JAKARTA (KBK) – Usai pensiun dari American Home di tahun 2007 Sudarmoko memilih untuk menjadi peternak. Bak gayung bersambut pria kelahiran Nganjuk 66 tahun silam itu ditawari sebidang tanah di Desa Cigeureung, Kecamatan Cigeger, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kendati pernah menduduki jabatan bergengsi selama bekerja, namun ayah dua orang anak itu tak canggung jadi pengangon sapi.
“Ini keinginan saya dari kecil. Selama di kampung saya lihat peternak itu sulit dan selalu merugi ketika menjual sapinya. Saya ingin buktikan kalau beternak itu harus berhasil,” ujar pria yang lama menghabiskan masa kecilnya di Pacitan, Jawa Timur.
Berbekal ilmu peternakan dari tempatnya bekerja dan pengetahuan pertanian yang ia timba selama menjadi mahsiswa di UNAIR Surabaya, Suradmoko membuka peternakan sapi perah dibawah bendera koperasi Lembah Kamuning Dairy Farm bentukannya. Di lahan 2 hektar itu pria yang akrab disapa Moko itu mendirikan kandang sapi perah, sapi potong, silo penampung susu dan sepetak lahan perkebunan. Setelah semua infrastruktur pendukung ia bangun, Moko tersandung perijinan yang tak kunjung keluar dari dinas terkait. Terlebih Moko juga tak mendapat restu dari koperasi susu tetangga karena dinilai dapat membahayakan posisi mereka yang sudah nyaman dengan sistem ‘permainan’ tengkulak.
Tak berpanjang kalam, Moko mengambil langkah strategis. Ia pergi ke Jakarta dan berhasil menemui teman sekelasnya sewaktu duduk di bangku SMA yang tak lain adalah Presiden RI kala itu Susilo Bambang Yudhoyono. Berhasil memperoleh surat ijin berlogo garuda, Moko mantab meneruskan koperasi ternaknya. Koperasi tetangga Moko yang awalnya skeptis dan sinis terhadap dirinya, perlahan sirna ketika orang pertama di Republik ini bertandang untuk melihat sistem pengelolaan ternak Lembah Kamuning Dairy Farm.
Berkat kepiawaiannya mengelola peternakan, di waktu yang bersamaan Moko dipanggil untuk bekerja di
Fottera Brands New Zealand sebagai Medical Sales Director. Di New Zealand Moko berkesempatan untuk saling bertukar dan menagkap ilmu baru seputar peternakan. Di sisi lain Moko juga menjadi mengerti tentang kebutuhan organ-organ vital manusia, mempelajari bakteri dan mikroba yang ada kaitannya dengan probiotik.
“Saya baru kembali ke tanah air tahun 2013. Selama di New Zealand Lembah Kamuning dikelola istri dan teman,” ujar Moko yang selama di New Zealand mengaku kagum terhadap para peternak yang dihormati oleh Negara.
Pulang ke tanah air, Moko kembali melakukan ekspansi. Tak tanggung-tanggung dengan menduplikasi ilmu dari New Zealand, Moko mendirikan pabrik pengolahan yogurt di Padalarang. Kini pabrik tersebut mampu memproduksi 7,5 ton yogurt per hari berlabel Yoforia. Di sisi lain Moko juga mengubah peternakannya dengan menggunakan basis intergreted farming system dimana tidak ada residu yang keluar dari peterakannya secara Cuma-Cuma. Mulai dari kotoran padat sapi, kotoran cair dan sisa pakan semua kembali diolah menjadi sejumlah produk turunan seperti kompos, bio gas dan humus untuk mengembangan cacing merah.
“Ada lima produk turunan fertilizer, satu kompos dari kotoran padat, dua kompos dari kotoran cair, tiga bio gas yang berasal dari kotoran sapi yang masuk reaktor, empat humus dari sisa pakan sapi dan lima adalah kompos dicampur dengan baglog akan menghasilkan cacing merah serta kascing yang kaya kalium dan fosfor,” terang Moko yang kini memiliki 200 anggota koperasi di daerahnya.
Bagi Moko, Koperasi Lembah Kamuning Dairy Farm tak hanya peternakan semata. Di sana Moko juga kerap melakukan penelitian guna mengembangkan berbagai jenis formula untuk peternakan dan pertanian. Terbaru Moko berhasil menciptakan sistem tanam padi yang mampu menghasilkan 10 ton beras dalam satu hektar area tanam. Hasil penelitiannya lantas ia uji coba di area kebun sendiri, tak heran bila dalam area 2 hektar terdapat aneka komoditi unggulan hasil penelitian Moko seperti tanaman jahe, rumah cacing, kebun odot untuk pakan sapi dan tentunya rumah pengolahan susu berkapasitas ribuan liter.
“Jadi jangan bayangkan kalau Lembah Kamuning itu adalah peternakan dan pertanian yang besar dengan lahan yang luas. Itu salah, di sini saya hanya riset saja. Hasil penelitiannya saya sebar keseluruh Indonesia untuk membantu peternak dan petani agar mampu keluar dari jerat tengkulak dan kemiskinan,” ujar Moko yang rutin keliling Indonesia untuk menyebar ilmu dan membantu petani miskin tentang tata cara bertani yang benar.
Pada tahun 2018 silam Lembah Kamuning Dairy Farm berhasil memperoleh izin dari Kemendikti sebagai tempat pelatihan dan penelitian tanaman pangan serta ternak. Dengan tujuan mulyanya Moko hanya memiliki satu harapan, yakni meminta kepada Allah agar jangan memanggil namanya terlebih dahulu sebelum petani Indonesia memiliki daulat pangan.





