BOGOR – Cecep Supriatna dan Ade Humairoh adalah sepasang suami istri yang mengidap penyakit polio namun tetap semangat menjalani hidup dan mencari nafkah bagi anaknya.
Cecep, pria 43 tahun kelahiran Desa Sukawening, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menceritakan, menurut orangtuanya, ia mengidap penyakit polio ini sudah sejak kecil, hingga menyebabkan kelumpuhan pada kaki kirinya.
“Kata orangtua awalnya saya panas, kemudian disuntik, entah ada kesalahan di mana yang kemudian mengakibatkan polio. Sampai umur 2 (dua) tahun dulu katanya saya masih belum juga bisa jalan. Karena mungkin juga di kampung, jadi akses kesehatan dan ke dokter itu sulit. Uang juga tidak ada. Jadi diobatinya ya ke pengobatan tradisional saja,” ceritanya kepada tim Dompet Dhuafa, saat ditemui di kediamannya, pada Senin (7/2/2022).
Hingga akhirnya dia lulus sekolah, Cecep dengan kekurangannya tidak mau menyusahkan orang lain dan ingin tetap bisa bekerja seperti kebanyakan orang normal lainnya. Sehingga dia pun memutuskan untuk bergabung pada sebuah pelatihan yang diadakan oleh Dinas Sosial bagi para disabilitas.
Disana juga ia bertemu dengan seorang wanita yang sangat mengertinya dan yang kelak akan dinikahinya, yaitu Ade, dan akhirnya mereka berdua menikah pada tahun 2006.
Jika Cecep mengalami kelumpuhan pada kaki, berbeda dengan sang istri yang kelumpuhannya pada tangan. Ade bercerita bahwa ia terkena polio saat masih kecil, masa di mana sama dengan yang dialami oleh suaminya.
Usai menikah, mereka berdua memutuskan untuk hidup mencari penghidupan di sebuah kios di samping rumah orangtua Ade. Dibuatnya bagian depan sebagai kios tahitan, sedang bagian belakang sebagai ruang beristirahat dan ruang keluarga yang hangat. Menurut Cecep, memilih tinggal di Nanggewer, sebab lokasinya lebih dekat dengan kota. Dengan begitu berbagai akses untuk orang seperti dirinya dapat lebih mudah dujangkau. Hingga kini pasutri ini dikaruniai dua anak, mereka masih menetap di sana.
Kekurangan masing-masing pasangan ini pun menjadi pelengkap satu sama lain. Jika ada pesanan atau kerjaan, sang suami yang menjahit sedangkan sang istri yang membuat polanya dan memotong. Masing-masing pun juga saling belajar satu sama lain.
Cecep melanjutkan, sebelum menikah, awalnya sang istri sudah mulai membuka usaha jasa jahit. Namun hanya sekadar mengisi kegiatan saya dengan menerima pesanan dari rumah. Saat itu Cecep berniat ingin sekali mengembangkan usaha jahit Ade. Langkah awal yaitu dengan terlebih dahulu menikahinya, kemudian bersama-sama menyewa satu kios untuk dijadikan tempat tinggal sekaligus tempat usaha.
“Sebelumnya istri sudah membuka usaha jahitan namun hanya menerima pesanan di rumah saja. Kemudian menikah dengan saya, terus saya ikut mengembangkan. Saya ajak dia untuk berani bareng-bareng buka kios sendiri untuk usaha jahit. Jadi setelah menikah baru buka kios jahit ini,” ceritanya.
Pelajaran hidup dari mereka berdua bisa menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa kekurangan yang dimiliki jangan menjadi hambatan untuk terus berusaha menghadapi kerasnya hidup ini.




