“Sapu Baru” Pemberantasan Narkoba

Sekitar 40 sampai 50 korban tewas setiap hari akibat mengonsumsi narkoba, sebagian besar penyelundupan lolos akibat terbukanya pintu masuk wilayah RI, sementara penegakan hukum masih lemah. Ayo bersatu perangi narkoba!

PENGANGKATAN Irjen Pol. Heru Winarko sebagai “panglima” baru Badan Narkotika Nasional (BNN) menggantikan Irjen Pol. Budi Waseso yang memasuki pensiun diharapkan mengawali perang total melawan penyalahgunaan narkoba.

Penemuan transaksi narkoba Rp6,4 triliun di sejumlah rekening bank di dalam dan luar negeri pada 2014 – 2016 menempatkan kejahatan bisnis barang haram itu pada posisi kedua tindak pidana terbesar pencucian uang setelah korupsi.

HR, DY dan FH berhasil diamankan dalam kasus ini di lokasi terpisah di Jakarta sedangkan barang bukti yang berhasil disita a.l. tiga apartemen, enam ruko, dua toko, tiga mobil, satu rumah dan uang Rp1,6 milyar, 78.815 yen dan 5.337 HK dollar. Seluruh aset ditaksir bernilai Rp65,9 milyar.

Ketiga tersangka mendirikan enam perusahaan impor-ekspor dan penukaran uang asing (PT: PSS, UJS, DUV, GU, HC dan DV & Rekan) dimana DY yang sukar dilacak karena memiliki sejumlah nama menjabat komisaris, sedangkan HR dan FH selaku direktur.

Dana dari hasil transaksi narkoba Rp6,4 triliun diperoleh dari hasil pemeriksaan oleh Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK ) pada invoice (faktur) fiktif atas nama PT PSS.

Temuan sebelumnya yang berhasil diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) adalah rekening jaringan bandar Pony Chandra yang masih dibui.

Sejumlah temuan baru lainnya, kata Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin di Jakarta, Rabu lalu (31/2) yang sedang ditangani kepolisian, bakal menyusul, walau tidak bisa disebutkan jumlahnya demi kepentingan penyelidikan.

Prestasi BNN di bawah kepemimpinan Budi Waseso tidak diragukan, namun seperti yang disampaikannya, di balik keberhasilan penggagalan penyelundupan narkoba oleh aparat, diperkirakan 250 ton narkoba, atau 90 persen lolos dan beredar di Indonesia.

Kepolisian bekerjasama dengan Bea Cukai, pada Februari lalu saja berhasil menggagalkan dua kasus penyelundupan masing-masing tiga ton dan 1,6 ton sabu yang diangkut kapal berbendera China saat memasuki perairan Kepulauan Riau.

Di bawah kepemimpinan Budi Waseso (Sept 2015 sampai Feb 2018), BNN pada 2016 dan 2017 berhasil mengungkap masing-masing 807 dan 953 kasus, menetapkan 1.238 dan 1.324 tersangka, sedangkan dalam kasus pencucian uang, masing-masing 21 dan 27 kasus dengan 30 dan 34 tersangka.

Barang bukti yang disita (2016 dan 2017) a.l. sekitar 2.687 Kg dan 858,6 Kg ganja, 1,016 ton dan 1,144 ton sabu Kristal serta 754-ribu dan 218,2 ribu butir ekstasi.

Saat ini terdapat sekitar enam juta pengguna narkoba di Indonesia, 40 sampai 50 korban tewas akibat mengonsumsi barang haram itu, sebagian besar remaja yang notabene adalah generasi penerus bangsa dan penduduk di usia produktif.

Selain banyaknya pintu-pintu laut terbuka serta jalur tikus memasuki wilayah Indonesia, lemahnya penegakan hukum, besarnya potensi pasar dan temuan jenis-jenis narkoba baru (ada 68), membuat upaya pencegahan peredaran narkoba semakin rumit.

Dengan cara apa pun, mari kita kobarkan perang total terhadap narkoba, jika tidak ingin generasi muda dirusak oleh benda haram ini.

Advertisement