BANGLADESH – Hari ini genap satu bulan sudah krisis Rohingya dimulai sejak 25 Agustus lalu kekerasan terjadi di Rakhine terhadap muslim Rohingya dengan diawali serangan Arsa yang memicu kekerasan militer.
Meski sudah satu bulan lamanya, dan lebih dari 43.000 pengungsi sudah tiba di Bangladesh, kini ratusan orang pengungsi masih terus melintasi perbatasan ke Bangladesh .
Masuknya pengungsi menambah sekitar 300.000 Rohingya yang sudah berada di kamp-kamp di sekitar kota Cox’s Bazar di Bangladesh.
Perdana Menteri Sheikh Hasina telah mendapat pujian karena membuka perbatasan menuju arus kemanusiaan yang menyedihkan, namun, para diplomat dan ahli mengatakan, dia tidak dapat mengharapkan banyak bantuan internasional dalam kampanye keduanya.
Dan, mereka memperingatkan, sambutan hangat Bangladesh sejauh ini bisa dengan mudah mendingin jika solusi tidak ditemukan.
“Bangladesh tidak dapat menghadapi krisis ini sendirian,” kata Champa Patel, kepala Program Asia di lembaga urusan internasional Chatham House di London, kepada kantor berita AFP.
“Ini padat penduduknya, miskin dan sudah menjadi tempat komunitas Rohingya yang tergabung secara historis. Meski saat ini ramah, ini bisa berubah jika situasinya menjadi berlarut-larut tanpa akhir yang jelas terlihat.” ujarnya.
“Kekurangan sanitasi dasar berarti risiko penyakit yang selalu ada, dan usaha bantuan baru mulai memenuhi kebutuhan mereka,” kata Jonah Hull dari Al Jazeera, melaporkan dari Cox’s Bazar, dekat perbatasan Bangladesh dengan Myanmar.
Negara tersebut telah bereaksi dengan belas kasihan terhadap kisah perkosaan dan pembunuhan mengerikan yang dibawa oleh para pengungsi. Sejumlah truk yang membawa bantuan yang disumbangkan oleh masyarakat tiba setiap hari di Cox’s Bazar. Tapi itu tidak cukup.
Kepala badan pengungsi PBB telah memperingatkan bahwa krisis mungkin akan berlangsung lama.
“Kita harus siap menghadapi masalah yang bisa berlangsung untuk beberapa lama,” kata Fillipe Grande, kepala UNHCR. “Tapi kita juga butuh, seperti yang dikatakan perdana menteri Bangladesh beberapa kali, yakni sebuah solusi.”
“Kita tidak bisa mengabaikan bahwa orang-orang ini memiliki hak untuk kembali.” ujarnya.
Di Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu, Hasina meminta bantuan global untuk memecahkan masalah Rohingya, yang tidak diberi kewarganegaraan oleh penolakan Myanmar untuk memberi mereka kewarganegaraan.
Dia menyerukan pembentukan zona aman bagi Rohingya, namun Myanmar belum menanggapinya hingga kini.





