-Pasifik dan cetak biru pangkalan militer AS di Okinawa.
Sementara Badan Keamanan Intelijen Selandia Baru (NZSIS) mengeluarkan laporan yang menyebutkan China sebagai ancaman terbesar negaranya di Indo-Pasifik, begitu pula Rusia dan Iran yang terus berupaya mengintervensi urusan dalam negerinya.
“Orang-orang atau kelompok yang berafiliasi dengan Republik Rakyat China secara terarah mengincar dan juga menyerang warga Selandia Baru keturunan China. Ini ancaman serius bagi negara, “ ungkap NZSIS.
China sejauh ini adalah mitra dagang terbesar Selandia Baru, walau pemerintah negara itu juga mencemaskan sepak terjang China di Indo-Pasifik terutama karena gencar menanamkan pengaruhnya di Pasifik Selatan dan juga terkait sengketa Taiwan dan laut China Selatan.
Sementara NZSIS terus memantau aktivitas agen-agen Iran yang memata-matai warga negara Selandia Baru keturunan Iran atau yang baru dinaturalisasi dari Iran, sedangkan agen Rusia menyebar hoaks dan propaganda tentang invasinya ke Ukraina.
Sebaliknya Kedubes China di Wellington menampik tudingan tersebut dan mengaku pemerintah China tidak pernah mengintervensi urusan dalam negeri negara lain. “
Kami tidak senang dan menyangkal tuduhan itu. Pemerintah China berinteraksi dengan para diaspora China dalam batas wajar sesuai aturan internasional,” demikian pernyataannya. (APReuters)




