BANTEN – Kesedihan terlihat jelas dari raut wajah Samaun, 65 tahun. Kini, pria yang sejak lama menduda ini harus merasakan derita tumor mata seorang diri. Penyakit itu baru ia rasakan setahun setelah istrinya wafat.
Samaun menuturkan, awalnya ia tidak memperdulikan sakit mata sebelah kanannya. Meskipun kondisi itu menimpa dirinya jauh sebelum istrinya wafat.
“Mata saya sakit sejak istri saya masih ada, cuman karena waktu itu saya lebih memperhatikan istri yang sakit-sakitan, akhirnya penyakit saya sendiri tidak terkontrol,” terang Samaun saat ditemui dikediamannya Kp. Jaura RT 03 RW 02, Desa Rangkas Bitung Timur, Kecamatan Rangkas Bitung, Kabupaten Lebak-Banten
Suatu ketika ia sedang bekerja sebagai kuli bangunan membuat gorong-gorong jalan, di sepanjang jalan raya Rangkas Bitung-Banten. Saat itu dirinya berusaha membelah batu dengan palu yang di genggamnya, tidak disangka pecahan batu tersebut mengenai mata kanannya, Samaun pun pingsan, ia dilarikan ke Puskesmas terdekat oleh teman-temannya.
“Habis diobati di Puskesmas, saya tidak mengobati kemana-mana lagi, karena saya gak ada dana,” ujar Samaun, saat di Jemput Tim Respon Darurat Kesehatan (RDK) LKC Dompet Dhuafa untuk mendapatkan perawatan lanjutan, pada Selasa (5/1/2016) lalu.
Saat dirinya butuh dana untuk perawatan penyakitnya, bersamaan dengan itu istrinya pun jatuh sakit dan memerlukan perawatan medis yang intensif. Karena rasa sayangnya begitu besar pada isteri, Samaun mengalah, ia lebih mengutamakan perawatan istrinya ketimbang mengobati matanya.
Katika ia fokus memikirkan pengobatan istrinya itu, tidak disadarinya luka di matanya itu sudah berubah menjadi tumor dan kian hari bengkaknya semakin membesar.
“Istri saya kena Diabetes dan saya berusaha mencari obat untuknya, sampai akhirnya dia meninggal tahun 2007. Barulah satu tahun setelah isteri saya meninggal saya mulai peduli dengan penyakit saya,” tuturnya.
Namun apa dikata, bengkak di matanya terus membesar. Sempat Samaun membawa berobat ke Rumah Sakit Cicendo – Bandung untuk mendapatkan pengobatan intensif. Kala itu ia meski menjalani biopsi selama dua kali.
“Waktu itu saya pake SKTM dan limit dana di SKTM sudah habis, jadi pengobatan kembali terputus,” kata kakek dua cucu ini.
Kini ia berobat dengan menggunakan Kartu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS. Kali ini, ia berharap penyakit tumor di matanya dapat penanganan sampai tuntas.
Meski ia sudah punya kartu BPJS, untuk mengobati matanya di RSCM Jakarta, kebingungan lain berputar di kepalanya. Ia bingung tinggal di mana di Jakarta, karena kalau bolak-balik ke Rangkas sangat jauh sekali, apalagi penyakitnya perlu sering dikontrol ke dokter mata.
“Untung ada teman anak saya yang mendaftarkan ke LKC, sehingga saya juga dapat bantuan untuk bisa tinggal di shelternya Dompet Dhuafa,” kata Samaun haru.
Kini Samaun tidak bingung lagi dan berharap penyakitnya segera diangkat Yang Maha Kuasa. -GM/MJ/LKC





