JAKARTA (KBK) – Indri Yanawati (36) baru saja melepas lelah setelah pulang dari pasar. Setelah meletakan belanjaan Indri bergegas menuju kamar. Sambil duduk bersila di atas kasur tipis yang sudah mulai kusam ia melipat baju yang tercecer di lantai.
Selain untuk rehat, ruang kamarnya yang terletak di belakang rumah juga berfungsi sebagai tempat mengumbar canda dengan buah hatinya yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Mulai dari televisi, radio mini hingga dispenser non listrik memenuhi kamar. Sementara ruang depannya berfungsi sebagai dapur.
Sejak dua hari lalu, Indri tak lagi menempati bedeng reot. Berkat perjuangannya, ia bersama puluhan warga Kampung Akuarium, Penjaringan, Jakarta Utara kini kembali memiliki tempat tinggal layak huni di shelter yang didirikan oleh Pemda DKI Jakarta.
Di shelter A nomor A7 seluas 3,5 X 6 meter itu Indri tinggal bersama ibu dan kedua anaknya. Sedangkan sang suami dikatakan Indri jarang pulang karena bekerja sebagai anak buah kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa.
Meski masih berupa shelter namun fisik bangunan tampak kokoh, lantai berupa coran, dinding dilapisi triplek dengan rangka dan kuda-kuda menggunakan baja ringan. Indri juga tak perlu khawatir lagi tempat tinggalnya bocor karena ‘istana mininya’ telah dipayungi oleh spandek, genting bermaterial aluminium. Satu shelter terdiri dari dua ruangan.
“Hanya listrik saja yang belum tersambung. Dari kemarin saya hanya menggunakan genset,” ucap Indri kepada KBK (19/2).
“Katanya sih hari ini mau dipasangi meteran, pasangnya gratis tapi nanti per bulannya kami yang beli vocher,” tambahnya.
Umiyati Amuji (60) Ibunda Indri menuturkan sejak tinggal di Kampung Akuarium tahun 1996, baru kali ini ia merasakan kebahagian karena merasa diperhatikan oleh pemrintah. Sebagai rakyat kecil ia berharap supaya shelter tersebut bisa menaungi keluarganya hingga rumah yang dijanjikan pemeritah terbangun. Berdasarkan kebijakan Pemda DKI warga Kampung Akuarium untuk sementara menempati shelter sampai hunian untuk mereka terbangun di atas tanah yang sama.
Namun sejak tinggal di shelter Umiyati dan Indri mengaku tak bisa bebas melakukan rutinitasnya.
“Untuk sehari-hari biasanya saya jualan jengkol dan kikil di Pasar Pademangan. Dari mentah jengkolnya kami rebus baru dijual. Tapi sejak di shelter kami nggak bisa karena aromanya mengganggu tetangga. jadi omset turun deh,” ujar Umiyati mengeluh.
Di luar itu belum tersedianya kamar mandi juga turut menyulitkan Indri dan Umiyati. Untuk kebutuhan kakus Indri mesti menimba air bersih dari sumur yang dibuatkan oleh NGO. Air tersebut lantas Indri salurkan melalui selang ke rumahnya yang berjarak 300 meter.
“Yang susah itu kalau mau buang air karena saya mesti bawa ember ke MCK yang ada di depan,” ucap Umiyati sambil menunjuk MCK yang berjarak 100 meter dari shelternya.
“Kemaren dapat kabar katanya mau dibikinin 16 bilik MCK tapi belum jadi. Sekarang kami warga shlter Blok A yang berjumlah 32 KK masih andalkan dua MCk saja,” tuturnya.





