Sejarah dan Keunikan Tari Pendet Pasepan, Maskot Desa Pakraman Batununggul

Tari Pendet Pasepan saat pentas di Pura Dalem, Desa Pakraman Dalem Setra Batununggul, Nusa Penida, Klungkung, Rabu (16/11/2023). (Foto: Ist)

KLUNGKUNG – Tarian sakral yang terkenal, Pendet Pasepan, merupakan bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Desa Pakraman Batununggul, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.

Tarian ini menggabungkan gerak rejang dewa dengan irama tari, menciptakan harmoni antara gerakan tradisional dan inovatif dalam tari Pendet. Gerakan Pasepan ini, yang diulang dengan tempo gamelan pelan, menjadi kombinasi elegan dari gerakan asal dan gerakan baru dalam seni tari Pendet.

Luh Widarti, pencipta tari Pendet Pasepan, menjelaskan bahwa karyanya ini berada di antara yang sakral dan profan, merangkul makna suci dan keumuman. Persembahan pertama tarian ini terjadi dalam upacara keagamaan di Banjar Mentigi, Desa Pakraman Batununggul pada 2017.

Sejak itu, tarian ini semakin populer dalam berbagai acara keagamaan, seperti piodalan (selamatan pura) dan tradisi “ngaturang pekelem” yang membuka Festival Nusa Penida setiap tahunnya.

Pendet Pasepan juga sering ditampilkan dalam prosesi “mesucian” atau “pemelastian” sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta penyucian jagat alit (buana alit) dan jagat agung (buana agung) dalam kepercayaan Hindu di Bali.

Tari Pendet Pasepan merupakan tarian penyambutan yang sarat nilai kesakralan, diiringi oleh “pasepan” yang dibawa oleh penarinya. Dalam semangat kegembiraan, para penari Pendet Pasepan mengenakan pakaian putih kuning, seperti kebaya putih dan kamben kuning, dilengkapi dengan selendang kuning.

Warna putih melambangkan Dewa Iswara yang melindungi arah timur, sedangkan kuning adalah simbol Dewa Mahadewa penguasa arah barat menurut kepercayaan Hindu.

Berbeda dari tari Pendet umumnya, Pendet Pasepan memperlihatkan konsep properti yang unik. Para penari membawa “pasepan” atau tungku bara api sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Properti ini dipegang di tangan kanan penari dan menjadi bagian integral dari gerakan tarian.

Meskipun “pasepan” biasanya adalah nyala bara kayu di atas wadah kecil, konsepnya dalam tarian ini berbeda. Sebagai elemen properti dan penambah tarian, “pasepan” Pendet ini berisi tiga canang sari dan dupa. Selama tarian, tiga dupa yang tertancap di “pasepan” dinyalakan, menyebar aroma wangi sepanjang pertunjukan.

Penggunaan “pasepan” menegaskan bahwa tarian ini simbolis dalam menyambut rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala anugerah yang diterima.

Maskot Desa 

Luh Widarti menjelaskan bahwa awalnya pertunjukan ini hanya terbatas di Desa Mentigi sebagai bagian dari upacara keagamaan. Sekarang, Pendet Pasepan diakui sebagai maskot resmi Desa Pakraman Batununggul.

Pengakuan ini melibatkan serangkaian prosesi keagamaan yang disebut “pasupati,” sebuah ritual sakral dalam keyakinan Hindu Bali untuk memohon kekuatan magis pada benda atau budaya tertentu kepada Sanghyang Pasupati.

Setelah diresmikan sebagai maskot, tarian ini hanya dapat dipertunjukkan di Desa Pakraman Batununggul, melibatkan penari dari lima banjar adat: Banjar Mentigi, Sampalan, Geria Tengah, Batununggul, dan Banjar Tainbesi.

Pendet Pasepan tidak hanya memprioritaskan ragam gerak, tetapi juga mengedepankan prinsip kolaborasi dengan melibatkan penari dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Para penari bersifat sukarela atau “ngayah,” mencerminkan nilai-nilai Tri Hita Karana.

Durasi pertunjukan ini terbatas hingga 5 menit, diiringi oleh terompong dalam gamelan khas Bali. Koordinator dan pencetus Pendet Pasepan, Luh Widarti, berharap agar tarian ini semakin diterima dan diakui oleh masyarakat umum.

Melalui Pendet Pasepan, unsur budaya, magis, dan pariwisata diharapkan menjadi pilar kuat dalam mempromosikan daya tarik Pulau Bali, khususnya melalui Desa Pakraman Batununggul di Nusa Penida, Klungkung.

Sumber: Antara

Advertisement