Satu Juta Petani dan Nelayan Susut pada 2030

Ilustrasi/ tempo.co

SEKITAR satu juta petani dan nelayan akan meninggalkan kegiatan usaha  mereka pada 2030 akibat anomali iklim yang membuat hasil sawah atau tangkapan tidak menentu.

Hujan ekstrim atau musim kering berkepanjangan disebabkan oleh anomali iklim, seperti diulas harian Kompas (01/12), diprakirakan bakal sering terjadi pada tahun tahun mendatang  akibat perubahan iklim yang sedang berlangsung.

Tepatnya, sekitar 926.500 petani dan nelayan yang bekerja sendiri atau dengan orang lain atau 2,4 persen dari total dari jumlah seluruhnya (38.6 juta orang)  diprediksi akan berkurang pada 2030.

Buruh petani yang tak memiliki lahan atau nelayan yang tidak memiliki perahu atau kapal lebih rentan terhadap anomali iklim dibandingkan mereka yang berstatus berusaha sendiri.

Dalam kondisi normal, tidak terjadi iklim ekstrim, pekerja yang bekerja pada orang lain turun 2,6 persen, sedangkan wirausaha pertanian cenderung tumbuh 0,5 persen dalam skenario iklim normal.

Sementara itu, anomali iklim berupa El Nino dan La Nina di Samudera Pasifik serta Dipol Samudera Hindia (IOD) berkontribusi menurunkan produksi beras nasional sehingga serapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) ikut turun.

Sawah yang keringnya atau terendam air bakal gagal panen, akibatnya karena produksi menurun, CBP ikut anjlok. Contohnya, saat IOD positif pada 2015, pengadaan CBP dalam negeri anjlok 16,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya (1,96 juta ton). Jumlah impor beras Bulog pun saat itu naik dua kali lipat menjadi 644.357 ton.

Pada pertengahan 2023, BMKG mengumumkan dampak El Nino dan IOD positif secara berbarengan, sehingga BPS memperkirakan produksi beras ikut turun 2,05 persen dari 31,54 juta ton pada 2022 menjadi 30,9 juta ton.

Di saat sejumlah petani meninggalkan lahan akibat anomali iklim yang menurunkan produksi sawah yang digarap, sementara produksi beras juga anjlok, sebaliknya konsumsi beras naik, sejumlah kiat tentu harus dilakukan seperti intensifikasi lahan, penggunaan bibit unggul, mekanisme pertanian dan juga diversifikasi pangan.

Advertisement