JAKARTA (KBK)—Siapa sangka ternyata Indonesia dan Amerika memiliki ikatan sejarah yang cukup tua. Tiga setengah abad silam, pernah terjadi tukar guling antara Pulau Run yang berada di Kepulauan Banda, Maluku Tengah dengan Manhattan di Amerika Serikat.
Ruislag dua pulau yang sama-sama wilayah jajahan ini terjadi pada abad ke-17 antara Belanda dan Inggris. Sejarah bermula ketika tahun 1603, Belanda memasuki pulau Run dan membeli rempah pala. Saat itu, pulau Run memang satu-satunya daerah yang memiliki pohon pala (Myristica fragans). Inggris yang dipimpin Nathaniel Courthope, kemudian masuk juga ke pulau ini pada tahun 1616. Mereka melakukan kontrak dengan penduduk setempat, yang salah satu sisinya mengakui kedaulatan Raja Inggris. Belanda tidak terima sehingga mengepung pulau tersebut hingga pada tahun 1620. Inggris menyerah dan meninggalkan pulau Run.
Perebutan pulau ini terus berlangsung hingga tahun 1667, hingga akhirnya kedua negara menyepakati Perjanjian Breda (Treaty of Breda). Perjanjian ini berisi tentang penyerahan pulau Run kepada Belanda. Kompensasinya, pulau Manhattan diserahkan kepada Inggris.
Untuk memperingati 350 tahun perjanjian ini, Prof. Ronald Jenkins dari Wesleyan University, Amerika Serikat berinisiatif menggelar pementasan teater. Rencananya, gelaran tersebut dilaksanakan pada 21 April di Universitas Wesleyan. “Ini adalah informasi yang sangat penting dan dapat mengubah sejarah dunia,” ujar Jenkins ketika menerima sejumlah wartawan di Jakarta, Senin (16/1) kemarin.
Pementasan ini menurut Ronald memiliki arti penting bagi hubungan kedua negara, Amerika dan Indonesia. Terlebih, AS akan memiliki presiden baru yang terkenal sangat “alergi” dengan Islam. Di saat yang bersamaan, Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. “Ya, teater ini bisa menjadi salah satu diplomasi kebudayaan,” tambahnya.
Selain itu, pementasan teater ini juga menjadi penting mengingat penduduk pulau Run masih hidup kurang sejahtera. Padahal, dahulunya mereka memiliki aset yang direbutkan kedua negara kolonial terbesar. “Kita tidak ingin mereka (penduduk pulau Run) dilupakan,” tegasnya.
Ronald menceritakan bagaiamana awal mula ide pementasan ini muncul. Saat ia mengunjungi Bali dua tahun lalu ia bertemu dengan seniman Bali bernama Made Wianta. Saat Made mengetahui Ronald berasal dari Manhattan, ia pun menceritakan sejarah pulau Run. Penasaran dengan cerita Made, ia pun mengunjungi pulau ini dan melakukan riset. “Saya ke sana tiga kali untuk riset,” tuturnya.
Seorang kakek tua yang usianya lebih dari 80 tahun namun masih gigih dan kuat memanjat pohon pala juga menjadi inspirasi bagi Ronald dalam mementaskan teater ini. Ia juga mempelajari semua bacaan, termasuk buku sejarah dan novel. Dari sini, pria yang juga menjadi professor tamu di Yale University ini pun dipertemukan dengan Hanna Rambe yang menulis novel Aimuna dan Sobori, sebuah kisah roman yang berlatar pulau Banda.
Hanna juga diundang ke acara ini dan akan memerankan salah satu karakter. Selain itu, Ronald yang menjadi pengarah (director) langsung, akan menyuguhkan karekater lain seperti prajurit Belanda yang mengaku menyesal telah menindas warga pribumi, petani tua yang setia merawat tanaman pala, juga pohon pala yang akan mengisahkan sejarah dari sudut pandang tersendiri. Uniknya, teater ini akan dinarasikan oleh “hantu” bernama Enrique. Ia adalah warga pribumi bernama asli Panglima Awang, budak Fernando de Magelhaens, seorang petualang Portugis.
Jalan Run
Melalui teater dokumenter ini, Ronald kembali menegaskan akan pentingnya mengungkap sejarah yang selama ini hampir terlupakan. Menurutnya, tidak banyak warga Amerika yang tahu tentang sejarah ini.
“Ide besarnya (dari pementasan ini) adalah membuat orang-orang mengenalkan sejarah yang tidak mereka ketahui, yang tidak mereka dengar,,” ujar Jenkins.
Namun, ada misi yang cukup unik yang disampaikan Ronald terkait dengan pementasan teater ini. Ia ingin, Pemerintah Kota New York, kota besar yang berada di pulau Manhattan, untuk membuat Jalan Run. Pasalnya, kata Ronald, di Pulau Run kita bisa menemukan Jalan Manhattan. “Saya berharap mereka bisa membuat Jalan Run,” tukasnya.
Wartawan senior, Parni Hadi, yang menginisiasi pertemuan Ronald Jenkins dengan sejumlah wartawan mengatakan, pengungkapan sejarah Pulau Run-Manhattan melalui teater ini sangat penting untuk membangun jembatan komunikasi antara kedua negara. Diplomasi melalui kebudayaan, dinilainya juga memiliki peranan yang sangat efektif. Ia berencana, pementasan dengan latar serupa juga akan digelar di Indonesia pertengahan tahun mendatang. “Kita akan melibatkan duta besar Belanda, duta besar Inggris dan pejabat Kementerian Luar Negeri,” tukasnya.





