Sayur Lodeh Katering Haji?

Kesibukan petugas katering haji di Mekah. Sampai ketiduran, menu bisa terancam basi.

GARA-gara sajikan menu basi untuk jemaah haji, perusahaan katering PT Bahar Harr terancam pembatalan izinnya. Usut punya usut, semuanya bisa terjadi akibat petugas masak ketiduran, sehingga menu yang “kejar tayang” itu menjadi basi lebih cepat. Sebetulnya ada menu yang tahan basi, yang makin lama justru menjadi makin nikmat, yakni sayur lodeh. Tapi persoalannya kemudian, mana mungkin jemaah haji diberi menu sayur lodeh? Itu namanya: ndeso!

Perusahaan katering PT Bahar Harr, mendapat tegoran keras PPIH (Panitia Penyelenggara Ibadah Haji). Sebab kemarin diketahui nyaris menyajikan menu basi untuk jemaah haji di Madinah. Untung sebelum dibagikan, sudah diperiksa petugas lebih dulu, sehingga diketahui ada 3.400 porsi yang tidak layak santap. Perusahaan katering sampai terancam kontraknya, gara-gara petugas masaknya ketiduran. Demi “kejar tayang”, masakan yang panas itu langsung dimaksukkan boks dan dikemas di ruang tertutup. Hanya dalam tempo beberapa jam langsung sayup kata orang Jawa.

Bagi kalangan mahasiswa miskin tahun 1970-an, yang kuliah di perguruan tinggi Yogyakarta maupun Surakarta pastilah tahu apa itu menu sayur lodeh. Menu Jawa yang merupakan turunan sayur asem Betawi itu, rasanya cukup lezat buat pengantar makan. Sayur ini makin dipanaskan (diangetkan) semakin lezat. Dia bisa bertahan sampai 3 hari dan semakin enak. Tapi mana mungkin menu sayur lodeh masuk katering haji? Di samping aneh dan nyleneh, pasti dibilang: ndeso!

Jemaah haji Indonesia masak sendiri di Mekah-Madinah, sebetulnya sudah menjadi tradisi lama, ini terutama dilakukan jemaah pahe alias (paket hemat) karena dana terbatas. Mereka di pemondokan masak bersama. Biaya makan model demikian bisa jauh lebih menghemat. Bila dengan jajan di warung makan yang bertebara di sana, sebulan bisa habis Rp 4,5 juta. Tapi dengan masak bersama cukup dengan anggaran Rp 1,5 juta.

Akibat tradisi ini, sering terjadi kebakaran di pemondokan. Maka sejak musim haji 2014, pemerintah Arab Saudi melarang jemaah dari negeri manapun masak di pemondokan. Waktu itu hanya jemaah Indonesia dari DKI yang makannya dijamin panitia. Tapi sehubungan dengan aturan Arab Saudi, sejak itu jemaah haji Indonesia dilayani katering. Menu makannya pun kelas pengguna ONH Plus.

Tapi perusahaan katering tidak semuanya profesional. Seperti PT Bahar Harr di atas itu contohnya, hampir saja bubar gara-gara petugas masak ketiduran. Pada musim haji 2015 misalnya, katering Al Aliyah dicabut izinnya gara-gara tidak beres melayani jemaah haji. Untuk meningkatkan pelayanan, kini Kemenag menggandeng 58 perusahaan katering agar jemaah tidak sampai terlantar hanya karena urusan makan. Padahal jika sudah urusan lapar, jemaah haji bisa tidak fokus lagi beribadah.

Yang menyebabkan ada perusahaan katering berani main-main dengan pelayanan jemaah, mungkin karena mereka yakin bahawa jemaah haji itu merupakan orang-orang yang paling sabar di muka bumi. Sebab setiap ada gangguan dan hambatan dalam prosesi haji, mereka selalu berpasrah diri, “Sabar ini cobaan dari Allah.” Hadits Nabi juga mengatakan: Allah selalu bersama orang sabar.

Pada musim haji 2001, jemaah ONH Plus Al Kautsar dari Jakarta benar-benar teruji kesabarannya. Saat berangkat dengan pesawat Garuda berbadan lebar. Sebagai santapan malam kala itu diberi menu tambahan sup makaroni. Entah sudah basi atau bagaimana, setibanya di bandara Jedah sejumlah jemaah mencret-mencret. Walhasil, sebelum menjadi haji mabrur, sejumlah jemaah sudah jadi haji mabyur (mencret) duluan. Karena sabar, para jemaah pun sama sekali tak protes ke panitia maupun Garuda. (Cantrik Metaram)

Advertisement