Enam Kegiatan Lembah Kamuning Dairy Farm yang Mampu Ubah Wajah Peternak Desa

JAKARTA (KBK) – Sebelumnya desa Cigeureung yang terletak di kaki Gunung Ciremai merupakan desa biasa yang lekat dengan kemiskinan. Namun sejak tahun 2007, desa yang masuk Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat itu perlahan berubah. Peternakan berbasis intergreted farming system berdiri, sapi-sapi perah kelas super asal New Zealand bertebaran, truk-truk pengangkut susu sibuk hilir mudik tiap pagi sore dan puncaknya Desa Cigeureung disambangi oleh Presiden RI kala itu Susilo Bambang Yudhoyono guna meninjau peternakan modern berbendera koperasi Lembah Kamuning Dairy Farm.

Ialah Sudarmoko, pria kelahiran Nganjuk 66 tahun silam yang berhasil membangkitkan semangat peternak dan petani Cigeureung. Menurut pria kelahiran Nganjuk 66 tahun silam itu, ada 6 kegiatan yang dilakukan Lembah Kamuning Dairy Farm agar petani dan peternak bisa lepas dari jerat permainan tengkulak desa.

Kegiatan pertama ialah penggemukan sapi potong jenis ongole, limousin, metal dan sapi bali. Kedua mengubah tata cara beternak sapi perah. Di tangan pria yang akrab di panggil Moko, sapi-sapi perah jenis Holstein tersebut digenjot produksinya hingga mampu menghasilkan 15 liter susu grade A per hari. Tak berhenti disitu, susu hasil perahan lalu diubah menjadi yogurt melalui proses produksi yang modern.

Dengan mengadopsit teknik peternakan yang terintegrasi, kegiatan ketiga adalah pembutan pupuk yang tergabung dalam divisi fertilizer. Di sini Moko bersama sejumlah mitra koperasi yang berjumlah 200 orang memanfaatkan kotoran padat dan cair yang berasal dari sapi untuk diubah menjadi kompos dan bio gas.

“Ada lima produk turunan fertilizer, satu kompos dari kotoran padat, dua kompos dari kotoran cair, tiga bio gas yang berasal dari kotoran sapi yang masuk reaktor, empat humus dari sisa pakan sapi dan lima adalah kompos dicampur dengan baglog akan menghasilkan cacing merah serta kascing yang kaya kalium dan fosfor,” terang Moko kepada KBK di peternakannya (23/1).

Kegiatan ke empat yakni industri pembuatan pakan ternak. Hingga kini Moko mengaku telah sanggup membuat pakan untuk 1500 ekor sapi. Berikutnya kegiatan agriculture dan terakhir Educulturizm yang berkaitan dengan edukasi mengenai peternakan, pertanian, perikanan serta pembuatan pupuk dan disinfektan ramah tanaman.

“Jadi intinya Lembah Kamuning itu bukan sebuah peternakan dan pertanian yang besar. Tetapi merupakan sebuah balai penelitian yang telah menelurkan sejumlah terobosan bagi para petani dan peternak untuk meningkatkan serta memperbaiki hasil komoditi agar tidak selalu dipermainkan oleh tengkulak. Kami membuka diri bagi siapa pun yang ingin belajar di sini,” jelas Moko yang kini telah memiliki sebuah pabrik pengelolaan susu di Padalarang.

Advertisement