KEMARIN pasukan jaket hijau memenuhi depan Istana Negara. Tapi jangan salah, mereka bukan massa PPP dan PKB mau kampanye, melainkan kaum Ojol (ojek online), yang nangis-nangis ke Presiden Jokowi agar nasibnya diperhatikan. Sebetulnya yang menangis bukan saja para pengojek itu, tapi juga orangtua mereka. Mereka sedih, karena anak sudah disekolahkan tinggi-tinggi sampaiĀ jadi sarjana, eh…..begitu lulus ujung-ujungnya malah jadi pengojek!
Ketika anak lulus sarjana, orangtua cap apapun pasti berharap ijazah itu bisa dijadikan gaman untuk mencari kerja. Tapi apa lacur, sampai lecek ijazah difotokopi, ngelamar kerja ke sana kemari, tak kunjung dapat pekerjaan. Ā Tapi apa mau dikata, semakin banyak orang pintar, persaingan kerja makin ketat. Hanya mereka yang begja (mujur) sajalah yang bisa memperbaiki nasib lewat ijazahnya.
Ungkapan lama mengatakan, orang bodo kalah sama orang pintar. Tapi orang pintar masih kalah juga oleh orang mujur. Orang mujur ini memang tak ada rumus dan dalilnya. Biar hanya lulusan SMA, karena mujur bisa jadi menteri 3 kali.Ā Karena nasib baik, pedagang buku bekas bisa jadi Wakil Presiden. Bahkan kerena kemujuran pula, pecatan menteri juga bisa jadi gubernur.
Kebanyakan orang, mencari sumber kehidupan modalnya ijazah. Makin tinggi ijazahnya, makinĀ bagus nasibnya. Sayangnya, makin ke sini ijazah nyaris tak bernilai.Ā Tahun 1980-an, ijazah SMA masih laku untuk cari kerja. Tahun 1990-an, minimal harus sarjana. Tahun 2000, sarjana S-1 mulai menyampah, buat cari kerja sudah susah. Kini yang masih dilirik kantor-kantor swasta dan pemerintah Ā minimal yang lulusan S-2.
Maka kini sarjana S-1 sudah seperti cendol, tinggal kasih gula dan santan. Data BPS menunjukkan, penganggur terbuka di Indonesia kini sudah lebih dari 7 juta. Dari jumlah itu sebanyak 600.000 merupakan sarjana jurusan Panji Klantung alias pengangguran.
Mereka kalah dalam bursa pasar kerja. Ijazahnya sampai lecek difotokopi, tapi buat ngelamar kerja tak pernah nyangkut baik di kantor pemerintah (PNS) maupun swasta. Pasar kerja yang masih mau menyerapnya tinggal menjadi tukang ojek. Baik itu yang Opang (ojek pangkalan) maupun Ojol (ojek online).
Banyak orangtua masgul bin njegadul (kecewa). Kalau tahu si anak hanya jadi pengojek mending dulu disekolahkan sampai lulus SD saja. JadiĀ tak perlu buang-buang biaya. Yang terjadi sekarang, oleh orangtua dibela-belain jual ini jual itu untuk biaya kuliah anak, ee….begitu lulus malah melanjutan jurusan tukang ojek.
Ada alasan, banyak tenaga tak terserap karena tak sesuai kebutuhan pasar. Kementrian Tenaga Kerja pun lalu membuka PLK (Pusat Latihan Kerja) di mana-mana. Tapi ya hanya diberi latihan doang, tak disalurkan. Justru PLK itu dijadikan āproyekā, setidaknya anggaran untuk konsumsi peserta PLK.
Memang hanya itu kemampuan pemerintah. Namanya Kementerian Tenaga Kerja, tapi tak punya tenaga (power). Membiarkan anak bangsa jadi TKI-TKW ke mana-mana. Banyak memang yang sukses, tapi banyak pula Ā keluarga di tanah air yang jadi berantakan, bahkan banyak yang pulang tanpa kepala. Tapi pemerintah tak berani juga menghentikan kegiatan mengekspor TKI-TKW. Mereka dibiarkan memburu martabak, meski martabat terinjak-injak.
Negara memang belum bisa memberi pekerjaan pada semua anak bangsa. Makanya pemerintah menjadi pura-pura tak peduli ketika anak bangsa hanya jadi tukang ojek. Di seantero Indonesia, generasi mudanya banyak jadi pengojek. Jakarta saja, kini terdapat tak kurang dari 1 juta pengojek termasuk Ojel. Jalan-jalan raya dipadati pasukan jaket hijau, sampai-sampai seperti pendukung PPP dan PKB mau kampanye. (Cantrik Metaram)
Ā





